Andi Nuzul Akbar, S.Sos., M.M (Dosen Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNM)

I La Galigo merupakan salah satu bukti paling penting bahwa masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis, telah memiliki tradisi literasi yang maju sejak masa lampau. Literasi dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan masyarakat dalam menyimpan pengetahuan, merawat ingatan kolektif, menyusun cerita besar tentang asal-usul manusia, serta mewariskan nilai, norma, dan pandangan hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam sejarah kebudayaan Bugis, I La Galigo menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar cerita rakyat, melainkan sebuah karya sastra epik yang memuat mitologi, kosmologi, silsilah, nilai sosial, dan gambaran kehidupan masyarakat Bugis masa awal. Komite Nasional Memory of the World Indonesia menjelaskan bahwa La Galigo adalah karya sastra epik etnik Bugis dari Sulawesi Selatan, ditulis dalam bahasa dan aksara Bugis, dan dikenal pula dengan nama Sureq Galigo. Karya ini sudah ada sejak tradisi lisan pra-Islam, dan memiliki sifat epik-mitologis dengan kualitas sastra yang tinggi.

Keberadaan I La Galigo menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan telah mengenal tradisi intelektual yang kompleks. Sebelum pengetahuan ditulis dalam bentuk naskah, masyarakat Bugis telah memiliki tradisi lisan yang kuat. Cerita, nasihat, sejarah keluarga, mitologi, dan nilai sosial diwariskan melalui tuturan, nyanyian, dan pembacaan ritual. Tradisi lisan ini kemudian berkembang menjadi tradisi tulis ketika masyarakat Bugis menggunakan aksara Bugis atau aksara Lontara untuk mencatat pengetahuan tersebut. Dalam dokumen nominasi UNESCO, La Galigo disebut sebagai karya berbahasa Bugis yang sebagian besar masih berada dalam bentuk tulisan tangan dengan aksara Bugis asli.

Hal ini penting karena perkembangan literasi suatu masyarakat tidak selalu dimulai dari sekolah formal seperti yang dikenal saat ini. Pada masa lampau, literasi tumbuh dari kebutuhan masyarakat untuk mengingat, mencatat, menafsirkan, dan mewariskan pengetahuan. I La Galigo menjadi bukti bahwa masyarakat Bugis telah memiliki kemampuan untuk menyusun narasi panjang, menggunakan bahasa puitis, mengembangkan aksara, serta menjaga kesinambungan pengetahuan melalui naskah. Dengan demikian, jejak literasi masa lampau di Sulawesi Selatan tidak dapat dianggap sederhana atau tertinggal. Sebaliknya, ia menunjukkan adanya peradaban besar karena memiliki bahasa, aksara, dan petuah (nasehat).

Isi I La Galigo memperlihatkan keluasan imajinasi dan pengetahuan masyarakat Bugis. Karya ini mengisahkan asal-usul masyarakat Bugis melalui cerita Batara Guru yang turun dari dunia atas. Kisah tersebut kemudian berlanjut pada tokoh-tokoh penting seperti Sawérigading dan putranya, La Galigo. Melalui tokoh-tokoh tersebut, masyarakat Bugis membangun pemahaman tentang dunia, manusia, kepemimpinan, hubungan antarkeluarga, perjalanan, keberanian, kehormatan, dan tatanan sosial. Dengan kata lain, I La Galigo tidak hanya menyimpan cerita, tetapi juga menyimpan sistem nilai.

Dari sisi bentuk, I La Galigo memperlihatkan tingkat literasi sastra yang tinggi. Teks ini disusun sebagai puisi dengan metrum yang ketat, menggunakan kosakata Bugis khusus, dan memiliki bahasa yang dianggap indah sekaligus sulit. Komite Nasional Memory of the World Indonesia mencatat bahwa teks La Galigo merupakan teks puitis dengan metrum ketat dan kosakata Bugis khusus. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis masa lampau tidak hanya menulis untuk mencatat informasi, tetapi juga memiliki kesadaran estetika dalam berbahasa. Mereka mampu mengolah bahasa menjadi karya sastra yang indah, teratur, dan bernilai tinggi.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah penyalinan I La Galigo adalah Colliq Pujié atau Arung Pancana Toa, seorang perempuan bangsawan Bugis dari Tanete. Sebagian naskah La Galigo masih bertebaran di jazirah Sulawesi Selatan dan tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden terdiri atas dua belas volume, berisi fragmen terpanjang yang diketahui, yaitu 2.851 halaman folio, dan mencakup sekitar sepertiga bagian pertama dari keseluruhan karya. Naskah ini berasal dari pertengahan abad ke-19 dan ditulis oleh Colliq Pujié, yang juga dikenal sebagai kolaborator penting B.F. Matthes dalam studi Bugis.

Fakta keterlibatan Colliq Pujié sangat penting dalam membaca sejarah literasi Sulawesi Selatan. Ia menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki peran dalam dunia intelektual, penyalinan naskah, dan pelestarian pengetahuan. Dalam sejarah yang sering kali lebih banyak menonjolkan tokoh laki-laki, keberadaan Colliq Pujié menjadi bukti bahwa tradisi literasi Bugis melibatkan peran perempuan sebagai penjaga, penulis, dan penghubung pengetahuan.

I La Galigo juga menjadi bukti bahwa literasi masa lampau di Sulawesi Selatan tidak terpisah dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Kisah mitologis yang berkaitan dengan asal-usul manusia, dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Meskipun bersifat mitologis, teks ini tetap memiliki nilai historis dan antropologis karena memperlihatkan cara masyarakat Bugis masa lampau memahami dunia. Melalui I La Galigo, dapat dilihat bahwa masyarakat Bugis telah memiliki cara berpikir simbolik, sistem kepercayaan, konsep kepemimpinan, dan aturan sosial yang diwariskan melalui narasi.

Dalam perkembangan modern, I La Galigo juga telah memasuki tahap pelestarian digital. Melalui digitalisasi, I La Galigo tidak lagi hanya dapat diakses oleh kalangan terbatas. Mahasiswa, peneliti, guru, budayawan, dan masyarakat umum dapat mempelajarinya sebagai sumber pengetahuan. Hal ini penting karena salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian naskah lama adalah berkurangnya kemampuan membaca aksara Bugis dan memahami bahasa Bugis kuno. Dokumen nominasi UNESCO bahkan menyebut bahwa ancaman utama terhadap pemahaman La Galigo adalah hilangnya pengetahuan tentang aksara Bugis dan bahasa yang digunakan dalam teks tersebut.

I La Galigo tidak hanya penting sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat bagi generasi sekarang. Jika masyarakat Sulawesi Selatan pada masa lampau telah mampu membangun tradisi literasi yang begitu tinggi, maka generasi masa kini seharusnya dapat menjadikannya sebagai inspirasi untuk memperkuat budaya baca, tulis, penelitian, dan pelestarian bahasa daerah. I La Galigo membuktikan bahwa literasi bukan sesuatu yang asing dalam sejarah Sulawesi Selatan. Literasi justru telah menjadi bagian dari akar kebudayaan masyarakat Bugis.

Dalam konteks pendidikan, I La Galigo dapat dijadikan sumber pembelajaran lintas bidang. Di bidang sastra, ia menunjukkan keindahan bahasa dan struktur puisi Bugis. Di bidang sejarah, ia memberikan gambaran tentang memori kolektif masyarakat Sulawesi Selatan. Di bidang antropologi, ia memperlihatkan sistem kepercayaan, nilai, dan tatanan sosial masyarakat Bugis. Di bidang pendidikan karakter, ia menyimpan nilai keberanian, tanggung jawab, kehormatan, dan hubungan manusia dengan alam serta masyarakat. Dengan demikian, I La Galigo dapat menjadi bahan penguatan literasi lokal yang sangat kaya.

Lebih jauh, I La Galigo juga dapat digunakan untuk membangun kesadaran identitas. Mahasiswa dan generasi muda Sulawesi Selatan perlu memahami bahwa daerahnya memiliki sejarah literasi yang panjang. Kesadaran ini penting agar generasi muda tidak memandang literasi hanya sebagai tuntutan akademik modern, tetapi sebagai kelanjutan dari tradisi intelektual leluhur. Membaca dan menulis bukan sekadar tugas sekolah atau kuliah, melainkan bagian dari cara masyarakat menjaga martabat, ingatan, dan peradaban.

Pada akhirnya, I La Galigo adalah bukti nyata perkembangan literasi masa lampau di Sulawesi Selatan. Ia menunjukkan adanya tradisi lisan yang kuat, kemampuan menulis dengan aksara Bugis, keterampilan menyusun karya sastra besar, budaya penyalinan naskah, peran intelektual perempuan, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga pengetahuan. Keberadaannya membantah anggapan bahwa masyarakat masa lampau di Sulawesi Selatan tidak memiliki tradisi literasi yang maju. Sebaliknya, I La Galigo memperlihatkan bahwa literasi telah menjadi bagian penting dari kehidupan budaya Bugis sejak berabad-abad lalu.

Dengan demikian, I La Galigo perlu ditempatkan bukan hanya sebagai warisan sastra, tetapi juga sebagai simbol kecerdasan budaya Sulawesi Selatan. Ia adalah bukti bahwa masyarakat Bugis telah mengenal tradisi membaca, menulis, menafsirkan, dan mewariskan pengetahuan jauh sebelum era pendidikan modern. Melalui pelestarian, penelitian, pembelajaran, dan digitalisasi, I La Galigo dapat terus menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan literasi Sulawesi Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *