Oleh: Sitti Hardiyanti Arhas
Industri skincare modern terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai produk perawatan wajah bermunculan dengan klaim mampu mencerahkan kulit, mengurangi jerawat, hingga memperlambat tanda penuaan. Tren tersebut juga semakin populer melalui media sosial yang membuat masyarakat, khususnya perempuan muda, semakin akrab dengan rutinitas perawatan kulit berlapis atau skincare routine.
Di balik maraknya produk modern itu, masyarakat Indonesia sebenarnya telah lama mengenal perawatan wajah berbasis bahan alami. Salah satunya berasal dari tradisi perempuan Bugis Makassar melalui penggunaan bedak pica, bedak herbal tradisional yang dahulu digunakan sebelum hadirnya produk skincare seperti sekarang.
Bedak pica dibuat dari campuran bahan alami seperti beras, kunyit, temu giring, daun pandan, dan daun mangkokan yang memiliki aroma khas harum alami. Seluruh bahan ditumbuk hingga halus, lalu dibentuk dan dikeringkan sebelum digunakan sebagai bedak dingin tradisional.
Pada masa lalu, bedak pica menjadi bagian penting dari perawatan diri perempuan Bugis Makassar. Penggunaannya dipercaya membantu menjaga kulit wajah tetap segar di tengah cuaca panas tropis. Bedak ini biasanya dipakai pada malam hari atau sebelum beraktivitas di luar rumah.
Selain dikenal sebagai warisan budaya, bedak pica juga dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kulit wajah. Kandungan beras sering digunakan untuk membantu menghaluskan kulit dan menyerap minyak berlebih. Kunyit dikenal memiliki sifat alami yang membantu meredakan jerawat dan membuat warna kulit tampak lebih merata. Temu giring dipercaya membantu memberi efek segar pada wajah, sedangkan daun mangkokan dan pandan memberikan aroma alami yang menenangkan.
Cara penggunaannya pun cukup sederhana. Bedak yang telah kering dibasahi sedikit menggunakan air, kemudian dioleskan tipis ke wajah seperti masker alami. Setelah kering, wajah dibilas hingga bersih.
Dalam budaya Bugis Makassar, penggunaan bedak pica tidak hanya berkaitan dengan kecantikan, tetapi juga bagian dari tradisi perawatan perempuan sejak remaja. Bahkan, ramuan ini sering digunakan dalam perawatan calon pengantin sebagai simbol perawatan diri secara alami dan tradisional.
Seiring berkembangnya industri kecantikan modern, penggunaan bedak pica sempat mulai jarang ditemukan. Meski demikian, tren kembali ke produk herbal dan alami membuat ramuan tradisional ini kembali diperbincangkan oleh masyarakat.
Kini, beberapa pelaku usaha lokal mulai mencoba mengembangkan bedak pica dalam kemasan modern tanpa meninggalkan bahan tradisionalnya. Langkah tersebut dinilai menjadi cara untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkan kembali pengetahuan lokal tentang kecantikan alami kepada generasi muda.
Bedak pica menjadi pengingat bahwa jauh sebelum istilah skincare populer seperti sekarang, masyarakat Bugis Makassar telah memiliki tradisi perawatan wajah berbasis herbal yang sederhana, alami, dan diwariskan lintas generasi.
