MAKASSAR – Lahan yang sebelumnya hanya dipenuhi semak belukar dan belum banyak memberikan manfaat kini berubah menjadi kawasan hijau yang produktif di tengah permukiman Kota Makassar yang dikenal dengan nama Urban Farming “Sipakatau” yang berada di RW 004 Kelurahan Maccini Parang, Kecamatan Makassar.
Nama “Sipakatau” sendiri diambil dari filosofi Bugis-Makassar yang berarti saling menghargai, saling memanusiakan, dan saling menguatkan yang dengan nilai tersebut menjadi dasar dalam pengelolaan Kawasan urban farming di RW 004 yang tujuannya agar warga terbiasa bermusyawarah dalam mengambil keputusan dan bekerja bersama dalam setiap kegiatan dan karena itu, keberhasilan Urban Farming Sipakatau dipandang sebagai hasil kerja bersama, bukan milik satu orang saja.
Urban Farming Sipakatau lahir dari semangat gotong royong dan kolaborasi masyarakat bersama berbagai pihak yang kehadirannya bukan hanya membuat lingkungan menjadi lebih hijau dan asri tetapi juga memberikan manfaat dalam bidang pangan, ekonomi, sosial, lingkungan, dan edukasi bagi warga. Berbeda dengan kebun perkotaan pada umumnya, Urban Farming Sipakatau dikembangkan sebagai kawasan ketahanan pangan terpadu yang di dalamnya terdapat berbagai tanaman hortikultura seperti cabai, lombok, bayam hijau, bayam merah, ubi atau singkong, kangkung, terong, tomat, tanaman obat keluarga (TOGA), dan berbagai jenis tanaman lainnya, selain itu kawasan urban farming ini juga dilengkapi kolam budidaya ikan gabus serta peternakan ayam pedaging.
Semua kegiatan tersebut dikelola dalam satu kawasan sehingga lahan yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal yang tujuannya bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan keluarga, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan membangun kemandirian masyarakat.
Gagasan pengembangan kawasan ini berawal dari kepedulian seluruh ketua RT bersama Ketua RW 004 Kelurahan Maccini Parang yang melihat adanya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal yang kemudian menggagas pemanfaatan lahan tersebut sebagai kawasan ketahanan pangan dan tentunya gagasan itu mendapat dukungan positif dari Pemerintah Kelurahan Maccini Parang dan mulai diwujudkan secara bertahap melalui kerja bakti serta partisipasi warga.
Salah satu hal yang menarik ialah penerapan konsep Integrated Urban Farming yang dari berbagai kegiatan di kawasan ini saling terhubung seperti penggunaan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah dan pemanfaatan air kolam sebagai sumber nutrisi alami bagi tanaman dan dengan cara tersebut, sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara lebih efisien sekaligus mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan. Kawasan ini juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi masyarakat serta anak-anak dapat mengenal kegiatan bercocok tanam sejak dini, generasi muda belajar tentang pertanian perkotaan yang ramah lingkungan, sementara ibu rumah tangga ikut terlibat dalam pemeliharaan tanaman dan pemanfaatan hasil panen untuk kebutuhan keluarga.
Perjalanan tersebut kemudian mencapai salah satu momentum penting melalui Panen Perdana pada Senin, 3 Agustus 2026 yang menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat diubah menjadi kawasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Sayuran, ikan gabus, dan hasil peternakan menjadi simbol dari kerja bersama RT/RW 004 serta warga selama beberapa bulan.
Kegiatan panen perdana juga menjadi ajang silaturahmi dan menunjukkan hasil kolaborasi masyarakat. Pemerintah Kecamatan Makassar hadir melalui Andi Bangsawan, Plt. Kepala Seksi Ekonomi, Pembangunan, dan Sosial (Ekbangsos) bersama staf kecamatan beserta dari Pemerintah Kelurahan Maccini Parang hadir juga Ilham Abdul Gani sebagai Kepala Seksi Kebersihan dan Pertamanan dan sejumlah staf kelurahan yang dengan kehadiran pemerintah menjadi bentuk dukungan terhadap inovasi RW 004 dalam memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan warga.
Ketua RW 004, Hasanuddin Bakaring menegaskan bahwa Urban Farming Sipakatau tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan sayuran, ikan, atau hasil peternakan dan program ini merupakan gerakan bersama untuk membangun kesadaran masyarakat agar lingkungan yang ada dapat dimanfaatkan secara produktif. Panen perdana justru menjadi awal untuk mengembangkan kawasan tersebut. Ke depan, akan dilakukan penambahan komoditas hortikultura, peningkatan budidaya perikanan dan peternakan ayam pedaging, serta penyediaan fasilitas edukasi bagi masyarakat dan pelajar.
Urban Farming Sipakatau juga diarahkan menjadi pusat edukasi ketahanan pangan berbasis masyarakat dan diharapkan dapat menjadi lokasi belajar bagi sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, maupun instansi pemerintah. Lebih jauh, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi model ketahanan pangan terpadu berbasis collaborative governance di Kota Makassar. Pengembangannya melibatkan masyarakat, pemerintah, legislatif, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dan dengan kolaborasi tersebut Urban Farming Sipakatau diharapkan terus tumbuh menjadi kawasan yang produktif, partisipatif, inklusif, dan berkelanjutan.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Penulis: Een Astari Ahmad, S.A.P.
(Ketua RT 005/RW 004 Maccini Parang)
