Antrean Truk Menuju Pelabuhan Ketapang Mengular 15 Kilometer, Sopir Terpaksa Menunggu Berjam-jam

Banyuwangi, Jawa Timur — 4 September 2026 — Arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih mengalami kepadatan parah. Antrean kendaraan, terutama truk logistik yang hendak menyeberang menuju Bali, dilaporkan mengular hingga sekitar 15 kilometer pada Jumat, 4 September 2026.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pengemudi harus menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Bahkan, beberapa sopir mengaku terpaksa bertahan di dalam kendaraan dan menunggu hingga lebih dari satu hari sebelum mendapatkan kesempatan masuk ke kawasan pelabuhan.

Kemacetan terjadi pada jalur Situbondo–Banyuwangi yang mengarah ke Pelabuhan Ketapang. Berdasarkan laporan di lapangan, ekor antrean kendaraan mencapai kawasan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Sementara kendaraan dari arah berlawanan menuju Situbondo masih dapat bergerak, meskipun berpotensi ikut tersendat apabila terjadi saling mendahului.

Truk Logistik Terjebak hingga Berhari-hari

Panjang antrean menjadi persoalan serius bagi pengemudi truk logistik. Kendaraan yang seharusnya segera masuk ke pelabuhan untuk menyeberang menuju Gilimanuk, Bali, justru harus menunggu dalam waktu yang jauh lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Sejumlah pengemudi bahkan menyebut waktu tunggu telah mencapai belasan hingga puluhan jam. Salah seorang sopir yang membawa muatan dari luar Jawa mengaku membutuhkan sekitar 16 jam hanya untuk mencapai area depan pelabuhan dari kawasan Bangsring.

Situasi tersebut tidak hanya menguras tenaga pengemudi, tetapi juga meningkatkan biaya operasional. Selama kendaraan tertahan, para sopir harus mengeluarkan tambahan biaya untuk makan, minum, bahan bakar, serta kebutuhan lainnya.

Bagi truk yang membawa bahan pangan atau barang yang memiliki batas waktu pengiriman, keterlambatan juga dapat menimbulkan persoalan tersendiri. Semakin lama kendaraan berada di jalan, semakin besar pula risiko distribusi barang mengalami keterlambatan.

Aksi Protes Sopir pada Kamis

Kemacetan yang berlangsung selama beberapa hari akhirnya memicu aksi spontan para sopir truk pada Kamis, 3 September 2026.

Puluhan hingga ratusan pengemudi berkumpul di sekitar pintu masuk Pelabuhan Ketapang. Mereka menyampaikan keluhan mengenai panjangnya antrean dan meminta adanya langkah nyata untuk mempercepat kendaraan masuk serta menyeberang ke Bali.

Dalam aksi tersebut, akses masuk pelabuhan sempat diblokir. Para sopir meninggalkan kendaraan yang masih berada dalam antrean dan berkumpul di depan pintu masuk. Mereka menilai kondisi yang berlangsung berhari-hari sudah memberikan dampak besar terhadap aktivitas pengiriman barang.

Salah satu tuntutan yang disampaikan pengemudi adalah penambahan kapasitas penyeberangan agar kendaraan yang telah lama menunggu dapat segera diberangkatkan. Mereka berharap antrean tidak terus berulang dan sistem pelayanan kendaraan logistik dapat berjalan lebih lancar.

Kemacetan Berkaitan dengan Kapasitas Penyeberangan

Persoalan antrean tidak hanya berkaitan dengan banyaknya kendaraan di jalan. Kondisi operasional penyeberangan Ketapang–Gilimanuk juga menjadi perhatian.

Salah satu laporan menyebut pekerjaan peningkatan kapasitas pada sejumlah fasilitas dermaga turut memengaruhi kelancaran operasional. Kondisi tersebut membuat kapasitas pelayanan belum dapat berjalan secara optimal sehingga penumpukan kendaraan semakin mudah terjadi ketika volume truk meningkat.

Di sisi lain, asosiasi pengusaha angkutan penyeberangan menilai jumlah kapal yang tersedia sebenarnya perlu dilihat bersamaan dengan kapasitas dermaga. Penguatan fasilitas dermaga dinilai penting agar kapal yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan proses bongkar-muat berlangsung lebih cepat.

Sopir dan Pengelola Pelabuhan Capai Kesepakatan

Setelah aksi berlangsung, perwakilan sopir kemudian melakukan pertemuan dengan pihak PT ASDP Indonesia Ferry, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta pihak terkait lainnya.

Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan untuk membantu mengurai kepadatan. Di antaranya adalah mengoptimalkan jumlah kapal yang beroperasi, mempercepat pelayanan kapal, serta mengatur distribusi kendaraan berdasarkan kapasitas dermaga.

Salah satu skema yang disepakati adalah pengaturan kendaraan berdasarkan berat muatan. Truk dengan muatan di bawah 30 ton dapat diarahkan menggunakan Dermaga Movable Bridge (MB), sedangkan kendaraan dengan muatan lebih dari 30 ton diarahkan melalui Dermaga LCM.

Selain itu, terdapat kesepakatan untuk mengoptimalkan perjalanan kapal dan menambah kapal yang menggunakan pola tiba-bongkar-muat (TBB). Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan perputaran kendaraan dan mengurangi waktu tunggu.

Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan

Untuk mencegah antrean semakin panjang, kepolisian juga melakukan rekayasa lalu lintas di sekitar jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan jalur lingkar bagi kendaraan yang memiliki tujuan ke wilayah Kota Banyuwangi sehingga kendaraan tersebut tidak ikut menambah antrean kendaraan yang akan menyeberang ke Bali.

Petugas juga melakukan pengawasan di sejumlah titik yang rawan terjadi konflik lalu lintas. Pengawasan diperlukan untuk mencegah pengemudi mengambil jalur berlawanan atau mendahului secara tidak teratur yang justru dapat membuat arus dari kedua arah semakin tersendat.

Sementara itu, bagi truk yang memang akan menyeberang ke Bali, antrean tetap harus diikuti sesuai pengaturan petugas di lapangan.

Distribusi Barang Ikut Terdampak

Panjang antrean kendaraan di jalur menuju Ketapang menjadi perhatian karena pelabuhan tersebut merupakan salah satu jalur penting distribusi barang dari Pulau Jawa menuju Bali.

Jika waktu tunggu kendaraan semakin panjang, dampaknya tidak hanya dirasakan pengemudi. Perusahaan logistik dapat mengalami peningkatan biaya operasional, sedangkan jadwal pengiriman barang ikut berubah.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat bagi pengemudi yang membawa muatan makanan atau barang yang membutuhkan pengiriman tepat waktu. Mereka harus mempertimbangkan kondisi muatan selama kendaraan tertahan dalam antrean.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

Karena itu, para sopir berharap penyelesaian persoalan tidak hanya bersifat sementara. Mereka meminta adanya pembenahan sistem pelayanan dan pengaturan arus kendaraan sehingga kepadatan serupa tidak kembali terjadi.

Hingga Jumat, 4 September 2026, antrean menuju Pelabuhan Ketapang masih menjadi perhatian. Dengan panjang kemacetan yang mencapai sekitar 15 kilometer, percepatan pelayanan penyeberangan dan penerapan pengaturan lalu lintas menjadi faktor penting untuk mengurangi penumpukan kendaraan serta mengembalikan distribusi logistik menuju Bali ke kondisi normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.