LAMPUNG SELATAN — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami rangkaian erupsi pada Jumat, 4 September 2026, hingga berlanjut memasuki Sabtu, 5 September 2026 dini hari. Aktivitas tersebut ditandai dengan beberapa kali letusan yang terekam instrumen pemantauan, kemunculan kolom abu vulkanik, hingga visual cahaya merah yang disebut sebagai lava pijar dalam sejumlah rekaman yang beredar.
Gunung Anak Krakatau yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, memang masih berada dalam kondisi aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai. Status gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pihak lain yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung diminta mematuhi zona keselamatan yang telah ditetapkan.
Peningkatan aktivitas pada Jumat pagi menjadi salah satu rangkaian penting dalam perkembangan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan pemantauan yang mengacu pada data Badan Geologi dan PVMBG, tiga erupsi pertama terjadi dalam rentang waktu kurang dari 20 menit. Erupsi pertama tercatat pada pukul 04.11 WIB, kemudian disusul pada pukul 04.19 WIB dan 04.28 WIB. Ketiganya tidak seluruhnya dapat diamati secara visual, tetapi terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum masing-masing sekitar 33 milimeter, 60 milimeter, dan 70 milimeter.
Erupsi pukul 05.46 WIB terlihat jelas
Aktivitas kemudian kembali terjadi pada pukul 05.46 WIB. Berbeda dengan beberapa kejadian sebelumnya yang terutama teridentifikasi melalui instrumen, erupsi kali ini dapat diamati secara visual dari pos pemantauan.
Kolom abu vulkanik terlihat mencapai sekitar 300 meter di atas puncak gunung, atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Abu yang keluar tampak berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat hingga barat laut.
Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum sekitar 70 milimeter dan berlangsung kurang lebih 27 detik. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya berupa hembusan atau peningkatan kegempaan, tetapi juga menghasilkan letusan yang dapat mengeluarkan material vulkanik ke udara.
Kondisi itu sekaligus memperlihatkan pentingnya pemantauan menggunakan instrumen. Sebab, tidak semua erupsi dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat dari kejauhan.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menjelaskan bahwa sebagian aktivitas erupsi hanya terekam melalui seismograf. Karena itu, kondisi gunung yang terlihat tenang atau tertutup kabut tidak dapat dijadikan ukuran bahwa aktivitas vulkanik sedang aman.
Aktivitas kegempaan masih tinggi
Selain rangkaian erupsi pada pagi hari, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih menunjukkan dinamika yang cukup tinggi.
Dalam pengamatan periode 12.00–18.00 WIB pada Jumat, 4 September 2026, tercatat 12 kali gempa hembusan, 18 kali gempa harmonik, sembilan kali gempa frekuensi rendah, dan enam kali gempa hybrid atau fase banyak. Selain itu, masing-masing tercatat satu kali gempa vulkanik dalam dan tremor menerus.
Berbagai jenis gempa tersebut menjadi bagian dari parameter yang dipantau oleh petugas untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik. Data seismik penting karena perubahan aktivitas di dalam tubuh gunung dapat terjadi sebelum atau bersamaan dengan erupsi yang terlihat secara visual.
Pada sore hari, Gunung Anak Krakatau juga dilaporkan masih mengeluarkan asap kawah berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang sampai tebal. Tinggi asap yang teramati berada pada kisaran puluhan hingga ratusan meter dari puncak.
Erupsi kembali terjadi pada malam hari
Aktivitas Gunung Anak Krakatau ternyata tidak berhenti setelah rangkaian letusan pada pagi dan siang hari. Laporan pemantauan mencatat adanya erupsi kembali pada malam Jumat.
Salah satu catatan aktivitas menunjukkan erupsi terjadi sekitar pukul 22.03 WIB, dengan amplitudo maksimum sekitar 19 milimeter dan durasi kurang lebih 29 detik. Selanjutnya, rangkaian aktivitas kembali berlangsung hingga memasuki Sabtu dini hari.
Sejumlah laporan media kemudian menyebut bahwa hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 00.01 WIB, sedikitnya 10 kejadian erupsi telah tercatat dalam rentang Jumat hingga dini hari. Letusan pada pukul 00.01 WIB tersebut dilaporkan tidak teramati secara visual, tetapi tercatat dalam sistem pemantauan aktivitas vulkanik.
Dengan demikian, aktivitas Gunung Anak Krakatau pada periode tersebut menunjukkan pola erupsi yang berulang dalam satu rentang waktu yang relatif singkat.
Rekaman lava pijar beredar di media sosial
Perhatian publik semakin besar setelah sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan cahaya merah menyala dari kawasan Gunung Anak Krakatau pada Jumat malam.
Dalam salah satu rekaman yang dibagikan sejumlah akun media, terlihat material berwarna merah terang dari arah kawasan kawah. Fenomena tersebut kemudian diberitakan sebagai lontaran lava pijar atau aktivitas lava fountain.
Salah satu laporan menyebut aktivitas visual tersebut terlihat sekitar pukul 23.30 WIB hingga 01.00 WIB. Rekaman yang beredar memperlihatkan cahaya merah dari arah gunung yang berada di tengah perairan Selat Sunda.
Namun, informasi visual dari media sosial tetap perlu dibaca secara hati-hati. Waktu pengambilan video, lokasi pengambilan gambar, serta interpretasi terhadap material yang terlihat perlu disesuaikan dengan data resmi pemantauan gunung api.
Artinya, rekaman lava pijar dapat menjadi informasi visual mengenai kondisi di lapangan, tetapi penentuan tingkat aktivitas dan status gunung tetap mengacu pada hasil pemantauan Badan Geologi/PVMBG, bukan hanya berdasarkan video yang beredar di media sosial.
Suara dentuman dilaporkan terdengar
Selain visual erupsi, suara dentuman juga menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah laporan media menyebut adanya suara dentuman yang terdengar dari beberapa wilayah.
Laporan tersebut menyebut suara seperti dentuman dilaporkan terdengar di kawasan Kalianda, Serang, Cikande, Cisarua, Bandung dan sejumlah daerah lainnya. Informasi tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial karena masyarakat mengaitkannya dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, laporan mengenai suara dentuman dari suatu wilayah tidak dapat secara otomatis dijadikan dasar untuk menyimpulkan sumber maupun karakter suara tersebut. Untuk memastikan hubungan antara suara yang terdengar dengan aktivitas vulkanik, diperlukan konfirmasi dari lembaga pemantauan terkait.
Masyarakat karena itu diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama informasi yang dapat menimbulkan kepanikan.
Status Gunung Anak Krakatau masih Level III
Di tengah peningkatan aktivitas tersebut, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Status tersebut bukan berarti seluruh wilayah di sekitar Selat Sunda berada dalam kondisi darurat. Zona yang memiliki risiko lebih tinggi berada di sekitar pusat aktivitas gunung api. Karena itu, PVMBG menetapkan rekomendasi agar masyarakat dan pengunjung tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas atau kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Rekomendasi tersebut berlaku bagi masyarakat, wisatawan, pendaki maupun nelayan yang berada di sekitar kawasan gunung.
Masyarakat yang berada di luar radius bahaya tetap diminta memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi gunung api dapat berubah sehingga rekomendasi keselamatan dapat diperbarui sesuai hasil pemantauan.
Warga pesisir diminta tetap tenang
Meningkatnya aktivitas Anak Krakatau juga kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan tsunami. Namun, Badan Geologi sebelumnya menegaskan bahwa status Level III tidak secara otomatis berarti erupsi akan menyebabkan tsunami.
Masyarakat pesisir Lampung dan Banten diminta tetap tenang serta tidak mudah mempercayai kabar yang menyebut adanya tsunami tanpa dasar informasi resmi. Masyarakat disarankan mengikuti arahan BPBD dan lembaga berwenang apabila terjadi perubahan kondisi yang berpotensi mengancam keselamatan.
Hal tersebut menjadi penting karena informasi mengenai Anak Krakatau sangat cepat menyebar melalui media sosial. Video lama, video tanpa keterangan waktu, maupun potongan informasi dapat dengan mudah menimbulkan kesalahpahaman apabila dibagikan tanpa verifikasi.
Pengawasan kawasan terus dilakukan
Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik, pemantauan terhadap kawasan Gunung Anak Krakatau terus dilakukan. BPBD Lampung Selatan juga mengingatkan masyarakat pesisir dan wisatawan agar meningkatkan kesiapsiagaan menyusul dinamika aktivitas gunung yang masih tinggi.
Pemerintah daerah menekankan pentingnya masyarakat memahami langkah mitigasi, menjaga ketenangan, serta memperoleh informasi dari sumber resmi.
Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap letusan yang dapat terlihat, tetapi juga terhadap kegempaan, tremor, hembusan, perubahan asap kawah, serta berbagai parameter lain yang dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas magma di dalam tubuh gunung.
Kondisi ini menjadi alasan mengapa masyarakat tidak disarankan mendekati kawasan gunung hanya untuk melihat atau merekam erupsi secara langsung. Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan lontaran batu pijar, lava, abu vulkanik, maupun material lain yang berbahaya bagi manusia.
Aktivitas Anak Krakatau masih harus diwaspadai
Rangkaian erupsi pada 4 hingga 5 September 2026 menunjukkan bahwa Gunung Anak Krakatau masih berada dalam fase aktivitas vulkanik yang dinamis. Empat erupsi tercatat pada Jumat pagi, aktivitas kegempaan tetap tinggi pada siang hingga sore hari, dan laporan pemantauan selanjutnya menunjukkan adanya erupsi kembali hingga dini hari.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memahami bahwa erupsi tidak selalu harus terlihat untuk menunjukkan bahwa gunung sedang aktif. Sebagian aktivitas justru hanya dapat diketahui melalui instrumen pemantauan.
Karena itu, masyarakat di wilayah Lampung Selatan, Banten, maupun pengguna jalur laut di Selat Sunda diimbau untuk tidak mengambil risiko dengan mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
Sementara itu, video lava pijar dan informasi mengenai dentuman yang beredar di media sosial sebaiknya dijadikan informasi awal yang tetap harus dikonfirmasi dengan sumber resmi. Badan Geologi dan PVMBG menjadi rujukan utama untuk mengetahui status, perkembangan aktivitas, serta rekomendasi keselamatan Gunung Anak Krakatau.
Data utama kejadian:
- Gunung: Anak Krakatau
- Lokasi: Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung
- Periode aktivitas: 4–5 September 2026
- Erupsi pertama: 04.11 WIB, 4 September 2026
- Erupsi teramati: 05.46 WIB
- Tinggi kolom abu: sekitar 300 meter di atas puncak
- Arah abu: barat hingga barat laut
- Erupsi malam: kembali tercatat hingga Sabtu dini hari
- Status: Level III (Siaga)
- Zona yang harus dihindari: radius 3 kilometer dari pusat aktivitas
- Aktivitas tambahan: kegempaan tinggi, asap kawah, serta rekaman visual cahaya/lava pijar yang beredar di media sosial




