SERIAN, SARAWAK – Krisis jerebu di Bahagian Serian, Sarawak, sempat mendorong pemerintah Malaysia mengambil langkah luar biasa dengan menetapkan status darurat setelah kualitas udara mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Namun, kondisi udara di wilayah tersebut kembali memburuk hanya sehari setelah status darurat dicabut.
Yang di-Pertuan Agong Malaysia, Sultan Ibrahim, pada Jumat, 4 September 2026, menyetujui pengisytiharan darurat di seluruh Bahagian Serian, Sarawak. Keputusan itu diambil setelah indeks pencemar udara atau IPU mencapai 518, yang masuk kategori berbahaya. Pemerintah Malaysia menyebut keputusan tersebut sebagai langkah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat yang terdampak jerebu.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena jerebu tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga membawa partikel pencemar yang dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
IPU menembus angka 500
Kondisi udara di Serian mulai menunjukkan tingkat yang mengkhawatirkan pada awal September. Pada Jumat pagi, 4 September, stasiun pemantauan di Markas Besar Polisi Daerah Serian mencatat IPU 517 pada pukul 11.00 waktu setempat. Beberapa jam sebelumnya, pada pukul 10.00, angka yang tercatat mencapai 518.
Dalam sistem indeks kualitas udara Malaysia, angka 301 ke atas sudah dikategorikan berbahaya. Sementara angka 201–300 masuk kategori sangat tidak sehat dan 101–200 dikategorikan tidak sehat.
Artinya, ketika angka Serian menembus 500, kondisi yang dihadapi masyarakat bukan lagi sekadar jerebu biasa. Tingkat pencemaran tersebut telah berada jauh di atas ambang kategori berbahaya.
Kondisi di Serian juga tidak berdiri sendiri. Pada Jumat pagi, Kuching mencatat IPU 310, sedangkan Kota Samarahan berada pada angka 281 dan Sri Aman 245, yang masing-masing berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Sultan Ibrahim menyetujui status darurat
Setelah mempertimbangkan kondisi kualitas udara dan masukan dari pemerintah pusat serta pemerintah Sarawak, Sultan Ibrahim menyetujui pengisytiharan darurat di seluruh Bahagian Serian.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebelumnya telah berkomunikasi dengan Premier Sarawak Abang Johari Tun Openg mengenai memburuknya kondisi jerebu. Pemerintah juga mempertimbangkan berbagai tindakan untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat, termasuk penghentian sementara kegiatan sekolah dan perkantoran apabila situasi semakin memburuk.
Namun, status darurat tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembatasan aktivitas seperti kebijakan pembatasan sosial pada masa pandemi. Wakil Perdana Menteri Sarawak Douglas Uggah Embas menegaskan bahwa prosedur khusus akan ditentukan oleh otoritas terkait berdasarkan situasi di lapangan. Masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap berada di dalam rumah, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta mengikuti arahan keselamatan.
Dengan demikian, status darurat lebih diarahkan sebagai instrumen untuk mempercepat langkah perlindungan masyarakat dan koordinasi penanganan krisis kualitas udara.
Aktivitas masyarakat mulai terganggu
Dampak jerebu mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari warga Serian. Pada akhir pekan ketika biasanya pusat kota lebih ramai, aktivitas masyarakat terlihat menurun.
Jerebu tebal membuat masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah. Sejumlah warga memilih tidak berlama-lama berada di ruang terbuka karena kondisi udara dan jarak pandang yang menurun.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak jerebu tidak hanya tercermin dari angka pada stasiun pemantauan. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan ekonomi, pendidikan, transportasi dan aktivitas sosial masyarakat ikut terdampak.
Masyarakat juga harus melakukan penyesuaian terhadap aktivitas sehari-hari. Kegiatan yang biasanya dilakukan di luar ruangan mulai dikurangi untuk menghindari paparan udara yang tercemar.
Ratusan sekolah ditutup sementara
Sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling cepat terdampak.
Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak mengumumkan bahwa 647 sekolah dasar dan menengah akan ditutup sementara selama lima hari, mulai 7 hingga 11 September 2026, akibat kondisi jerebu.
Dari jumlah tersebut, terdapat 563 sekolah dasar dengan 108.477 murid dan 84 sekolah menengah dengan 90.082 siswa.
Dengan demikian, lebih dari 198 ribu siswa terdampak oleh kebijakan penutupan sementara tersebut.
Pembelajaran tidak dihentikan sepenuhnya. Selama sekolah ditutup, proses belajar dilakukan melalui Pengajaran dan Pembelajaran dari Rumah (PdPR) sehingga siswa tetap dapat mengikuti kegiatan pendidikan tanpa harus datang ke sekolah.
Sekolah yang terdampak berada di bawah 12 Pejabat Pendidikan Daerah, antara lain Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, Kanowit, Julau dan Meradong.
Kementerian Pendidikan Malaysia juga meminta orang tua dan warga sekolah mengikuti informasi dari saluran resmi karena kondisi jerebu dapat berubah dari waktu ke waktu.
Upaya modifikasi cuaca dilakukan
Pemerintah Sarawak juga tidak hanya mengandalkan pembatasan aktivitas masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah operasi pembenihan awan atau cloud seeding.
Operasi tersebut dilakukan untuk membantu menghasilkan hujan di lokasi-lokasi yang memiliki kondisi awan yang sesuai. Pada 6 September, pemerintah Sarawak memperpanjang operasi pembenihan awan hingga hari berikutnya sebagai bagian dari upaya menghadapi jerebu lintas batas.
Operasi sebelumnya dilaporkan berhasil menghasilkan hujan di kawasan sasaran Bakun dan Murum, yang merupakan daerah penting untuk penyimpanan air dan daerah tangkapan air.
Namun, efektivitas pembenihan awan sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Karena itu, operasi hanya dapat dilakukan apabila terdapat awan dan kondisi cuaca yang memungkinkan.
Kondisi sempat membaik
Setelah beberapa hari berada dalam kondisi kritis, kualitas udara Serian sempat menunjukkan perbaikan.
Pada 5 September, IPU Serian yang pada pagi hari masih berada di angka 334 turun menjadi 273 pada pukul 14.00. Angka tersebut membuat status kualitas udara bergerak dari kategori berbahaya ke kategori sangat tidak sehat.
Sehari kemudian, perkembangan yang lebih baik kembali terlihat. Pada Minggu, 6 September, IPU Serian turun hingga 185 pada tengah hari, masuk kategori tidak sehat.
Penurunan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam evaluasi status darurat. Pemerintah tetap melakukan pemantauan karena kualitas udara sangat dipengaruhi oleh arah angin dan lokasi sumber titik panas.
Status darurat akhirnya dicabut
Setelah kondisi udara menunjukkan perbaikan, pada Senin, 7 September 2026, Sultan Ibrahim menyetujui pencabutan status darurat di seluruh Bahagian Serian.
Pemerintah Malaysia menyatakan keputusan tersebut diambil setelah menerima pertimbangan dari Perdana Menteri Anwar Ibrahim, Premier Sarawak Abang Johari serta lembaga terkait yang menunjukkan bahwa IPU di kawasan tersebut tidak lagi berada pada tingkat berbahaya.
Pada pukul 08.00 waktu setempat hari itu, Samarahan menjadi satu-satunya wilayah di Sarawak yang masih berada pada kategori sangat tidak sehat dengan IPU 226.
Namun, pencabutan status darurat tidak berarti persoalan jerebu telah selesai. Pemerintah pusat dan pemerintah Sarawak tetap meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti arahan otoritas.
Sehari kemudian, Serian kembali masuk zona berbahaya
Perkembangan selanjutnya justru menunjukkan bahwa perbaikan kualitas udara belum stabil.
Pada Selasa, 8 September 2026, hanya sehari setelah status darurat dicabut, kualitas udara Serian kembali memburuk. Stasiun pemantauan di IPD Serian mencatat IPU 302 pada pukul 10.00, sehingga kembali masuk kategori berbahaya.
Serian bahkan menjadi satu-satunya wilayah di Malaysia yang tercatat berada pada kategori berbahaya pada saat pengukuran tersebut.
Kondisi ini menunjukkan betapa cepat kualitas udara dapat berubah. Status darurat memang telah dicabut karena indikator pada saat evaluasi menunjukkan perbaikan, tetapi perkembangan berikutnya memperlihatkan bahwa risiko jerebu masih belum sepenuhnya berakhir.
Pada waktu yang sama, sejumlah wilayah lain di Sarawak juga berada dalam kategori sangat tidak sehat. Kuching mencatat 243, Samarahan 237 dan Sri Aman 232 pada pagi hari.
Sore harinya angka Serian kembali turun
Perubahan angka IPU terus terjadi sepanjang hari.
Pada pukul 15.00, Serian tercatat berada di angka 254, sehingga kembali masuk kategori sangat tidak sehat, bukan lagi kategori berbahaya. Pada waktu yang sama, Kuching mencatat 261, Sri Aman 234 dan Samarahan 231.
Meski angka Serian turun dari 302 menjadi 254, kondisi tersebut tetap belum dapat dikatakan aman. Kategori sangat tidak sehat masih menunjukkan adanya risiko bagi kesehatan masyarakat, terutama jika paparan berlangsung lama.
Perubahan dari 302 menjadi 254 dalam beberapa jam juga memperlihatkan bahwa angka IPU dapat berfluktuasi cukup cepat. Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan apakah status darurat diberlakukan atau dicabut, tetapi juga harus melihat perkembangan indeks kualitas udara terbaru.
Jerebu tidak hanya berasal dari satu wilayah
Salah satu faktor yang memperumit penanganan adalah sifat jerebu lintas batas.
Data ASEAN Specialised Meteorological Centre atau ASMC yang dikutip Departemen Lingkungan Malaysia menunjukkan adanya konsentrasi titik panas di sejumlah wilayah Indonesia. Pada laporan 7 September, ASMC mendeteksi 109 titik panas di Kalimantan, 119 di Sumatra dan lima di Malaysia.
ASMC juga melaporkan adanya kepulan asap dengan tingkat sedang hingga tebal di kawasan barat laut Borneo. Kepulan asap juga terpantau berasal dari sejumlah kelompok titik panas di Kalimantan, Jawa bagian timur, serta Sumatra bagian tengah dan selatan.
Kondisi angin kemudian berperan dalam membawa asap ke wilayah lain. Inilah yang membuat penanganan jerebu lintas batas menjadi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu daerah.
Dampaknya meluas ke sejumlah wilayah Malaysia
Selain Serian, sejumlah daerah lain di Sarawak dan negara bagian Malaysia juga mengalami penurunan kualitas udara.
Pada 8 September sore, empat wilayah di Sarawak masuk kategori sangat tidak sehat. Kuching berada di angka 261, Serian 254, Sri Aman 234 dan Samarahan 231.
Sebanyak 23 wilayah lainnya berada pada kategori tidak sehat. Di Sarawak, daerah yang masuk kategori tersebut antara lain Miri, Samalaju, Bintulu, Mukah dan Sarikei.
Jerebu juga terpantau di sejumlah wilayah Semenanjung Malaysia, termasuk Selangor, Kuala Lumpur, Putrajaya, Negeri Sembilan, Melaka dan Perak.
Artinya, persoalan kualitas udara pada periode tersebut tidak hanya menjadi persoalan lokal Serian, tetapi telah menjadi masalah lingkungan yang meluas.
Pemerintah tetap meminta masyarakat berhati-hati
Pemerintah Malaysia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap pencabutan status darurat sebagai tanda bahwa kondisi sudah sepenuhnya normal.
Masyarakat di daerah yang kualitas udaranya buruk tetap diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan IPU.
Bagi kelompok yang rentan, pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi semakin penting ketika kualitas udara berada pada tingkat sangat tidak sehat atau berbahaya.
Sekolah-sekolah yang telah ditutup juga menjalankan pembelajaran dari rumah untuk menjaga keberlangsungan pendidikan tanpa mengharuskan siswa terpapar udara luar.
Situasi Serian masih perlu dipantau
Rangkaian kejadian dari 4 hingga 8 September menunjukkan pola yang cukup jelas. Serian sempat mengalami lonjakan IPU hingga 518, kemudian pemerintah menetapkan status darurat. Setelah beberapa hari kondisi udara membaik, status tersebut dicabut pada 7 September.
Namun, sehari kemudian, IPU kembali menembus angka 302 sebelum turun menjadi 254 pada sore harinya.
Fluktuasi tersebut memperlihatkan bahwa pencabutan status darurat bukan berarti krisis jerebu telah sepenuhnya berakhir. Kondisi udara masih sangat bergantung pada arah angin, keberadaan titik panas dan pergerakan asap lintas wilayah.
Karena itu, pemantauan kualitas udara tetap menjadi langkah penting. Pemerintah juga harus terus menyiapkan langkah mitigasi apabila angka kembali melonjak ke tingkat berbahaya.
Bagi masyarakat Serian dan wilayah lain yang terdampak, kondisi tersebut menjadi alasan untuk tetap waspada. Selama kualitas udara belum stabil, aktivitas luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi IPU dan arahan otoritas setempat.
Perkembangan terakhir: pada 8 September 2026, Serian kembali mencatat IPU 302 pada pagi hari, satu hari setelah status darurat dicabut. Pada sore hari, angkanya turun menjadi 254, tetapi masih berada dalam kategori sangat tidak sehat




