Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Tiga Gempa Hybrid Terekam dan Erupsi Kembali Terjadi

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih menjadi perhatian. Gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, tersebut hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga, meskipun aktivitas erupsinya dilaporkan mulai mengalami penurunan.

Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kondisi kegempaan masih menunjukkan adanya aktivitas vulkanik di dalam tubuh gunung api tersebut.

Dalam pemantauan pada Kamis, 10 September 2026, PVMBG mencatat adanya tiga kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa tersebut memiliki amplitudo sekitar 11–14 milimeter dengan durasi beberapa detik. Rekaman tersebut menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas magma dan dinamika vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau juga kembali mengalami erupsi pada Rabu, 9 September 2026 pukul 00.47 WIB. Erupsi tersebut tidak terlihat secara visual, tetapi terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama sekitar 28 detik.

Aktivitas erupsi masih berlangsung

Kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak dapat dipandang sebagai aktivitas yang telah sepenuhnya mereda. Meskipun intensitas erupsi mengalami penurunan dibandingkan episode sebelumnya, aktivitas vulkanik masih terus dipantau karena gunung api tersebut tetap berada pada tingkat Siaga.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pada Rabu, 9 September 2026, mengatakan hasil pemantauan langsung dari KRI Lepu 861 menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau memang mengalami penurunan. Namun, erupsi masih berlangsung dan status gunung tetap berada pada Level III atau Siaga.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penurunan aktivitas tidak berarti seluruh potensi bahaya telah hilang. Masyarakat tetap diminta mengikuti rekomendasi PVMBG dan tidak mendekati kawasan kawah aktif.

Sebelumnya sempat mengalami erupsi menerus selama 25 jam

Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat cukup signifikan sejak awal September. Badan Geologi mencatat adanya episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

Setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, pola aktivitas gunung api kembali menunjukkan karakteristik erupsi strombolian. Badan Geologi mencatat tiga kali erupsi strombolian setelah berakhirnya fase erupsi menerus tersebut.

Namun, hasil pemantauan instrumental pada periode 6–7 September menunjukkan kegempaan masih tinggi. Dalam periode tersebut tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.

Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan mengapa status Gunung Anak Krakatau tetap dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Abu vulkanik mencapai sekitar 2,1 kilometer

Aktivitas erupsi juga menyebabkan sebaran abu vulkanik. Pada 9 September 2026, BMKG memantau sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9.

Sebaran abu tersebut teridentifikasi mencapai ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer dari permukaan. Abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.

Sebaran abu menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan masyarakat karena dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu kesehatan, terutama bagi warga yang memiliki gangguan pernapasan atau berada di wilayah yang terdampak langsung.

Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau

Dengan status Level III, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Zona tersebut harus dihindari karena masih terdapat potensi bahaya berupa lontaran material vulkanik, hujan abu lebat, awan panas, maupun aliran lava apabila aktivitas erupsi kembali meningkat.

Masyarakat pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi. Pemerintah mengimbau masyarakat memperoleh informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau melalui PVMBG, Badan Geologi, BPBD, maupun kanal resmi pemerintah.

Kondisi ini juga berdampak pada aktivitas masyarakat

Erupsi Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menjadi persoalan vulkanologi, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat di wilayah sekitar Selat Sunda.

Di Banten, misalnya, pemerintah daerah memperpanjang kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga Jumat, 11 September 2026 setelah adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan paparan abu vulkanik. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat, terutama anak-anak, untuk lebih berhati-hati terhadap kualitas udara.

Di sisi lain, kondisi erupsi juga menjadi perhatian bagi aktivitas pelayaran dan wisata di sekitar Selat Sunda. Pembatasan radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung tetap diberlakukan sebagai langkah mitigasi untuk menghindari risiko yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Potensi letusan susulan masih harus diwaspadai

Badan Geologi sebelumnya menegaskan bahwa berakhirnya episode erupsi menerus tidak berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau telah berhenti sepenuhnya. Hasil pemantauan masih menunjukkan dinamika vulkanik yang cukup tinggi dan probabilitas terjadinya letusan susulan masih perlu diwaspadai.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

Karena itu, masyarakat tidak disarankan mengambil kesimpulan bahwa kondisi sudah sepenuhnya aman hanya karena intensitas erupsi mengalami penurunan. Aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu dan evaluasi status dilakukan berdasarkan perkembangan data pemantauan.

Hingga Kamis, 10 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Masyarakat di sekitar Banten dan Lampung diminta tetap waspada, menggunakan masker apabila terjadi hujan abu, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, serta mengikuti seluruh arahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.