Siri’, Pesse’, dan Panrita: Mendudukkan Kearifan Bugis-Makassar di Bangku Sekolah

Elfira.,M.Pd (Dosen Universitas Negeri Makassar)

Mengapa nilai kepemimpinan Bugis-Makassar perlu hidup kembali di ruang sekolah

Di tanah Sulawesi Selatan, anak-anak tumbuh di antara dua dunia. Di rumah, mereka mendengar tentang siri’ kehormatan yang dijaga dengan sepenuh jiwa. Di sekolah, mereka belajar kepemimpinan dari buku-buku yang ditulis jauh dari tanah mereka, tentang tokoh-tokoh yang belum tentu pernah menyentuh laut Makassar atau mendengar deru angin di Bone.

Ada sesuatu yang hilang dalam jarak itu. Dan kita jarang cukup jujur untuk mengakuinya.

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”

Hanya kerja keras yang pantang menyerah yang akan mendapat anugerah Tuhan.

Petuah Bugis Klasik · Sumber: Lontara

Tradisi Bugis-Makassar menyimpan filsafat kepemimpinan yang sangat kaya bukan sekadar warisan adat yang beku dalam museum, melainkan sistem nilai hidup yang pernah melahirkan pelaut penjelajah dunia, pemimpin yang ditakuti sekaligus dicintai, dan komunitas yang membangun peradaban dari pesisir hingga pedalaman Nusantara.

Pertanyaannya bukan apakah nilai-nilai itu masih relevan. Pertanyaannya adalah: mengapa kita begitu lamban membawanya masuk ke dalam ruang kelas?

Siri’: Kehormatan diri

Bukan harga diri yang sombong, melainkan rasa malu yang produktif dorongan untuk tidak mengecewakan kepercayaan orang lain dan diri sendiri.

Pesse’: Solidaritas & empati

Rasa sakit yang dirasakan bersama. Pemimpin Bugis-Makassar tidak memimpin dari atas ia ikut menanggung beban komunitasnya.

Panrita: Kearifan & kebijaksanaan

Orang yang berilmu dan bijak. Dalam tradisi Bugis, ilmu tanpa kebijaksanaan adalah berbahaya pengetahuan harus diarahkan untuk kebaikan.

Sipakatau: Memanusiakan manusia

Prinsip untuk saling menghargai martabat satu sama lain, tanpa memandang status sosial. Fondasi kepemimpinan yang egaliter.

Nilai-nilai ini bukan abstraksi. Ia pernah dan masih menentukan cara seorang anak di Bone atau Gowa memandang tanggung jawab, cara seorang pemuda Makassar menghadapi kekalahan, cara seorang perempuan Bugis memimpin keluarganya di tengah keterbatasan. Ia adalah kecerdasan lokal yang terbentuk selama berabad-abad dari pengalaman hidup nyata.

“Pemimpin sejati dalam tradisi Bugis-Makassar bukan ia yang paling keras suaranya, melainkan ia yang paling besar tanggung jawabnya dan paling berani menanggung malu ketika gagal.”

Tokoh-tokoh sejarah Bugis-Makassar menawarkan laboratorium kepemimpinan yang hidup jauh lebih dekat dengan pengalaman anak-anak Sulawesi Selatan dibanding teori-teori manajemen dari buku teks impor:

Sultan Hasanuddin Makassar · Abad XVII

“Ayam Jantan dari Timur” simbol keberanian menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, tanpa kehilangan prinsip.

Pelajaran di kelas: keberanian bukan ketidaktakutan, melainkan tetap bertindak meski takut. Relevan untuk setiap anak yang pernah merasa kecil.

Arung Palakka: Bone · Abad XVII

Pemimpin yang kompleks mengajarkan bahwa sejarah tidak hitam-putih, dan kepemimpinan selalu hidup dalam tegangan moral yang nyata.

Pelajaran di kelas: berpikir kritis tentang sejarah, tidak sekadar menghapalkan pahlawan tanpa memahami konteksnya.

We Tenrilai: Soppeng · Abad XVI

Ratu Bugis yang memimpin dengan kecerdasan dan kebijaksanaan membuktikan bahwa tradisi Bugis mengenal kepemimpinan perempuan jauh sebelum wacana modern.

Pelajaran di kelas: kepemimpinan tidak mengenal gender tradisi sendiri membuktikannya.

Masalahnya bukan guru tidak tahu nilai-nilai ini. Masalahnya adalah kurikulum kita tidak memberi mereka ruang. Kita sibuk mengejar standar nasional yang dirancang tanpa cukup mempertimbangkan kedalaman kearifan lokal yang sudah ada sebelum standar itu dibuat.

Pendidikan berbasis nilai lokal bukan nostalgia. Ia adalah strategi pedagogis yang terbukti karena pembelajaran paling dalam terjadi ketika seseorang bisa melihat dirinya sendiri dalam apa yang ia pelajari. Anak Makassar yang belajar tentang pesse’ tidak hanya belajar empati sebagai konsep abstrak ia belajar bahwa nilai itu sudah mengalir dalam darahnya, bahwa ia adalah pewaris tradisi yang panjang dan mulia.

Dan dari titik itulah dari rasa bangga yang berakar seorang pemimpin sejati bisa mulai tumbuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.