KATHMANDU – Bencana banjir bandang disertai longsor yang melanda kawasan Nepal dan wilayah Tibet, China, menimbulkan dampak besar bagi masyarakat setempat. Jumlah korban jiwa dilaporkan terus bertambah, sementara ribuan orang masih dalam pencarian oleh tim penyelamat.
Bencana tersebut terjadi di tengah kondisi cuaca buruk yang melanda kawasan Himalaya. Aliran air dalam jumlah besar membawa lumpur, batu, serta material lainnya hingga menerjang sejumlah permukiman dan kawasan di sekitar aliran sungai.
Di Nepal, jumlah korban meninggal dunia berdasarkan pembaruan otoritas setempat pada Minggu, 30 Agustus 2026, telah mencapai 734 orang. Pada saat yang sama, sebanyak 2.498 orang masih dinyatakan hilang dan belum diketahui keberadaannya.
Besarnya jumlah korban membuat proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan secara intensif. Tim penyelamat masih menyisir sejumlah lokasi yang terdampak, termasuk kawasan yang tertutup material lumpur dan longsoran.
Operasi pencarian tidak berlangsung mudah. Kondisi medan yang rusak, akses jalan yang terganggu, serta ancaman bencana susulan menjadi kendala bagi petugas. Tim di lapangan harus berhati-hati ketika memasuki wilayah yang masih berpotensi mengalami longsor maupun banjir lanjutan.
Sejumlah wilayah di Nepal dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Permukiman warga, akses transportasi, serta sejumlah fasilitas publik terdampak akibat derasnya aliran air dan material yang terbawa dari kawasan pegunungan.
Selain pencarian korban, proses evakuasi warga dari daerah yang dianggap masih berbahaya juga menjadi prioritas. Pemerintah dan tim gabungan terus berupaya memastikan masyarakat yang berada di lokasi terdampak dapat dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Dalam operasi tersebut, personel keamanan dan tim penyelamat dikerahkan untuk membantu proses evakuasi, pencarian korban, serta distribusi bantuan. Penggunaan sarana udara juga dilakukan untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi melalui jalur darat.
Sementara itu, bencana juga berdampak pada wilayah Tibet yang berada di bawah administrasi China. Sejumlah korban meninggal dan warga yang belum ditemukan turut dilaporkan dari kawasan tersebut.
Jika data korban dari Nepal dan Tibet digabungkan, jumlah korban meninggal dalam rangkaian bencana tersebut dilaporkan telah mencapai sekitar 750 orang, sedangkan lebih dari 3.000 orang masih belum ditemukan.
Di Tibet, laporan sebelumnya menyebut terdapat 16 orang meninggal dunia dan 546 orang masih dinyatakan hilang. Angka tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan pencarian korban masih berlangsung.
Tim pencari juga menghadapi tantangan dalam menemukan korban yang kemungkinan terbawa arus sungai. Material lumpur dan puing yang menumpuk di sejumlah lokasi membuat proses pencarian membutuhkan waktu lebih panjang.
Pemerintah setempat terus melakukan pembaruan data seiring ditemukannya korban maupun warga yang berhasil dievakuasi. Karena itu, jumlah korban dalam bencana ini masih berpotensi mengalami perubahan setelah proses verifikasi selesai dilakukan.
Bencana tersebut menjadi salah satu peristiwa besar yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa hari terakhir. Perhatian kini tertuju pada proses pencarian ribuan warga yang masih belum diketahui keberadaannya serta upaya pemulihan wilayah yang mengalami kerusakan.
Hingga 30 Agustus 2026, operasi penyelamatan dan pencarian masih terus berjalan. Petugas bersama berbagai unsur terkait berupaya menjangkau wilayah terdampak sekaligus memberikan bantuan kepada masyarakat yang kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga akibat bencana.




