Heriansah
Associate Professor Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa – Makassar
Di ruang-ruang seminar dan baris-baris artikel publikasi jurnal, hingga dokumen perencanaan pembangunan nasional, istilah “Ekonomi Biru” (Blue Economy) dan “Akuakultur Berkelanjutan” telah menjadi frasa klasik yang sering disebut, bahkan dijadikan kiblat tata kelola perikanan. Namun, jika melihat realitas di lapangan dan mendengarkan langsung cerita petambak di area pemukiman pesisir atau di atas pematang tambak, kita mendapati sebuah realitas yang memprihatinkan. Narasi mereka bukan soal target pertumbuhan makro atau efisiensi anggaran, melainkan kecemasan sederhana yang berulang: “Mengapa pendapatan dari panen kali ini kembali tak mampu menutup biaya modal dan tidak cukup untuk membayar utang modal?”. Padahal, merekalah penggerak akuakultur Indonesia yang sesungguhnya.
Fakta sosiologis menunjukkan bahwa petambak tradisional mendominasi akuakultur ikan, udang, dan rumput laut di Indonesia. Secara historis, mereka adalah kelompok masyarakat pesisir yang sejak turun-temurun mengandalkan teknologi sederhana serta bergantung pada daya dukung lingkungan yang sangat terbatas. Pendapatan mereka relatif rendah, fluktuatif, dan sering kali hanya cukup untuk menyambung hidup dari satu siklus panen ke siklus panen berikutnya, itupun kalau cukup. Padahal, dari tangan dingin para petambak tradisional inilah lahir bahan pangan organik. Memperhatikan keberlangsungan hidup petambak tradisional ini bukan lagi sekadar urusan ekonomi lokal, melainkan pilar utama ketahanan pangan nasional.
Paradoks Limbah Alami dan Rendahnya Pendapatan
Secara ekologis, petambak tradisional sejatinya adalah pelopor akuakultur berkelanjutan yang nyata. Keterbatasan modal membuat mereka tidak banyak, bahkan hampir tidak pernah, menggunakan pakan buatan secara berlebihan. Oleh karena itu, akumulasi limbah eksternal beracun, yang kerap memicu kegagalan produksi pada tambak intensif, relatif rendah di tambak tradisional. Namun, bukan berarti potensi ancaman lingkungan di tambak tradisional sepenuhnya bebas limbahkarena aktivitas biologis makhluk hidup tetap berjalan. Feses dan hasil sekresi metabolisme ikan tetap terproduksi secara konsisten. Dalam sistem monokultur yang pasif, sisa organik tersebut lambat laun mengendap dan terakumulasi di dasar tambak yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan organisme akuakultur.
Di sinilah letak akar masalahnya: teknologi sederhana yang diterapkan pada tambak tradisional membuat ruang gerak produktivitas tambak menjadi sangat terbatas. Ketergantungan pada satu atau dua jenis komoditas (monokultur atau polikultur) membuat petambak tradisional sangat rentan terhadap kegagalan produksi akibat penurunan kualitas air. Sisa buangan biologis yang semestinya bisa dikonversi menjadi sumber daya, justru terbuang dan berakhir menjadi beban lingkungan yang laten. Akibatnya, petambak tidak hanya terjebak dalam produktivitas yang stagnan, tetapi juga kehilangan peluang untuk melipatgandakan pendapatan dari aset ekologis yang mereka miliki.
Mengenal Jembatan Ekologis: Akuakultur Terintegrasi
Untuk memutus lingkaran kebuntuan pendapatan rendah tanpa mengorbankan status tambak yang ramah lingkungan, petambak tradisional tidak harus melompat ke sistem lain yang membutuhkan modal yang relatif banyak serta tinggi risiko polusi. Solusinya harus sirkular, adaptif, dan berbasis ekosistem melalui akuakultur terintegrasi atau dalam dunia akademik Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA). Melalui pendekatan ilmiah-populer ini, beberapa spesies dengan tingkatan trofik berbeda dipelihara dalam satu ekosistem tambak. Pada konteks tambak tradisional, limbah dari satu spesies diposisikan bukan sebagai kotoran yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya ekologis atau pasokan nutrisi berharga bagi spesies lainnya, seperti rumput laut dan kerang.
Melalui rantai pasok nutrisi yang sirkular, petambak tradisional akan memperoleh keuntungan ganda. Pertama, kualitas lingkungan tambak terjaga karena terjadi proses bioremediasi, sehingga risiko produksi dapat ditekan seminimal mungkin. Kedua, petambak memiliki diversifikasi produk pendapatan baru dari organisme lain pada ruang dan waktu yang bersamaan. Inilah wujud nyata implementasi Ekonomi Biru di tingkat akar rumput: sebuah model akuakultur berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan hari ini sekaligus menjaga daya dukung lingkungan.
Tantangan Literasi dan Kerja Kolabarotif Membumikan Gagasan
Praktik baik yang ditawarkan oleh teknologi akuakultur terintegrasi ini nampaknya masih menghadapi tantangan besar bagi petambak tradisional, terutama tingkat pengenalan, pengetahuan, dan penerimaan terhadap sistem ini. Bagi mayoritas petambak tradisional, budidaya perikanan adalah soal kebiasaan turun-temurun. Oleh karena itu, tugas terbesar kita hari ini adalah “membumikan” gagasan ini dengan mentransformasikan teori rumit IMTA menjadi panduan praktis yang mudah dipahami, direplikasi, dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat pesisir dengan memanfaatkan material lokal.
Langkah taktis ini tidak bisa dibebankan kepada pundak petambak tradisional sendirian. Dibutuhkan kehadiran negara secara nyata melalui skema kolaborasi multipihak yang melibatkan akademisi dari perguruan tinggi, penyuluh perikanan di lapangan, lembaga swadaya masyarakat, hingga sektor swasta. Metode percontohan dan pelatihan yang diberikan harus mengedepankan pendekatan learning by doing. Ketika pemerintah gencar mengampanyekan implementasi Ekonomi Biru di tingkat makro, keberpihakan pada petambak tradisional ini adalah indikator kejujuran paling sahih dari kebijakan tersebut.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Langkah Nyata ke Depan
Dengan membumikan gagasan akuakultur terintegrasi, kita melakukan dua hal besar secara simultan: menjaga kelestarian ekologi pesisir dan memberikan tuas ekonomi baru untuk meningkatkan pendapatan petambak tradisional. Melalui perawatan siklus alami ini, kita tidak hanya mengamankan aset pesisir, melainkan juga memastikan tidak ada warisan kerusakan ekologis bagi generasi mendatang. Sekarang adalah saatnya kita mendampingi para petambak rakyat, menempatkan mereka sebagai subjek utama, sekaligus penopang masa depan Ekonomi Biru dan Akuakultur Berkelanjutan di Indonesia.
