KETAPANG, KALIMANTAN BARAT – Seekor orangutan jantan dewasa ditemukan dalam kondisi lemah dan nyaris tidak bergerak di kawasan perkebunan warga di Desa Laman Satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu (30/8/2026). Satwa tersebut kemudian mendapat pertolongan setelah warga melaporkan keberadaannya kepada petugas konservasi.
Orangutan jantan itu diketahui bernama Sampurna. Saat pertama kali ditemukan sekitar pukul 06.00 WIB, kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan. Tubuhnya terlihat lemas dan satwa tersebut tidak menunjukkan banyak respons ketika berada di sekitar lokasi perkebunan.
Penemuan Sampurna terjadi ketika kawasan tersebut masih berada dalam kondisi yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan. Kepulan asap dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah di sekitar lokasi, sehingga muncul dugaan bahwa kondisi udara dan paparan asap turut memengaruhi kondisi satwa tersebut.
Namun, penyebab pasti Sampurna berada dalam kondisi lemah belum dapat dipastikan hanya berdasarkan temuan di lapangan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya serta faktor yang menyebabkan orangutan tersebut keluar atau berpindah dari habitatnya.
Setelah menerima laporan dari masyarakat, tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bergerak menuju lokasi. Petugas melakukan pengecekan terhadap kondisi Sampurna sebelum mengevakuasinya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dalam proses pertolongan, Sampurna mendapatkan bantuan oksigen karena mengalami indikasi gangguan pernapasan. Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kondisi fisik satwa tersebut untuk mengetahui tingkat keparahan masalah kesehatan yang dialaminya.
Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka terbuka maupun tanda luka bakar pada tubuh Sampurna. Meski demikian, kondisi tubuhnya yang lemah dan adanya gangguan pernapasan membuat satwa tersebut tetap membutuhkan observasi serta perawatan dari tenaga yang memiliki keahlian dalam menangani satwa liar.
Sampurna selanjutnya dievakuasi menuju fasilitas rehabilitasi di Sungai Awan Kiri untuk menjalani pemeriksaan dan pemulihan. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi kesehatannya dapat dipantau secara lebih intensif sebelum ditentukan tindakan berikutnya.
Dokter hewan dari YIARI menjelaskan bahwa paparan asap pekat dapat mengganggu sistem pernapasan satwa. Asap yang terhirup dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan berkurangnya oksigen yang masuk ke tubuh sehingga satwa dapat mengalami kelemahan dan kesulitan bernapas.
Kejadian ini juga kembali menunjukkan dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar yang hidup di sekitar kawasan terdampak. Ketika habitat mengalami gangguan akibat kebakaran maupun asap, satwa dapat menghadapi berbagai risiko, termasuk perubahan kondisi lingkungan dan berkurangnya ruang hidup yang aman.
Orangutan merupakan satwa yang sangat bergantung pada kawasan hutan sebagai habitatnya. Gangguan terhadap habitat tidak hanya berpotensi menyebabkan satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, tetapi juga dapat meningkatkan kemungkinan satwa berpindah ke kawasan yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.
Meski demikian, belum ada keterangan resmi yang memastikan bahwa kebakaran menjadi satu-satunya penyebab Sampurna ditemukan di perkebunan warga. Faktor lain yang berkaitan dengan kondisi habitat dan kesehatan satwa masih perlu diperiksa oleh tim terkait.
Masyarakat yang menemukan satwa liar dalam kondisi lemah, terluka, atau berada di luar habitatnya juga diimbau tidak melakukan penanganan sendiri. Tindakan tanpa pendampingan dapat meningkatkan risiko terhadap satwa maupun masyarakat.
Pelaporan kepada petugas konservasi menjadi langkah yang lebih aman sehingga satwa dapat ditangani oleh pihak yang memiliki kemampuan dan fasilitas sesuai kebutuhan. Penanganan yang tepat juga penting untuk memastikan satwa tidak mengalami stres atau cedera tambahan selama proses evakuasi.
Kasus Sampurna menjadi perhatian di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Selain berdampak terhadap masyarakat melalui penurunan kualitas udara, kebakaran juga dapat memberikan tekanan terhadap ekosistem dan satwa yang berada di dalamnya.
Saat ini, kondisi Sampurna masih memerlukan pemantauan dan perawatan lebih lanjut. Perkembangan kesehatannya akan menjadi pertimbangan dalam menentukan tahapan rehabilitasi berikutnya, termasuk kemungkinan pemulangan ke habitat apabila kondisinya telah dinyatakan siap oleh tim konservasi.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Penanganan terhadap Sampurna diharapkan dapat membantu proses pemulihan satwa sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya perlindungan habitat orangutan. Upaya pencegahan kebakaran dan pelestarian kawasan hutan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko satwa liar terdampak kejadian serupa.
Tanggal kejadian: Minggu, 30 Agustus 2026
Lokasi: Desa Laman Satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat
Satwa: Orangutan jantan dewasa bernama Sampurna
Penanganan: Dievakuasi untuk pemeriksaan dan rehabilitasi setelah ditemukan dalam kondisi lemah dan mengalami gangguan pernapasan.
