MAKASSAR – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi salah satu persoalan sosial yang berdampak besar terhadap kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan keluarga. Tidak hanya dialami oleh korban secara langsung, dampaknya juga dapat dirasakan oleh anak-anak dan anggota keluarga lain yang menyaksikan atau hidup dalam lingkungan penuh kekerasan. Karena itu, membangun keluarga yang aman dan saling menghargai menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya KDRT.
Banyak orang menganggap KDRT hanya dipicu oleh emosi sesaat atau pertengkaran dalam rumah tangga. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks. KDRT umumnya dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, sosial, budaya, psikologis, hingga pola hubungan dalam keluarga. Tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan mengapa kekerasan terjadi.
Penelitian berjudul “Determinants of Intimate Partner Violence Against Women in Ethiopia: A Multi-level Analysis” yang diterbitkan dalam PLoS ONE pada 2020 menemukan bahwa tingkat pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial, serta ketimpangan dalam pengambilan keputusan di dalam rumah tangga menjadi faktor yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kekerasan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan KDRT tidak cukup hanya berfokus pada individu, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi keluarga dan lingkungan.
Masalah ekonomi sering menjadi salah satu pemicu munculnya konflik dalam keluarga. Tekanan akibat kehilangan pekerjaan, pendapatan yang menurun, atau kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat meningkatkan stres. Apabila tidak diimbangi dengan komunikasi yang sehat dan kemampuan mengelola emosi, konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Selain faktor ekonomi, kualitas komunikasi dalam keluarga juga memegang peranan penting. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. Akan tetapi, ketika konflik diselesaikan dengan ancaman, penghinaan, atau kekerasan fisik, hubungan keluarga menjadi tidak sehat dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi seluruh anggota keluarga.
Penelitian “Assessing the Needs of Victim Women of Domestic Violence Based on the Type and Causes of Violence”yang diterbitkan dalam Acta Medica Mediterranea pada 2015 menjelaskan bahwa lemahnya komunikasi, konflik berkepanjangan, dan kurangnya dukungan dalam keluarga merupakan beberapa faktor yang sering ditemukan pada kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Riwayat pengalaman hidup juga dapat memengaruhi perilaku seseorang. Penelitian “Three Types of Adverse Childhood Experiences, and Alcohol and Drug Dependence Among Adults” yang diterbitkan dalam Substance Use and Misusepada 2016 menunjukkan bahwa individu yang pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan sejak masa kanak-kanak memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah psikologis maupun perilaku ketika dewasa. Hal ini menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang aman bagi tumbuh kembang anak.
Penyalahgunaan alkohol dan narkoba juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Zat-zat tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan emosi dan mengambil keputusan sehingga konflik yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog justru berkembang menjadi tindakan agresif.
Dampak KDRT tidak hanya berupa luka fisik. Korban juga berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, trauma psikologis, hingga kehilangan rasa percaya diri. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan pun dapat mengalami gangguan perkembangan emosional, kesulitan belajar, serta berisiko mengulangi pola kekerasan ketika dewasa apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai.
Para ahli menilai bahwa pencegahan KDRT harus dimulai dari keluarga itu sendiri. Membangun komunikasi yang terbuka, saling menghargai pendapat pasangan, mengendalikan emosi saat menghadapi konflik, dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah merupakan langkah sederhana yang dapat memperkuat hubungan dalam rumah tangga.
Di sisi lain, dukungan dari lingkungan sekitar juga memiliki peran penting. Keluarga besar, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, maupun lembaga sosial dapat menjadi tempat bagi korban untuk mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang membahayakan. Semakin cepat korban memperoleh perlindungan dan pendampingan, semakin besar peluang untuk mencegah dampak yang lebih berat.
Penelitian “Community Based Intervention to Prevent Domestic Violence Against Women in the Reproductive Age in Northwestern Ethiopia” yang diterbitkan dalam Reproductive Health pada 2017 menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat melalui edukasi, peningkatan kesadaran, dan dukungan komunitas dapat membantu menurunkan risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Pendekatan berbasis komunitas dinilai mampu mendorong perubahan sikap serta memperkuat perlindungan terhadap korban.
Membangun keluarga yang aman bukan hanya tanggung jawab suami atau istri, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga dan masyarakat. Rumah seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa nyaman, saling menghormati, dan mendukung tumbuh kembang setiap anggotanya. Dengan komunikasi yang sehat, pengendalian emosi, serta kepedulian terhadap sesama, risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dapat ditekan sehingga keluarga dapat menjalankan fungsinya sebagai tempat yang aman dan penuh kasih sayang.




