Prioritaskan Tabungan Meski Banyak Tagihan, Begini Cara Mengaturnya

Makassar— Gaji baru masuk, tetapi sebagian besar langsung habis untuk membayar tagihan bulanan. Kondisi seperti ini dialami banyak anak muda, terutama mereka yang baru mulai bekerja atau hidup mandiri. Akibatnya, menabung sering menjadi prioritas terakhir, bahkan dilakukan hanya jika masih ada sisa uang di akhir bulan.

Padahal, kebiasaan tersebut justru membuat kondisi keuangan sulit berkembang. Menunggu ada sisa uang untuk ditabung sering kali berakhir dengan tidak menabung sama sekali. Pengelolaan keuangan yang sehat dimulai dari perencanaan, bukan dari besarnya penghasilan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan mengatur uang sejak usia muda memiliki pengaruh besar terhadap kondisi keuangan di masa depan. Dalam artikel Analysis of Financial Literacy Tendencies with Young People (2019), peneliti menjelaskan bahwa anak muda yang memiliki literasi keuangan lebih baik cenderung mampu membuat keputusan finansial yang lebih bijak, termasuk mengatur pengeluaran dan membangun kebiasaan menabung secara konsisten.

Penelitian lain berjudul Savings Patterns among Gen Z Youths (2020) juga menemukan bahwa kebiasaan menabung pada Generasi Z dipengaruhi oleh perencanaan keuangan, tujuan finansial, serta kedisiplinan dalam mengelola pengeluaran. Menariknya, besarnya pendapatan bukan satu-satunya faktor penentu. Konsistensi menyisihkan uang setiap bulan justru menjadi kebiasaan yang paling berpengaruh.

Sementara itu, studi Knowledge and Skills Are Not Enough—Exploring the Determinants of Financial Behavior Formation (2024) menyebutkan bahwa pengetahuan tentang keuangan saja tidak cukup. Perilaku keuangan yang baik terbentuk dari kebiasaan sehari-hari, pengendalian diri, dan kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Lalu, bagaimana cara tetap menabung meski tagihan bulanan cukup banyak? Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.

1. Susun anggaran sejak awal bulan

Begitu menerima gaji, buat daftar seluruh pemasukan dan pengeluaran yang harus dibayar. Catat kebutuhan tetap seperti biaya tempat tinggal, listrik, air, transportasi, cicilan, hingga kebutuhan makan. Dengan mengetahui ke mana uang akan dialokasikan, pengeluaran menjadi lebih terkontrol dan risiko belanja berlebihan dapat dikurangi.

Anggaran juga membantu melihat pos mana yang masih bisa dihemat. Misalnya, mengurangi pengeluaran untuk makan di luar, langganan aplikasi yang jarang digunakan, atau belanja impulsif yang sebenarnya tidak mendesak.

2. Sisihkan tabungan di awal, bukan di akhir

Kesalahan yang sering dilakukan adalah menabung dari uang sisa. Cara yang lebih efektif adalah langsung memindahkan sebagian penghasilan ke rekening tabungan sesaat setelah menerima gaji.

Nominalnya tidak harus besar. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara rutin setiap bulan. Seiring waktu, jumlah tabungan akan terus bertambah tanpa terasa.

3. Bangun dana darurat terlebih dahulu

Sebelum memikirkan investasi, pastikan memiliki dana darurat yang cukup. Dana ini berfungsi sebagai cadangan ketika menghadapi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, atau kebutuhan mendesak lainnya.

Idealnya, dana darurat mencapai tiga hingga enam kali kebutuhan hidup bulanan. Setelah dana darurat sudah terbentuk dan keuangan terasa lebih aman, barulah mulai mempertimbangkan investasi jangka panjang sesuai kemampuan dan profil risiko.

4. Bedakan kebutuhan dan keinginan

Tidak semua yang diinginkan harus langsung dibeli. Biasakan bertanya kepada diri sendiri apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan atau hanya karena sedang tren.

Memberi jeda satu hingga dua hari sebelum membeli barang yang tidak mendesak sering kali membantu mengurangi keputusan belanja yang impulsif.

5. Manfaatkan aplikasi pencatat keuangan

Mencatat setiap pengeluaran membuat kita lebih sadar ke mana uang digunakan setiap hari. Banyak aplikasi pengelola keuangan yang dapat membantu memantau arus kas, membuat anggaran, hingga mengingatkan target tabungan.

Cara sederhana ini memudahkan evaluasi pengeluaran setiap bulan sehingga kebiasaan boros lebih mudah dikenali dan diperbaiki.

6. Tentukan tujuan keuangan yang jelas

Menabung akan terasa lebih ringan jika memiliki tujuan yang spesifik. Misalnya untuk membeli kendaraan, melanjutkan pendidikan, biaya menikah, membuka usaha, atau menyiapkan uang muka rumah.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

Tujuan yang jelas membuat seseorang lebih termotivasi untuk mempertahankan kebiasaan menabung, sekalipun harus mengurangi pengeluaran yang kurang penting.

Mengatur keuangan bukan berarti harus menghilangkan semua kesenangan. Yang terpenting adalah memastikan setiap pengeluaran memiliki prioritas yang jelas. Dengan membiasakan membuat anggaran, membangun dana darurat, dan menabung secara konsisten, anak muda dapat menciptakan kondisi keuangan yang lebih stabil sekaligus memiliki modal yang kuat untuk mulai berinvestasi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.