Pekerjaan Rumah Kita Bersama: Merawat Nalar di Era Digital

Arsianita Nur Fattah, S.IP., M.PA.- Dosen Universitas Negeri Makassar

Indonesia hari ini tengah berada pada fase krusial dalam perjalanan pembangunannya. Bisa juga kita bahasakan secara sederhana, Indonesia sedang “Berbenah”. Memperkuat tata Kelola pemerintahan, meningkatkan sumber daya manusia, mempercepat transformasi digital dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif adalah beberapa tantangan besar yang sedang ada di depan mata. Ditambah lagi jika kita melihat lebih jauh, Indonesia juga dihadapkan dengan realitas situasi global yang semakin kompleks yang dewasa ini bukan hanya sekedar menciptakan dan menjaga hubungan bilateral, tetapi harus mampu menyeimbangkan dan memetakan tantangan maupun yang muncul baik dari eksternal dan juga internal.

Ketika melihat realitas tantangan Internal yang terjadi di Indonesia, sektor-sektor prioritas tentunya harus mampu berkesinambungan satu sama lain. Dari sektor ekonomi dapat kita ketahui bersama, ketergantungan kita terhadap suplay kebutuhan pasar global membuat posisi Indonesia yang sedang “Berbenah” tentunya menjadikan tantangan kita untuk memperkuat fondasi agar tidak mudah terguncang menghadapi realitas krisis internasional, perang dagang, maupun situasi fluktuasi harga pangan dan masih ketergantungan pada energi tidak terbarukan. Ditambah lagi ketergantungan kita pada kehadiran investasi asing untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam Indonesia menjadikan bentuk Intervensi baru yang mengikat. Pasar kerja yang belum relevan dengan kebutuhan industri menjadikan kita “kebingungan” menghadapi tantangan ini.

Sektor Ekonomi adalah landasan kuat sebuah negara untuk terus memiliki panggung dikancah Internasional, ancaman dari luar dan dalam yang perlu diperhatikan secara serius adalah bagaimana fenomena baru ini menjadi kekhawatiran saya yang mulai jadi budaya di masyarakat ialah bentuk transaksi pertaruhan daring yang mudah diakses siapa saja. Kenapa kita harus memperhatikan fenomena ini secara serius? hemat saya bagaimana sektor ekonomi harus betul-betul dijaga sedangkan ancaman yang datang begitu mudah untuk kita akses. Aktivitas seperti ini merubah kebiasaan kita yang senang melakukan transaksi langsung dalam berbelanja di pasar kecil sehingga secara tidak langsung mematikan perputaran ekonomi yang seharusnya terus kita jaga bersama.

Fenomena ini harus dilihat sebagai ancaman nyata yang harus kita selesaikan segera, kondisi semacam ini jika terus kita biarkan begitu saja dapat berpotensi memunculkan masalah sosial yang dampaknya tidak hanya untuk satu pihak. Menurunnya daya beli masyarakat adalah realitas dampak dari ancaman nyata yang akan kita hadapi dalam jangka panjang, yang secara bertahap akan memberikan tekanan pada stabilitas ekonomi yang lebih luas. Tidak hanya itu ancaman ini juga menciptakan perubahan moral dan karakter masyarakat yang menyerang langsung pada produktifitas kerja individu.  Jika fenomena ini dibiarkan secara masif tentunya akan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia dan akan memberikan ancaman baru bagi lingkungan kerja.

Dari sudut pandang yang lebih luas, hemat saya fenomena ini tidak memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi formal dikarenakan banyak bentuk transaksi yang berlangsung melalui jalur illegal dan bahkan uang transaksi dari aktivitas tersebut mengalir deras keluar negeri. Oleh karena itu fenomena ini bukan hanya perihal moral dan hukum, tetapi juga menjadi ancaman nyata yang pelan-pelan dapat menggerus ketahanan ekonomi secara perlahan. 

Menyikapi fenomena ini secara serius adalah bentuk bagaimana sebuah keresahan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, terkhususnya bagi saya akademisi muda yang miris melihat generasi muda berhadapan langsung dengan ancaman yang begitu mudah di akses. Fenomena ini bukan hanya mengancam kondisi ekonomi individu saja, tetapi juga pelan-pelan menyerang mentalitas instan pada generasi muda yang ingin memperoleh keuntungan tanpa proses dan usaha yang sehat. 

Fenomena ini berkembang cepat dengan mengikuti kemajuan transformasi digital dan menjadi “pekerjaan rumah” bagi pemerintah. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah harus secara serius memperluas program edukasi literasi digital secara masif dan terstruktur. Edukasi yang dimaksudkan disini bukan hanya bentuk seremonial hasil kerja, tetapi edukasi yang mampu menjangkau sekolah, perguruan tinggi, komunitas masyarakat serta bisa juga melalui platform digital agar bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Disini lain pengawasan terhadap bentuk transaksi mencurigakan adalah bagian paling urgen dan begitu mudah diakses. Mulai dari rekening bank, dompet digital dan berbagai metode pembayaran elektronik. Sistem pelaporan otomatis yang terintegrasi dengan status transaksi tidak wajar menjadi salah satu solusi yang dapat diperhatikan dan dikembangkan secara serius oleh pemerintah. Modus kejahatan digital berkembang secara cepat, tantangan hadirnya sebuah regulasi kebijakan yang mengatur juga harus menjadi prioritas. Sejatinya ruang dari fenomena ini hadir adalah bagian dari ancaman yang harus sesegera mungkin dihadirkannya regulasi yang responsif serta diiringin pengawasan, edukasi dan sosialiasi serta penindakan secara masif.

Stabilitas nasional memang memiliki banyak tantangan dan ancaman yang ada didepan mata. Sejatinya ada isu-isu dan fenomena yang belum memiliki solusi nyata dan harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Fenomena ini berkembang dan berdampingan terus menurus disekitar kita dan menjadi ukuran sebuah negara yang sehat adalah bagaimana menciptakan rasa aman bagi masyarakat. Perubahan dari sektor sosial budaya adalah ancaman awal yang dihadapi seperti karakter dan moral, serta perlahan menyerang bagian-bagian penting dari bagaimana kita menjalankan negara ini secara bersama. Sektor ekonomi adalah bagian kerucut atas yang paling terdampak apabila hal ini tidak bisa terselesaikan.

Menyampaikan hal ini menjadi bentuk keresahan sekaligus kepedulian saya pada negara ini, kemampuan bagaimana cara melihat dan menyikapi tantangan dan ancaman sejatinya tetap bervariatif, hemat saya semoga kita bisa terus sama-sama “berbenah” dengan sikap visioner yang lebih terbuka dan menjangkau kepentingan lapisan masyarakat dan demi menjaga keutuhan bangsa ini.

One thought on “Pekerjaan Rumah Kita Bersama: Merawat Nalar di Era Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.