Makassar – Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat membuat stevia semakin populer sebagai pengganti gula pasir. Pemanis alami yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana ini sering dipromosikan sebagai pilihan yang lebih sehat karena tidak mengandung kalori dan tidak meningkatkan kadar gula darah. Namun, benarkah stevia selalu lebih baik dibandingkan gula pasir?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stevia memang memiliki sejumlah keunggulan, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang mengurangi asupan gula. Namun, para ahli juga menegaskan bahwa pemilihan pemanis tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dan pola makan secara keseluruhan.
Perbedaan Utama Terletak pada Kandungan Kalori
Perbedaan paling mencolok antara stevia dan gula pasir terdapat pada kandungan kalorinya.
Gula pasir atau sukrosa mengandung sekitar 4 kalori per gram dan menjadi salah satu sumber energi dalam makanan. Sebaliknya, stevia hampir tidak mengandung kalori karena rasa manisnya berasal dari senyawa alami bernama steviol glikosida, bukan dari karbohidrat.
Menurut kajian Panpatil dan Polasa (2008), tingkat kemanisan stevia dapat mencapai 200 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan gula pasir. Karena itu, hanya diperlukan sedikit stevia untuk menghasilkan rasa manis yang setara dengan beberapa sendok gula.
Dampaknya terhadap Gula Darah
Salah satu alasan stevia banyak digunakan adalah karena tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah seperti gula pasir.
Berbeda dengan sukrosa yang cepat dipecah menjadi glukosa dan fruktosa sehingga meningkatkan kadar gula darah, stevia tidak memberikan efek glikemik yang berarti. Hal ini menjadikannya alternatif pemanis bagi penderita diabetes atau individu yang perlu mengontrol kadar gula darah.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan stevia bukan berarti penderita diabetes dapat mengabaikan pola makan sehat. Pengendalian gula darah tetap dipengaruhi oleh keseluruhan asupan makanan dan gaya hidup.
Pengaruh terhadap Berat Badan
Mengurangi konsumsi gula menjadi salah satu langkah yang sering dianjurkan dalam program pengendalian berat badan.
Karena tidak mengandung kalori, stevia dapat membantu mengurangi total asupan energi harian apabila digunakan sebagai pengganti gula pasir dalam minuman atau makanan tertentu.
Sebaliknya, konsumsi gula pasir secara berlebihan diketahui berkontribusi terhadap peningkatan asupan kalori yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa mengganti gula dengan stevia saja tidak otomatis menyebabkan penurunan berat badan apabila pola makan secara keseluruhan tetap tinggi kalori.
Bagaimana dengan Kesehatan Gigi?
Perbedaan lain terlihat pada dampaknya terhadap kesehatan gigi.
Gula pasir menjadi sumber makanan bagi bakteri di rongga mulut yang menghasilkan asam penyebab kerusakan gigi. Sebaliknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa stevia tidak mendukung pertumbuhan bakteri penyebab karies sehingga dinilai lebih aman bagi kesehatan gigi.
Temuan ini membuat stevia mulai digunakan sebagai pemanis pada berbagai produk yang ditujukan untuk mengurangi risiko kerusakan gigi.
Apakah Rasa Manisnya Sama?
Meskipun memiliki banyak keunggulan, stevia tidak selalu dapat menggantikan gula pasir dalam semua produk.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa stevia memiliki aftertaste atau rasa yang sedikit pahit maupun sensasi seperti licorice setelah dikonsumsi. Karakteristik tersebut membuat sebagian konsumen masih lebih menyukai rasa gula pasir, terutama pada produk makanan tertentu seperti kue atau minuman.
Karena itu, produsen sering mengombinasikan stevia dengan pemanis lain untuk menghasilkan rasa yang lebih mendekati gula.
Mana yang Lebih Baik?
Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa stevia menawarkan sejumlah manfaat dibandingkan gula pasir, terutama karena tidak mengandung kalori, tidak meningkatkan kadar gula darah secara signifikan, dan lebih ramah terhadap kesehatan gigi.
Namun, bukan berarti gula pasir harus dihindari sepenuhnya. Bagi orang yang sehat, gula tetap dapat dikonsumsi selama jumlahnya tidak berlebihan dan masih berada dalam batas yang dianjurkan.
Kuncinya adalah mengendalikan total konsumsi gula harian, baik yang berasal dari minuman manis, makanan olahan, maupun gula tambahan.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Dengan demikian, pilihan antara stevia dan gula pasir sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan gizi, dan tujuan masing-masing individu. Bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang mengurangi asupan kalori, stevia dapat menjadi alternatif yang layak. Sementara bagi masyarakat umum, yang paling penting adalah membatasi konsumsi gula secara keseluruhan sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Referensi
- Singh, S.D., & Rao, G.P. (2005). Stevia: The Herbal Sugar of 21st Century. Sugar Tech.
- Panpatil, V.V., & Polasa, K. (2008). Assessment of Stevia (Stevia rebaudiana): Natural Sweetener – A Review. Journal of Food Science and Technology.
- Durán A., S., dkk. (2012). Stevia (Stevia rebaudiana), Non-Caloric Natural Sweetener. Revista Chilena de Nutrición.
- Aswin Kumar, A., dkk. (2015). Stevia the Ideal Sweetener: A Review. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences.
- Sharma, S., dkk. (2016). Comprehensive Review on Agro Technologies of Low-Calorie Natural Sweetener Stevia. Journal of the Science of Food and Agriculture.
- Wang, J., dkk. (2020). A Review of Stevia as a Potential Healthcare Product. Trends in Food Science & Technology.
