“Hidup Layak Itu Bare Minimum, Kaya Raya Adalah Mimpi”: POV Gen Z tentang Pidato Presiden Prabowo

Oleh: Andi Rizka Ekaputri.,S.Pd.,M.Pd (Dosen Pend. Administrasi Perkantoran)

Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 20 Mei 2026 menjadi perhatian besar di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) di DPR RI, Presiden mengatakan, “Rakyat kita tidak bermimpi untuk mengalami kehidupan yang kaya raya, tapi mereka bermimpi untuk bisa hidup dengan layak, dengan baik.” Kalimat tersebut terdengar sederhana dan menenangkan. Namun setelah pidato itu viral, banyak anak muda mulai mempertanyakan satu hal penting: apakah hidup layak memang masih dianggap sebuah mimpi?

Di media sosial, salah satu respons yang cukup ramai datang dari akun TikTok @kharismanisaaaa yang mengatakan bahwa bagi Gen Z, hidup layak hanyalah bare minimum. Bisa makan dengan tenang, memiliki tempat tinggal yang aman, mendapatkan layanan kesehatan yang baik, bekerja dengan upah yang cukup, dan mempunyai waktu istirahat yang layak bukanlah kemewahan. Semua itu adalah kebutuhan paling dasar manusia. Karena itu, ketika hidup layak masih terasa sulit dicapai, muncul perasaan bahwa realitas sosial dan ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Pendapat tersebut dianggap sangat relate karena menggambarkan kenyataan yang dialami banyak anak muda sekarang. Memiliki beberapa pekerjaan sekaligus, menunda menikah, atau terus memikirkan kondisi finansial bukan lagi sekadar pilihan, tetapi bentuk adaptasi terhadap kerasnya biaya hidup saat ini. Jika hidup layak saja sudah terasa mahal, apakah salah jika generasi muda tetap bermimpi menjadi kaya?

Banyak orang sering menganggap mimpi menjadi kaya identik dengan flexing atau gaya hidup mewah. Padahal bagi sebagian besar Gen Z, kaya bukan lagi soal membeli barang mahal atau pamer kemewahan di media sosial. Kaya dimaknai sebagai kondisi ketika seseorang tidak hidup dalam rasa cemas setiap hari. Bisa membeli rumah tanpa takut terjebak cicilan panjang, memiliki tabungan darurat, membantu orang tua, menikmati hidup tanpa rasa bersalah, dan tidak takut jatuh sakit karena biaya pengobatan mahal itu sudah dianggap sebagai bentuk “kaya” oleh banyak anak muda.

Realitas hidup hari ini memang membuat standar kehidupan berubah. Harga rumah terus naik, biaya pendidikan mahal, kebutuhan pokok meningkat, dan lapangan pekerjaan semakin kompetitif. Banyak Gen Z bekerja lebih dari satu pekerjaan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang menjadi pekerja tetap sambil freelance, berjualan online, hingga mengambil pekerjaan tambahan di malam hari. Ironisnya, semua itu sering kali masih belum cukup untuk memberikan rasa aman terhadap masa depan.

Karena itu, ketika muncul narasi bahwa rakyat tidak bermimpi menjadi kaya raya, sebagian generasi muda merasa bahwa realitas hidup mereka tidak sepenuhnya terwakili. Sebab dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, hidup layak saja membutuhkan kekuatan finansial yang besar. Maka tidak heran jika mimpi menjadi kaya tetap hidup di tengah masyarakat.

Dalam pidatonya, Presiden juga mengatakan bahwa rakyat ingin “bisa makan dengan baik tiap hari, bisa memberi susu untuk anak-anaknya, bisa mencari obat bilamana anak mereka sakit.” Pernyataan tersebut memang sangat manusiawi dan dekat dengan kebutuhan dasar masyarakat. Namun justru di situlah letak persoalannya. Kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi hak semua orang kini terasa semakin mahal untuk dipenuhi. Akibatnya, hidup layak yang semestinya mudah dicapai justru terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan sangat keras.

Media sosial akhirnya menjadi ruang tempat generasi muda menyampaikan keresahan mereka secara lebih terbuka. Respons yang muncul bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap pidato pemerintah, melainkan refleksi dari tekanan hidup yang benar-benar mereka rasakan setiap hari. Gen Z tidak sedang menolak kesederhanaan. Mereka hanya ingin memiliki kehidupan yang aman, stabil, dan manusiawi tanpa terus-menerus dihantui kecemasan finansial.

Pada akhirnya, diskusi ini menunjukkan bahwa ada perbedaan cara pandang antara narasi ideal dan realitas kehidupan sehari-hari. Hidup layak memang seharusnya menjadi hak dasar seluruh warga negara, bukan mimpi yang sulit dicapai. Namun karena realitas ekonomi semakin berat, banyak anak muda akhirnya tetap bermimpi menjadi kaya. Bukan untuk hidup berlebihan, tetapi agar bisa hidup tenang.

Dan mungkin, pertanyaan paling penting yang perlu direnungkan bersama adalah: jika hidup layak saja masih terasa seperti perjuangan, apakah salah jika kaya raya tetap menjadi mimpi banyak orang?

2 thoughts on ““Hidup Layak Itu Bare Minimum, Kaya Raya Adalah Mimpi”: POV Gen Z tentang Pidato Presiden Prabowo

  1. Keren, pandangan Gen Z tentang hidup layak sebagai ‘bare minimum’ menunjukkan adanya perubahan standar kesejahteraan generasi muda, di mana stabilitas ekonomi, kesehatan mental, dan kualitas hidup kini dianggap kebutuhan dasar, bukan lagi kemewahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.