Menggugat Industri Perjokian Ilmiah dan Jurnal Predator: Ketika Nalar Kritis Kampus Kalah oleh Syahwat Prestise Instan

Oleh: Andi Putri Tenriyola,S.E.,M.M (Dosen Prodi Administrasi Perkantoran UNM)

Riuh rendah pembongkaran skandal sindikat perjokian karya ilmiah (skripsi, tesis, hingga disertasi) serta maraknya publikasi di jurnal predator belakangan ini bukan lagi sekadar rahasia umum yang bisik-bisik dibicarakan di koridor kampus. Ini adalah sebuah tragedi intelektual. Ketika gelar akademik tertinggi dan jabatan fungsional bisa dibeli lewat transaksi digital di platform e-commerce atau agensi terselubung, di titik itulah marwah perguruan tinggi sedang dipertaruhkan. Sebagai dosen yang berkomitmen melatih nalar kritis mahasiswa, saya melihat fenomena ini sebagai kanker stadium empat dalam dunia pendidikan kita sebuah kerusakan moral yang sangat “menyala” dampaknya bagi masa depan bangsa.

Mari kita bedah akar masalahnya secara jujur. Mengapa industri joki dan jurnal predator ini tumbuh subur bak jamur di musim hujan? Jawabannya adalah karena adanya sistem regulasi yang terlalu mendewakan kuantitas dan formalitas administratif, namun abai terhadap substansi proses.

Kampus dan pembuat kebijakan sering kali menjebak dosen dan mahasiswa dalam target-target makro yang tidak realistis: sekian publikasi terindeks global per tahun sebagai syarat kelulusan atau kenaikan pangkat, tanpa diimbangi dengan ekosistem riset yang sehat, dana penelitian yang memadai, dan waktu berpikir yang cukup. Ketika beban administrasi birokrasi kampus menjerat waktu luang pengajar dari pagi hingga malam, jalan pintas yang pragmatis akhirnya diambil. Keharusan menulis berubah menjadi beban, dan beban melahirkan pasar gelap akademis.

Dampak dari runtuhnya integritas ini sangat mengerikan bagi generasi muda (mahasiswa). Bagaimana kita bisa mengajarkan tentang profesionalisme, kejujuran, dan etika teknologi jika di saat yang sama mereka melihat contoh nyata bahwa “gelar dan reputasi bisa dibeli asal punya uang”? Kita sedang mendidik calon pemimpin masa depan untuk menjadi plagiator ulung dan koruptor intelektual sejak dari bangku kuliah. Jika hulu pendidikan kita sudah tercemar oleh cara-cara instan, maka hilir dari birokrasi dan industri kita kelak akan dipenuhi oleh para pengambil kebijakan yang miskin integritas.

Perjokian ilmiah ini juga merusak esensi dari teknologi digital itu sendiri. Di era AI generatif dan big data saat ini, teknologi seharusnya menjadi alat bantu (enabler) untuk mempercepat analisis riset, bukan menjadi mesin cetak instan karya ilmiah tanpa keterlibatan pemikiran manusia sama sekali. Menggunakan keahlian digital untuk memanipulasi data penelitian demi tembus jurnal internasional adalah pelanggaran etika profesional berat yang mereduksi hakikat ilmu pengetahuan sebagai alat pembebasan dan pemecah masalah sosial.

Kita harus mendesak Kementerian Pendidikan tinggi dan jajaran rektorat untuk melakukan evaluasi total dan radikal terhadap tata kelola penilaian akademik. Hentikan pembungkaman nalar melalui dewa-dewa metrik publikasi formalitas. Standar kelulusan mahasiswa dan kenaikan pangkat dosen harus digeser pada metodologi Problem-Based Learning (PBL) dan riset aksi nyata yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, bukan cuma sekadar angka statistik di pangkalan data. Selain itu, penegakan hukum dan sanksi akademik terhadap pelaku serta penyedia jasa joki harus dilakukan tanpa tebang pilih, mulai dari tingkat mahasiswa hingga guru besar.

Bagi rekan-rekan dosen dan mahasiswa yang masih memilih jalan sunyi integritas: bertahanlah. Memang melelahkan menulis baris demi baris, melakukan revisi berkali-kali, dan menghadapi penolakan jurnal secara jujur. Namun, ingatlah bahwa esensi dari seorang akademisi bukanlah seberapa panjang gelar di depan atau di belakang nama kita, melainkan seberapa otentik nalar kritis kita dan seberapa jujur kita dalam merawat kebenaran ilmiah.

Pada akhirnya, reputasi sebuah universitas tidak dibangun dari kemegahan gerbangnya atau seberapa banyak jurnal yang berhasil “dibeli” oleh sivitas akademikanya, melainkan dari keteguhan moral dalam mempertahankan kebenaran. Negara ini tidak akan pernah maju jika dipimpin oleh orang-orang bergelar mentereng hasil kerja joki. Saatnya kita menyalakan alarm perang terhadap komersialisasi akademik, bersihkan kampus dari mentalitas instan, dan kembalikan mimbar akademik sebagai tempat suci lahirnya kebenaran dan keadilan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.