Oleh: Andi Putri Tenriyola,S.E.,M.M (Dosen Administrasi Perkantoran UNM)
Sebagai dosen milenial yang setiap tahun melepas lulusan sarjana ke bursa kerja, saya melihat fenomena ini bukan lagi sekadar candaan di Twitter (X) atau LinkedIn, melainkan sebuah tragedi struktural.
Keluhan anak muda di media sosial mengenai syarat lowongan kerja (loker) belakangan ini telah mencapai tahap yang menggelikan sekaligus mengenaskan. Bayangkan, untuk posisi tingkat pemula (entry-level) atau bahkan magang, perusahaan tanpa ragu meminta syarat: “Pengalaman minimal 3 tahun, menguasai 5 software ahli, siap kerja di bawah tekanan, dan bersedia digaji di bawah UMR.” Fenomena kualifikasi loker yang tidak masuk akal ini bukan sekadar strategi seleksi biasa. Sebagai dosen yang mengamati etika profesional dan manajemen sumber daya manusia, saya melihat ini sebagai bentuk keputusasaan industri yang berujung pada eksploitasi terselubung terhadap generasi muda. Ini adalah lampu merah bagi masa depan ketenagakerjaan kita yang sangat menyala rusaknya!
Mari kita bedah kontradiksi berpikir ini secara jernih. Di satu sisi, kita sering mendengar keluhan dari para petinggi korporasi bahwa Gen Z adalah generasi yang “rapuh,” mudah kutu loncat, dan kurang kompeten. Namun, di sisi lain, industri justru menciptakan standar masuk yang sangat tidak realistis. Bagaimana mungkin seorang fresh graduate bisa memiliki pengalaman kerja tiga tahun jika setiap pintu entry-level dikunci oleh syarat pengalaman yang sama? Ini adalah lingkaran setan logika yang cacat. Perusahaan ingin mendapatkan tenaga kerja dengan kualifikasi “setingkat manajer,” tetapi ingin membayar mereka dengan harga “setingkat kuli.” Ini bukan mencari pekerja, ini adalah perburuan talenta murah demi efisiensi anggaran korporasi yang serakah.
Dampak dari fenomena ini sangat destruktif bagi psikologis anak muda. Banyak lulusan perguruan tinggi hari ini mengalami imposter syndrome dan kecemasan akut (anxiety) sebelum mereka sempat melangkah ke dunia nyata. Mereka merasa investasi waktu, biaya, dan air mata selama kuliah menjadi sia-sia karena tidak mampu memenuhi ekspektasi industri yang bergerak di luar batas rasionalitas. Lebih jauh lagi, pengetatan syarat yang konyol ini memicu suburnya praktik-praktik manipulatif, seperti pemalsuan portofolio atau manipulasi CV, demi bisa lolos dari sistem penyaringan otomatis (Applicant Tracking System/ATS). Ketika sistem dibuat tidak adil, maka ekosistem yang lahir di sekitarnya pun akan ikut tidak sehat.
Etika profesional dalam dunia bisnis harus dikembalikan pada relnya. Perusahaan harus sadar bahwa fungsi dari menerima pekerja baru, terutama lulusan muda, adalah untuk berinvestasi pada potensi, bukan cuma memeras kompetensi yang sudah matang. Harus ada pemisahan yang tegas dalam regulasi ketenagakerjaan mengenai apa itu fungsi magang, fresh graduate, dan experienced professional. Kementerian Ketenagakerjaan tidak boleh pasif dan hanya menjadi penonton; harus ada pengawasan terhadap etika penulisan syarat loker agar tidak melanggar asas keadilan dan kepatutan sosial.
Bagi kalian generasi muda, menghadapi pasar kerja yang sedang “sakit” ini artinya kalian harus melipatgandakan strategi. Jangan biarkan kualifikasi loker yang tidak masuk akal itu meruntuhkan harga dirimu. Jika sebuah perusahaan meminta syarat setinggi langit dengan penawaran gaji seadanya, itu adalah bendera merah (red flag) terbesar bahwa budaya kerja di sana beracun (toxic). Fokuslah membangun personal branding yang otentik, kuasai keahlian spesifik yang sulit digantikan oleh kecerdasan buatan (AI), dan manfaatkan jalur jejaring (networking) formal maupun informal.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Pada akhirnya, kemajuan ekonomi sebuah bangsa tidak akan pernah tercapai jika industrinya memperlakukan para pencari kerja muda sebagai komoditas yang bisa diperas tanpa ampun. Lulusan perguruan tinggi adalah aset masa depan, bukan mesin instan yang siap pakai tanpa perlu dibimbing. Saatnya industri berbenah dan menurunkan ego mereka. Turunkan standar kualifikasi ke bumi, manusiakan para pencari kerja, dan berikan ruang bagi generasi muda untuk belajar, bertumbuh, dan membuktikan bahwa mereka layak untuk memimpin masa depan!
