Oleh: Sitti Hardiyanti Arhas (Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran, UNM)
Tanggal 1 Juni, kita kembali mengingat Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Berbagai upacara digelar, pidato disampaikan, dan media sosial dipenuhi ucapan selamat Hari Lahir Pancasila. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan bersama: apakah Pancasila sudah benar-benar hidup dalam keseharian kita?
Banyak orang mengenal Pancasila sebagai lima sila yang dihafalkan sejak sekolah dasar. Padahal, Pancasila jauh lebih dari sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan saat upacara. Pancasila tercermin dalam cara kita memperlakukan sesama, menghargai perbedaan, menjaga kejujuran, membantu mereka yang membutuhkan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Jika direnungkan lebih dalam, inti dari nilai-nilai Pancasila sesungguhnya sangat dekat dengan satu kata yang sederhana: cinta.
Cinta kepada Tuhan mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri. Cinta kepada sesama mengajarkan kita untuk menghormati setiap manusia tanpa memandang suku, agama, latar belakang, maupun status sosialnya. Cinta kepada tanah air menumbuhkan kesediaan untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman. Cinta kepada keadilan mendorong kita untuk peduli kepada mereka yang masih tertinggal dan membutuhkan uluran tangan.
Sayangnya, di tengah kehidupan modern, cinta sering kali kalah oleh ego. Media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi kebaikan tidak jarang berubah menjadi arena saling menyerang. Perbedaan pendapat dianggap sebagai permusuhan. Kritik dibalas dengan caci maki. Kita menjadi lebih mudah menghakimi daripada memahami.
Padahal Indonesia tidak pernah dibangun oleh kebencian. Bangsa ini lahir dari semangat kebersamaan. Para pendiri bangsa datang dari latar belakang yang berbeda dan membawa gagasan yang beragam. Mereka tidak selalu sepakat dalam segala hal, tetapi mereka dipersatukan oleh kecintaan yang besar terhadap Indonesia. Mereka memahami bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dirawat bersama.
Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa merawat Indonesia tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Kita tidak harus menjadi pejabat, tokoh masyarakat, atau orang terkenal untuk berkontribusi bagi bangsa. Sering kali, perubahan justru dimulai dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Merawat Indonesia dapat dimulai dengan menjaga ucapan agar tidak melukai orang lain. Merawat Indonesia dapat dilakukan dengan membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Merawat Indonesia juga berarti menghargai mereka yang berbeda pilihan, berbeda keyakinan, maupun berbeda pandangan. Tindakan-tindakan kecil seperti inilah yang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat besar bagi kehidupan bersama.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari polarisasi sosial, penyebaran hoaks, hingga menurunnya kepedulian terhadap sesama, Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang memilih menyebarkan cinta daripada kebencian. Dunia mungkin tidak langsung berubah karena satu tindakan baik. Namun, setiap kebaikan selalu memiliki kemampuan untuk menular.
Senyum yang tulus dapat menguatkan seseorang yang sedang kehilangan harapan. Bantuan kecil dapat menjadi penyelamat bagi mereka yang sedang berjuang. Kata-kata yang menenangkan dapat meredakan konflik yang hampir membesar. Semua itu adalah bentuk cinta yang sederhana, tetapi nyata.
Menariknya, makna cinta yang menjadi inti dari banyak nilai Pancasila tidak hanya relevan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga dalam kehidupan yang paling dekat dengan kita. Sebab kemampuan untuk menghargai, memahami, bersabar, dan peduli pertama kali dipelajari melalui hubungan-hubungan yang dibangun setiap hari.
Selama ini, cinta sering digambarkan melalui bunga, hadiah, atau ungkapan romantis. Padahal, semakin bertambah usia, saya justru memahami bahwa cinta sering hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Ia terlihat dalam kesabaran menghadapi keadaan yang tidak selalu mudah. Ia tumbuh melalui pengertian saat perbedaan muncul. Ia bertahan melalui komitmen untuk tetap berjalan bersama, bahkan ketika hidup menghadirkan berbagai tantangan.
