Kasus yang menimpa Yuvita Tri Rezeki (29), warga Rancaekek, Kabupaten Bandung, menjadi perhatian publik setelah ia ditemukan dalam kondisi kritis usai menghilang selama hampir tiga tahun. Polisi kini menyelidiki dugaan penyekapan dan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh pria berinisial TH yang diketahui merupakan kekasih korban.
Menurut keterangan keluarga, Yuvita pertama kali mengenal TH saat menghadiri sebuah konser musik di Tritan Point, Bandung, pada 2023. Dari perkenalan tersebut, keduanya kemudian menjalin hubungan asmara. Tidak lama setelah hubungan mereka berjalan, keluarga mulai merasakan perubahan pada diri korban.
Komunikasi yang sebelumnya terjalin dengan baik perlahan mulai berkurang. Yuvita semakin sulit dihubungi dan jarang memberikan kabar kepada keluarganya. Kondisi itu membuat keluarga khawatir, terlebih setelah korban tidak lagi terlihat di tempat kerja maupun lingkungan tempat tinggalnya.
Adik korban, Syahrul Ulum, mengatakan pihak keluarga sempat berusaha mencari keberadaan Yuvita ke tempat kos dan lokasi kerjanya di kawasan Pasteur, Bandung. Namun saat didatangi, korban sudah tidak berada di sana dan tidak lagi bekerja di tempat tersebut. Berbagai upaya pencarian dilakukan, termasuk menyebarkan informasi orang hilang melalui media sosial, tetapi tidak membuahkan hasil.
Selama masa kehilangan itu, keluarga sesekali masih menerima pesan dari nomor telepon korban. Dalam pesan tersebut, Yuvita mengaku sedang bekerja di Jakarta dan meminta keluarganya tidak mengkhawatirkan dirinya. Meski demikian, keluarga merasa ada kejanggalan karena korban tidak pernah bersedia melakukan panggilan telepon maupun video call secara langsung.
Harapan keluarga untuk menemukan Yuvita kembali muncul ketika seorang penjaga kos bernama Resa mengungkap bahwa korban pernah dibawa ke sebuah rumah kos di wilayah Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Menurut keterangan Resa, saat pertama kali tiba di lokasi, kondisi Yuvita sudah sangat lemah.
Korban disebut datang pada malam hari bersama seorang pria yang mengaku sebagai suaminya. Saat itu Yuvita tidak mampu berjalan sendiri dan harus dipapah masuk ke dalam kamar. Kondisinya membuat pengelola kos dan sejumlah penghuni sekitar merasa prihatin.
Pria tersebut mengaku telah menikah dengan korban. Namun ketika diminta menunjukkan dokumen pernikahan, ia hanya berjanji akan memperlihatkannya di lain waktu. Hingga keduanya meninggalkan rumah kos tersebut, dokumen yang dimaksud tidak pernah ditunjukkan. Belakangan, keluarga menegaskan bahwa korban dan pria tersebut tidak pernah menikah secara resmi dan hanya berstatus sebagai pasangan kekasih.
Selama tinggal di rumah kos itu, korban disebut hampir tidak pernah terlihat keluar kamar. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dan kondisinya terus menurun dari waktu ke waktu. Penjaga kos mengaku beberapa kali melihat korban dalam keadaan lemah dan kesulitan beraktivitas.
Keluarga yang selama ini kehilangan jejak korban akhirnya memperoleh kabar mengenai keberadaan Yuvita setelah seorang warga menghubungi mereka dan menyampaikan bahwa korban sedang menjalani perawatan medis. Informasi tersebut menjadi titik awal terungkapnya kondisi yang dialami Yuvita selama bertahun-tahun.
Saat ditemukan dan mendapatkan penanganan medis, kondisi korban disebut sangat memprihatinkan. Tubuhnya mengalami banyak luka dan ia kesulitan berkomunikasi. Dari hasil pemeriksaan awal, korban diketahui mengalami luka berat pada bagian kepala, wajah, kaki, dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Pihak kepolisian kemudian mengungkap dugaan bahwa korban mengalami kekerasan dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, ditemukan indikasi penganiayaan yang diduga dilakukan menggunakan tangan kosong, benda tumpul, hingga benda tajam.
Kondisi korban yang paling memprihatinkan adalah gangguan pada penglihatannya. Salah satu mata korban dilaporkan tidak lagi dapat berfungsi, sementara mata lainnya memiliki peluang yang sangat kecil untuk pulih secara normal. Korban juga harus menjalani perawatan intensif akibat berbagai luka dan infeksi yang dideritanya.
Tidak hanya mengalami penderitaan fisik, korban juga diduga mengalami kerugian materiil. Keluarga melaporkan sejumlah barang berharga milik korban hilang, dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Seiring mencuatnya kasus tersebut, berbagai keterangan saksi mulai bermunculan. Kesaksian penjaga kos, keluarga, serta sejumlah pihak yang mengetahui keberadaan korban memperkuat dugaan bahwa Yuvita mengalami penyekapan dan pengendalian yang membuatnya terisolasi dari keluarga maupun lingkungan sosialnya selama bertahun-tahun.
Pihak kepolisian kini masih memburu TH yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Aparat terus mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi guna mengungkap secara utuh apa yang sebenarnya terjadi selama Yuvita menghilang dari keluarganya.
