Makassar– Kekerasan dalam pacaran masih menjadi persoalan yang banyak terjadi, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap kekerasan hanya terjadi ketika ada pemukulan atau tindakan yang meninggalkan luka pada tubuh. Padahal, kekerasan dalam hubungan romantis memiliki banyak bentuk, bahkan sebagian besar tidak meninggalkan bekas fisik.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kekerasan dalam pacaran dapat berupa kekerasan fisik, psikologis, seksual, kekerasan digital, hingga perilaku mengontrol pasangan secara berlebihan. Dalam banyak kasus, korban tidak hanya mengalami satu bentuk kekerasan, tetapi beberapa bentuk sekaligus sehingga dampaknya menjadi lebih berat.
Penelitian Ajduković dan Ručević (2009) menjelaskan bahwa kekerasan dalam pacaran mencakup tiga bentuk utama, yakni kekerasan fisik, psikologis, dan seksual. Ketiganya dapat terjadi secara bersamaan dalam satu hubungan dan menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik maupun mental korban.
Kekerasan Fisik Hanya Salah Satu Bentuk
Kekerasan fisik merupakan bentuk yang paling mudah dikenali. Perilaku seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencekik, atau melempar benda kepada pasangan termasuk dalam kategori ini.
Namun, banyak kasus justru diawali oleh bentuk kekerasan lain yang tidak terlihat. Korban sering kali sudah mengalami penghinaan, ancaman, atau kontrol yang berlebihan sebelum akhirnya mengalami kekerasan fisik.
Kekerasan Psikologis Sering Disalahartikan sebagai Bentuk Perhatian
Kekerasan psikologis merupakan bentuk yang paling sering terjadi. Pelaku dapat menghina pasangan, mempermalukan di depan orang lain, memanipulasi emosi, membuat korban merasa bersalah, membatasi pergaulan, hingga mengontrol setiap aktivitas.
Tidak sedikit pelaku menggunakan alasan cinta atau rasa cemburu untuk membenarkan perilaku tersebut. Padahal, tindakan yang membuat seseorang kehilangan kebebasan dan merasa takut dalam sebuah hubungan bukanlah bentuk kasih sayang.
Kekerasan Seksual Tidak Selalu Menggunakan Paksaan Fisik
Kekerasan seksual tidak hanya berupa pemaksaan hubungan seksual. Meminta foto atau video intim, menyentuh tubuh tanpa persetujuan, memaksa pasangan memenuhi keinginan seksual, atau menggunakan ancaman agar pasangan menuruti kemauan juga termasuk bentuk kekerasan seksual.
Korban sering kali kesulitan menolak karena berada dalam hubungan yang penuh tekanan dan manipulasi emosional.
Waspadai Kontrol Berlebihan dalam Hubungan
Penelitian Kwon dan Park (2019) menyoroti fenomena coercive control, yaitu perilaku mengontrol pasangan secara perlahan hingga korban kehilangan kebebasan mengambil keputusan.
Pelaku biasanya ingin mengetahui setiap aktivitas pasangan, menentukan dengan siapa korban boleh berteman, meminta akses ke telepon genggam dan media sosial, hingga mengatur cara berpakaian atau aktivitas sehari-hari.
Sekilas perilaku tersebut terlihat sebagai bentuk perhatian. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pola kontrol semacam ini sering menjadi awal munculnya kekerasan yang lebih berat.
Kekerasan Digital Semakin Sering Terjadi
Perkembangan media sosial juga melahirkan bentuk kekerasan baru, yaitu cyber dating violence.
Menurut penelitian Semenza dan Grosholz (2021), kekerasan digital terjadi ketika pelaku menggunakan teknologi untuk mengawasi, mengintimidasi, atau mempermalukan pasangan. Bentuknya dapat berupa memeriksa isi telepon genggam tanpa izin, meminta kata sandi media sosial, mengirim pesan ancaman, memaksa membagikan lokasi, hingga menyebarkan foto pribadi tanpa persetujuan.
Bentuk kekerasan ini semakin banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda yang aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Kenali Tandanya Sejak Awal
Hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa saling menghormati, saling percaya, dan komunikasi yang terbuka. Sebaliknya, hubungan patut diwaspadai jika salah satu pihak mulai mengontrol kehidupan pasangan, membatasi pergaulan, menggunakan ancaman, melakukan penghinaan, atau memaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Mengenali tanda-tanda tersebut sejak awal dapat membantu seseorang terhindar dari hubungan yang tidak sehat. Jika mengalami kekerasan dalam pacaran, korban tidak perlu menghadapi situasi itu sendirian. Dukungan keluarga, teman, tenaga profesional, maupun lembaga pendamping dapat menjadi langkah awal untuk keluar dari hubungan yang penuh kekerasan.




