Kurang Tidur Bikin Mudah Marah hingga Cemas, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Makassar – Pernah merasa lebih mudah marah, tersinggung, atau cemas setelah begadang? Kondisi tersebut bukan sekadar perasaan sesaat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan otak dalam mengendalikan emosi sehingga suasana hati menjadi lebih mudah berubah dan cenderung negatif.

Para ahli menjelaskan bahwa tidur bukan hanya berfungsi untuk menghilangkan rasa lelah, tetapi juga menjadi waktu bagi otak untuk memulihkan fungsi yang berkaitan dengan pengaturan emosi. Ketika durasi maupun kualitas tidur berkurang, kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan dan mengelola perasaan ikut menurun.

Penelitian Schwarz dkk. (2019) yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Research menemukan bahwa kurang tidur menyebabkan penurunan suasana hati yang lebih nyata pada kelompok usia muda dibandingkan orang dewasa yang lebih tua. Temuan tersebut menunjukkan bahwa usia produktif, yang sering kali memiliki jadwal padat dan kebiasaan begadang, menjadi kelompok yang rentan mengalami perubahan emosi akibat kurang tidur.

Otak Menjadi Sulit Mengendalikan Emosi

Salah satu penyebab utama perubahan suasana hati akibat kurang tidur adalah terganggunya fungsi korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan merespons situasi secara rasional.

Penelitian Stenson dkk. (2021) dalam PLoS ONE menunjukkan bahwa kurang tidur menurunkan kemampuan otak dalam mengendalikan respons emosional (top-down regulation of emotion). Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah bereaksi secara emosional terhadap masalah yang sebenarnya tergolong ringan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut dapat terlihat ketika seseorang lebih cepat tersinggung, mudah kehilangan kesabaran, atau memberikan respons yang berlebihan terhadap situasi yang biasanya dapat dihadapi dengan tenang.

Lebih Mudah Marah dan Tersinggung

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rasa marah merupakan salah satu perubahan emosi yang paling sering muncul setelah seseorang mengalami kurang tidur.

Penelitian Short dan Louca (2015) dalam Sleep Medicine menemukan bahwa remaja yang mengalami kurang tidur menunjukkan peningkatan perasaan marah, cemas, sedih, bingung, serta kelelahan dibandingkan mereka yang memperoleh waktu tidur yang cukup. Pada saat yang sama, perasaan positif seperti semangat dan antusiasme justru mengalami penurunan.

Hal tersebut menjelaskan mengapa seseorang yang kurang tidur sering merasa tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari meskipun tidak sedang menghadapi masalah besar.

Stres Terasa Lebih Berat

Kurang tidur juga membuat seseorang menjadi lebih sensitif terhadap tekanan.

Penelitian Minkel dkk. (2012) yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion menemukan bahwa orang yang mengalami kurang tidur menunjukkan respons emosional yang lebih negatif ketika menghadapi stres ringan dibandingkan individu yang memiliki waktu tidur cukup.

Artinya, persoalan kecil seperti kemacetan, pekerjaan yang menumpuk, atau perbedaan pendapat dengan orang lain dapat terasa jauh lebih berat ketika seseorang berada dalam kondisi kurang tidur.

Para peneliti menilai hal tersebut terjadi karena otak yang kelelahan menjadi lebih sulit mengendalikan respons terhadap tekanan psikologis.

Risiko Cemas dan Depresi Meningkat

Selain memengaruhi suasana hati sehari-hari, kurang tidur dalam jangka panjang juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Kajian Meerlo, Havekes, dan Steiger (2015) dalam Current Topics in Behavioral Neurosciences menyimpulkan bahwa gangguan tidur kronis dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap berkembangnya depresi. Sementara itu, penelitian Khan dan Aouad (2017) menunjukkan bahwa insomnia maupun kurang tidur sering ditemukan bersamaan dengan berbagai gangguan kesehatan mental.

Hubungan tersebut bersifat dua arah. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan, sementara orang yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan juga sering mengalami kesulitan tidur.

Menurunkan Motivasi dan Perasaan Positif

Tidur yang tidak cukup tidak hanya meningkatkan emosi negatif, tetapi juga mengurangi emosi positif.

Menurut kajian Chappel-Farley, Goldstein, dan Benca (2023) dalam Encyclopedia of Sleep and Circadian Rhythms, kurang tidur menyebabkan berkurangnya perasaan bahagia, semangat, optimisme, serta kemampuan menikmati aktivitas sehari-hari.

Akibatnya, seseorang dapat merasa kurang termotivasi untuk bekerja, belajar, maupun berinteraksi dengan orang lain. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas serta kualitas hubungan sosial.

Dampaknya Terasa di Lingkungan Kerja dan Keluarga

Perubahan suasana hati akibat kurang tidur tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Seseorang yang mudah marah atau sulit mengendalikan emosi berpotensi mengalami konflik dengan pasangan, keluarga, teman, maupun rekan kerja. Selain itu, penurunan kemampuan berkonsentrasi membuat komunikasi menjadi kurang efektif sehingga meningkatkan risiko terjadinya kesalahpahaman.

Di lingkungan kerja, kondisi ini juga dapat memengaruhi kerja sama tim, kualitas pelayanan, hingga proses pengambilan keputusan, terutama pada profesi yang membutuhkan konsentrasi dan kestabilan emosi.

Menjaga Pola Tidur untuk Menjaga Kesehatan Mental

Para ahli menekankan bahwa menjaga pola tidur merupakan salah satu langkah sederhana untuk mempertahankan kesehatan mental dan kestabilan emosi.

Tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam, menghindari penggunaan gawai menjelang waktu tidur, mengurangi konsumsi kafein pada malam hari, serta menjaga jadwal tidur yang konsisten dapat membantu memperbaiki kualitas istirahat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidur yang cukup tidak hanya membuat tubuh terasa lebih segar, tetapi juga membantu otak mengelola emosi dengan lebih baik. Dengan demikian, menjaga kualitas tidur menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan suasana hati yang stabil sekaligus mengurangi risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan mental.

Referensi

1. Schwarz, J., dkk. (2019). Mood Impairment Is Stronger in Young Than in Older Adults After Sleep Deprivation. Journal of Sleep Research.

2. Stenson, A.R., dkk. (2021). Total Sleep Deprivation Reduces Top-Down Regulation of Emotion Without Altering Bottom-Up Affective Processing. PLoS ONE.

3. Short, M.A., & Louca, M. (2015). Sleep Deprivation Leads to Mood Deficits in Healthy Adolescents. Sleep Medicine.

4. Minkel, J.D., dkk. (2012). Sleep Deprivation and Stressors: Evidence for Elevated Negative Affect in Response to Mild Stressors When Sleep Deprived. Emotion.

5. Meerlo, P., Havekes, R., & Steiger, A. (2015). Chronically Restricted or Disrupted Sleep as a Causal Factor in the Development of Depression. Current Topics in Behavioral Neurosciences.

6. Khan, M.S., & Aouad, R. (2017). The Effects of Insomnia and Sleep Loss on Cardiovascular Disease. Sleep Medicine Clinics.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

7. Chappel-Farley, M.G., Goldstein, M.R., & Benca, R.M. (2023). Changes in Affect. Encyclopedia of Sleep and Circadian Rhythms.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.