PALANGKA RAYA – Bara api yang menyala dari bawah permukaan tanah di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menjadi perhatian publik. terlihat kobaran merah menyala dari lubang tanah, sementara para relawan berusaha menangani titik api di tengah asap dan kondisi lapangan yang sulit.

Peristiwa tersebut direkam pada Senin malam, 12 Oktober 2026, sekitar pukul 22.00 WIB, ketika Asrul berada di kawasan kebakaran lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dalam unggahannya, ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai kebakaran bawah tanah atau bara api bawah tanah yang memperlihatkan betapa sulitnya penanganan karhutla di lahan gambut.

Rekaman itu kemudian beredar luas di media sosial dan menarik perhatian masyarakat Indonesia maupun Malaysia. Video tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya berlangsung di permukaan lahan, tetapi juga menyisakan bara yang menyala di bagian tanah yang sulit dijangkau secara langsung. Fenomena ini juga mendapat perhatian setelah sejumlah media memberitakan penjelasan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai kebakaran bawah permukaan.

Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan tantangan yang dihadapi petugas dan relawan dalam memadamkan kebakaran gambut. Api yang terlihat kecil atau bahkan tidak tampak dari permukaan belum tentu menandakan bahwa kebakaran telah selesai. Panas dapat bertahan di dalam lapisan organik tanah dan kembali memicu api apabila belum didinginkan secara menyeluruh.

Bara Api Terlihat Menyala dari Lubang Tanah

Dalam video yang diunggah Asrul, terlihat bagian tanah yang mengeluarkan cahaya merah terang. Bara tampak menyala di antara material tanah yang telah terbakar, sementara asap mengepul di sekitar lokasi.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sumber panas berada di bagian yang tidak sepenuhnya terbuka. Para relawan berusaha menangani titik api dengan peralatan pemadaman di tengah keterbatasan akses dan kondisi lingkungan yang panas.

Asrul menyampaikan apresiasi kepada petugas dan relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman. Ia menyebut unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), petugas pemadam kebakaran gabungan, serta relawan yang turut membantu penanganan karhutla.

Dalam keterangannya, Asrul juga menyebut perjuangan relawan penyelamat dari Rumah Zakat Kalbar yang berada di lokasi untuk membantu memadamkan api. Rekaman tersebut menjadi gambaran visual mengenai pekerjaan yang harus dilakukan ketika api telah merambat ke bagian bawah permukaan lahan.

BNPB Menjelaskan Fenomena Kebakaran Bawah Permukaan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menjelaskan bahwa fenomena yang terlihat dalam video tersebut dapat dikategorikan sebagai ground fire, yaitu kebakaran yang berlangsung di bawah permukaan tanah.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang tersusun atas material organik tebal.

Material organik yang mengering dapat menjadi bahan bakar bagi api. Ketika kebakaran merambat ke lapisan tersebut, pembakaran dapat berlangsung di bawah permukaan dan tidak selalu terlihat seperti kobaran api pada kebakaran vegetasi biasa.

Pada kondisi tertentu, bara dapat bertahan di dalam tanah meskipun api yang membakar semak atau rerumputan di permukaan telah berhasil dipadamkan. Karena itulah, kebakaran bawah permukaan membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang lebih menyeluruh.

Penjelasan tersebut penting untuk memahami mengapa petugas tidak cukup hanya menyiram bagian lahan yang terlihat terbakar. Mereka juga perlu memastikan apakah panas masih tersimpan di dalam lapisan gambut.

Mengapa Api di Dalam Tanah Sulit Dipadamkan?

Salah satu tantangan utama kebakaran gambut adalah sumber api yang tidak selalu dapat dilihat secara langsung. Pada kebakaran permukaan, petugas biasanya dapat mengamati arah rambatan api dan menyemprotkan air ke bagian yang terbakar.

Namun, ketika api merambat ke lapisan gambut, sebagian bara dapat berada di bawah permukaan. Api tersebut dapat terus membakar material organik secara perlahan, sementara asap keluar melalui celah-celah tanah.

Dalam kondisi seperti itu, air yang disiramkan ke permukaan belum tentu menjangkau seluruh bagian yang masih membara. Apabila lapisan tanah yang terbakar cukup dalam, petugas perlu melakukan pembasahan secara berulang dan memastikan air mencapai titik panas.

Karakteristik ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Petugas harus memeriksa area yang masih mengeluarkan asap, menemukan bagian yang menyimpan panas, lalu melakukan pendinginan hingga risiko munculnya kembali api berkurang.

Tantangan tersebut juga terlihat dalam kegiatan penanganan karhutla di Palangka Raya pada awal Oktober. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan bahwa petugas melakukan pemadaman dan pendinginan berulang di kawasan lahan gambut yang masih menyisakan bara di bawah permukaan.

Lapisan Gambut Dapat Menyimpan Panas

Lahan gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami penguraian tidak sempurna dalam kondisi tertentu. Material organik tersebut dapat menumpuk selama waktu yang panjang dan membentuk lapisan tanah yang kaya bahan organik.

Ketika gambut berada dalam kondisi basah, kandungan air membantu mengurangi risiko terjadinya pembakaran. Sebaliknya, ketika lahan mengering, material organik menjadi lebih mudah terbakar apabila terkena sumber api.

Dalam situasi kebakaran, api dapat merambat melalui bagian gambut yang kering dan membakar material di bawah permukaan. Proses ini memungkinkan bara bertahan lebih lama daripada kebakaran yang hanya mengenai vegetasi di atas tanah.

Akibatnya, suatu lokasi yang terlihat tidak lagi memiliki kobaran besar tetap dapat menyimpan titik panas. Jika titik tersebut belum benar-benar padam, api dapat muncul kembali dan menyebar ke vegetasi di sekitarnya.

Karena itu, petugas harus membedakan antara berkurangnya kobaran yang terlihat dan padamnya seluruh sumber api. Kedua kondisi tersebut tidak selalu terjadi pada waktu yang bersamaan.

Pemadaman Membutuhkan Penyiraman dan Pendinginan Berulang

Dalam penanganan kebakaran bawah permukaan, penyiraman dan pendinginan menjadi bagian penting dari upaya pemadaman. Petugas perlu memastikan bahwa air tidak hanya membasahi permukaan, tetapi juga mencapai material organik yang masih panas.

Apabila ditemukan bara yang tersembunyi, petugas dapat melakukan penanganan lebih terarah sesuai kondisi dan keamanan lokasi. Pemeriksaan harus dilakukan dengan memperhatikan risiko permukaan tanah yang tidak stabil serta kemungkinan munculnya asap atau panas dari bagian yang sebelumnya tidak terlihat.

Pendinginan juga diperlukan setelah kobaran utama berhasil dikendalikan. Pada tahap ini, petugas memeriksa kembali lokasi untuk mencari titik yang masih mengeluarkan asap atau menunjukkan tanda-tanda panas.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan bahwa operasi pemadaman di sejumlah lokasi karhutla dilakukan secara bertahap, disertai penyiraman dan pendinginan lanjutan untuk mengurangi kemungkinan munculnya kembali api.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari hilangnya api yang terlihat. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan sebelum suatu area dinyatakan aman.

Relawan dan Petugas Gabungan Berjuang di Lapangan

Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah melibatkan berbagai unsur yang bekerja sesuai tugas masing-masing. Dalam unggahannya, Asrul menyampaikan terima kasih kepada BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, KPH, petugas pemadam kebakaran gabungan, relawan, serta pihak lain yang terlibat dalam upaya pemadaman.

Keterlibatan banyak unsur dibutuhkan karena penanganan kebakaran lahan tidak hanya berkaitan dengan penyemprotan air. Operasi di lapangan juga memerlukan koordinasi, dukungan peralatan, akses menuju titik api, penyediaan air, serta pemantauan terhadap area yang berpotensi terbakar kembali.

Relawan dapat membantu petugas dalam penanganan langsung di lapangan, tetapi pekerjaan tersebut memiliki risiko. Panas dari lapisan tanah, asap yang mengganggu penglihatan, dan kondisi permukaan yang tidak stabil perlu menjadi perhatian selama proses pemadaman.

Karena itu, kegiatan pemadaman perlu dilakukan dengan memperhatikan prosedur keselamatan dan koordinasi dengan petugas yang berwenang. Penanganan yang tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan kondisi tanah dapat menambah risiko bagi orang yang bekerja di sekitar titik api.

Karhutla Masih Menjadi Tantangan di Sejumlah Wilayah Palangka Raya

Fenomena bara di bawah permukaan tanah bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi petugas karhutla di Palangka Raya. Sejumlah laporan pemerintah daerah pada September dan Oktober 2026 menunjukkan bahwa penanganan kebakaran masih dilakukan di berbagai kawasan yang memiliki vegetasi kering dan karakteristik tanah gambut.

Tim relawan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Tengah, misalnya, melakukan pemadaman dan pendinginan secara intensif di kawasan Marang dan sekitar Taman Hutan Raya pada 5–11 Oktober 2026. Petugas menghadapi lahan dengan vegetasi semak belukar, pakis, ilalang, dan pepohonan kering yang berpotensi mendukung perambatan api.

Sementara itu, laporan lain dari pemerintah daerah menyebutkan bahwa tim relawan juga menangani lahan gambut di kawasan Panarung dan Pahandut. Penanganan dilakukan dengan menyisir titik yang masih mengeluarkan asap dan membasahi lahan secara berulang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasi karhutla membutuhkan pemantauan di banyak lokasi. Penanganan satu titik kebakaran tidak otomatis menyelesaikan persoalan di wilayah lain yang masih memiliki potensi kebakaran.

Ribuan Personel Dilibatkan dalam Penanganan Karhutla

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan bahwa pada 5 Oktober 2026, sekitar 10.700 personel gabungan dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla di sejumlah wilayah provinsi tersebut.

Personel berasal dari unsur TNI dan Polri, BPBD, Manggala Agni, perangkat organisasi pemerintah daerah, relawan Masyarakat Peduli Api, serta tim pemadam dari pihak swasta atau perusahaan.

Dalam laporan yang sama, upaya pemadaman darat selama 24 jam hingga 5 Oktober disebut berhasil menangani dan memadamkan kebakaran dengan total luas mencapai 137,18 hektare. Angka tersebut merupakan capaian penanganan secara keseluruhan berdasarkan laporan yang dihimpun pemerintah daerah, bukan luas lokasi kebakaran bawah tanah yang terekam dalam video Asrul.

Besarnya pengerahan personel memperlihatkan skala pekerjaan yang dibutuhkan dalam penanganan karhutla. Selain memadamkan api, petugas perlu menjaga agar titik kebakaran tidak meluas dan memastikan lokasi yang sudah ditangani tidak kembali terbakar.

Asap Karhutla Berpotensi Mengganggu Kesehatan

Selain merusak vegetasi dan lahan, kebakaran hutan dan gambut juga dapat menghasilkan asap yang memengaruhi kualitas udara. Asap dari material organik yang terbakar dapat menyebar mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga dampaknya tidak selalu terbatas pada lokasi kebakaran.

Masyarakat yang terpapar asap dapat mengalami iritasi mata, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, atau gangguan pernapasan. Risiko dapat menjadi lebih besar bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan.

Karena itu, warga yang berada di sekitar wilayah terdampak perlu mengikuti informasi kualitas udara dari instansi berwenang. Ketika asap pekat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, dan menjaga agar udara di dalam rumah tetap sebersih mungkin.

Petugas dan relawan yang bekerja di lapangan juga memerlukan perlindungan yang sesuai dengan tingkat bahaya. Asap, panas, serta kondisi medan perlu diperhitungkan selama proses pemadaman berlangsung.

Pencegahan Membutuhkan Pengelolaan Lahan Gambut

Penanganan karhutla tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Pencegahan kebakaran berikutnya memerlukan pemantauan wilayah rawan, patroli, kesiapan sumber air, dan pengelolaan lahan yang dapat mengurangi risiko pengeringan gambut.

Pembasahan lahan gambut menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kelembapan material organik. Di samping itu, pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran juga diperlukan agar sumber api dapat dicegah sejak awal.

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pencegahan tersebut. Warga dapat membantu melaporkan kemunculan asap atau titik api sedini mungkin, sementara pemerintah dan petugas melakukan verifikasi serta penanganan sesuai prosedur.

Pemantauan setelah pemadaman juga tidak boleh diabaikan. Pada kebakaran bawah permukaan, titik panas yang tersisa dapat menjadi sumber kebakaran baru apabila tidak ditemukan dan didinginkan secara menyeluruh.