Makassar – Perempuan diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran kemih (ISK) dibandingkan laki-laki. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh wanita akan mengalami infeksi saluran kemih setidaknya sekali sepanjang hidupnya. Kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kebersihan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor anatomi, perubahan hormon, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Menurut kajian Singh dkk. (2014), tingginya kasus ISK pada perempuan terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Memahami faktor-faktor tersebut dinilai penting agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif.

Uretra yang Lebih Pendek

Faktor utama yang membuat perempuan lebih rentan adalah struktur saluran kemih.

Wanita memiliki uretra yang hanya sekitar 3–4 sentimeter, jauh lebih pendek dibandingkan laki-laki. Akibatnya, bakteri membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk mencapai kandung kemih dan menyebabkan infeksi.

Selain itu, posisi uretra yang berdekatan dengan anus mempermudah bakteri dari saluran pencernaan berpindah ke saluran kemih.

Bakteri 

E. coli

 Mudah Berpindah

Sebagian besar infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E. coli) yang berasal dari usus.

Bakteri ini sebenarnya tidak berbahaya ketika berada di saluran pencernaan. Namun ketika berpindah ke uretra, bakteri dapat berkembang biak di kandung kemih dan memicu infeksi.

Penelitian menunjukkan sekitar tujuh dari sepuluh kasus ISK pada wanita disebabkan oleh bakteri tersebut.

Perubahan Hormon Setelah Menopause

Risiko infeksi juga meningkat setelah seorang wanita memasuki masa menopause.

Penurunan hormon estrogen menyebabkan lapisan pelindung vagina menjadi lebih tipis dan jumlah bakteri baik berkurang. Kondisi tersebut membuat bakteri penyebab infeksi lebih mudah berkembang.

Karena itu, wanita pascamenopause lebih sering mengalami infeksi saluran kemih berulang dibandingkan wanita usia reproduktif.

Aktivitas Seksual

Aktivitas seksual juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko ISK.

Selama hubungan seksual, bakteri di sekitar area genital dapat terdorong masuk ke uretra. Risiko ini semakin tinggi apabila seseorang memiliki riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya atau menggunakan kontrasepsi tertentu seperti diafragma maupun spermisida.

Penyakit Penyerta

Beberapa penyakit juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami ISK.

Diabetes, obesitas, gangguan saraf yang memengaruhi fungsi kandung kemih, hingga kondisi yang menyebabkan urine tidak keluar secara sempurna dapat mempermudah bakteri berkembang di saluran kemih.

Semakin lama urine tertahan di kandung kemih, semakin besar peluang bakteri berkembang biak dan menyebabkan infeksi.

Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Para peneliti menekankan bahwa sebagian besar faktor risiko tersebut dapat dikurangi melalui kebiasaan sederhana, seperti memenuhi kebutuhan cairan setiap hari, tidak menahan buang air kecil, menjaga kebersihan area genital, membersihkan area kewanitaan dari depan ke belakang setelah buang air besar, serta buang air kecil setelah berhubungan seksual.

Mengenali penyebab infeksi saluran kemih pada wanita menjadi langkah penting untuk mencegah kekambuhan. Apabila muncul gejala seperti nyeri saat buang air kecil, sering berkemih, atau urine tampak keruh, pemeriksaan ke tenaga kesehatan sebaiknya segera dilakukan agar infeksi tidak berkembang menjadi lebih serius.