Henri, S.Pd., M.Pd, Dosen dan Peneliti Universitas Negeri Makassar (Sosiologi Kebudayaan)
Masyarakat Makassar dikenal sebagai masyarakat yang memiliki identitas budaya kuat dan kaya akan nilai-nilai sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, budaya siri’ na pacce menjadi fondasi moral yang mengatur hubungan antarindividu maupun kehidupan bermasyarakat. Siri’ dipahami sebagai harga diri dan kehormatan, sementara pacce mencerminkan rasa empati dan solidaritas sosial. Nilai-nilai tersebut selama ini menjadi penyangga utama dalam menjaga martabat sosial masyarakat Makassar.
Namun, di tengah perkembangan kehidupan modern, budaya lokal menghadapi dinamika yang semakin kompleks. Modernisasi, urbanisasi, dan perkembangan media sosial telah mengubah pola hidup serta cara masyarakat memaknai status sosial. Dalam kehidupan kontemporer, adat tidak lagi hanya dipahami sebagai warisan budaya yang sarat nilai filosofis, tetapi terkadang juga menjadi ruang munculnya gengsi sosial yang berlebihan. Fenomena ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pesta adat, gaya hidup, hingga cara masyarakat membangun citra sosial di ruang publik.
Dalam tradisi masyarakat Makassar, berbagai prosesi adat sejatinya memiliki makna penghormatan dan penguatan hubungan sosial. Akan tetapi, dalam praktik kehidupan modern, sebagian tradisi mulai mengalami pergeseran makna. Tidak sedikit masyarakat yang merasa perlu menunjukkan status sosial melalui kemewahan acara adat, besarnya biaya pesta, atau simbol-simbol material lainnya. Akibatnya, adat terkadang lebih dipahami sebagai ajang prestise dibandingkan sebagai ruang memperkuat nilai kebersamaan dan penghormatan sosial.
Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya konsumtif yang semakin berkembang di era digital. Media sosial menghadirkan ruang baru bagi masyarakat untuk menampilkan identitas dan pencapaian hidupnya. Kehidupan sosial perlahan bergerak menuju budaya pencitraan, di mana pengakuan publik menjadi sesuatu yang sangat penting. Dalam kondisi seperti ini, gengsi sosial sering kali tumbuh lebih dominan dibandingkan pemaknaan terhadap nilai budaya itu sendiri.
Padahal, secara filosofis, budaya Makassar tidak dibangun atas dasar kemewahan material semata. Nilai siri’ sesungguhnya mengajarkan manusia untuk menjaga kehormatan melalui perilaku yang bermartabat, etika sosial, dan penghargaan terhadap sesama. Begitu pula pacce mengajarkan pentingnya solidaritas dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika adat lebih banyak digunakan untuk menunjukkan status sosial, maka nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam budaya lokal perlahan dapat kehilangan maknanya.
Di sisi lain, perubahan sosial ini juga menunjukkan bahwa budaya selalu bersifat dinamis. Tidak ada budaya yang sepenuhnya statis di tengah perkembangan zaman. Masyarakat Makassar hari ini hidup dalam ruang sosial yang dipengaruhi oleh modernitas, teknologi, dan budaya global. Karena itu, tantangan terbesar bukanlah menolak perubahan, melainkan bagaimana menjaga esensi nilai budaya agar tetap relevan dalam kehidupan modern.
Generasi muda memiliki peran penting dalam proses tersebut. Mereka perlu memahami bahwa budaya lokal bukan sekadar simbol adat atau seremoni formal, tetapi juga mengandung nilai moral dan sosial yang dapat menjadi pedoman hidup. Pendidikan budaya perlu diarahkan tidak hanya pada pengenalan tradisi, tetapi juga pada pemahaman makna sosial yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, budaya Makassar dapat terus hidup sebagai identitas sosial yang adaptif tanpa kehilangan akar kemanusiaannya.
Masyarakat Makassar perlu kembali menempatkan adat sebagai ruang untuk memperkuat solidaritas sosial, mempererat hubungan kekeluargaan, serta menumbuhkan penghormatan antarsesama, bukan sekadar arena mempertontonkan gengsi dan status sosial. Dalam banyak tradisi lokal, nilai utama yang diwariskan leluhur sesungguhnya adalah semangat kebersamaan, penghargaan terhadap martabat manusia, dan etika hidup yang menjunjung tinggi rasa malu serta penghormatan kepada orang lain. Namun, di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, sebagian praktik adat mulai bergeser menjadi ruang persaingan simbolik yang sering kali diukur melalui kemewahan, besarnya biaya, atau pengakuan sosial dari lingkungan sekitar. Pergeseran ini tidak hanya berpotensi mengaburkan makna budaya, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan sosial bagi masyarakat yang merasa harus memenuhi standar gengsi tertentu demi memperoleh penghormatan dalam kehidupan sosial.
Modernitas memang membawa perubahan besar dalam pola pikir dan gaya hidup masyarakat, tetapi nilai budaya tidak seharusnya larut dalam logika pencitraan dan kompetisi sosial semata. Justru di tengah kehidupan yang semakin individualistis dan kompetitif, budaya lokal dapat menjadi penyangga moral yang mengingatkan masyarakat bahwa martabat manusia tidak diukur dari kemewahan yang ditampilkan, melainkan dari kemampuan menjaga etika, menghormati sesama, dan memelihara nilai kemanusiaan dalam kehidupan bersama. Adat yang dimaknai secara bijaksana akan melahirkan keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan kesadaran sosial yang lebih inklusif. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi identitas simbolik, tetapi juga menjadi kekuatan moral yang memperkuat solidaritas, empati, dan keharmonisan sosial dalam masyarakat Makassar kontemporer.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
