A. St. Huzaimah A. Abdullah, SKM (Surveilans – Puskesmas Tabaringan)
Sebagai garda terdepan fasilitas pelayanan kesehatan primer, Puskesmas kini menghadapi pergeseran tren epidemiologi yang signifikan. Jika dahulu sistem surveilans kami lebih banyak bergelut dengan pemetaan penyakit menular atau malnutrisi, kini grafik data mulai menunjukkan lonjakan pada isu yang tak kalah krusial: kesehatan mental “anak jaman now” atau Generasi Z. Dari kacamata surveilans, masalah kejiwaan pada remaja bukan lagi sekadar riak kecil, melainkan fenomena gunung es yang membutuhkan sistem deteksi, pencatatan, dan pelaporan yang jauh lebih sensitif.
Generasi saat ini tumbuh di tengah gempuran arus informasi digital dan paparan media sosial yang masif. Realitas virtual ini seringkali memicu komparasi sosial yang tidak realistis, cyberbullying, hingga kecemasan akan masa depan (anxiety) atau perasaan tertinggal (fear of missing out/FOMO). Sayangnya, manifestasi dari tekanan psikologis ini seringkali tidak muncul secara gamblang di ruang periksa. Dalam catatan kunjungan pasien Puskesmas, keluhan kesehatan mental anak muda sering tersembunyi di balik gejala psikosomatis—seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan pencernaan, atau kelelahan kronis yang setelah diperiksa tidak memiliki indikasi medis fisik yang jelas.
Tantangan terbesar dalam pelaksanaan surveilans kesehatan mental anak muda ini adalah tingginya angka underreporting atau keengganan untuk melapor. Stigma negatif yang masih melekat kuat di masyarakat membuat remaja maupun orang tua cenderung menutupi kondisi depresi atau tekanan stres yang dialami. Akibatnya, data pasif yang masuk ke sistem informasi kesehatan Puskesmas seringkali tidak merepresentasikan prevalensi kejadian yang sesungguhnya di lapangan. Kasus seringkali baru terjaring radar pengawasan kami ketika pasien sudah masuk ke fase krisis atau memunculkan perilaku mencederai diri sendiri (self-harm).
Menghadapi realitas tersebut, pendekatan surveilans kita mutlak harus bertransformasi dari pasif menjadi sangat proaktif. Puskesmas tidak bisa lagi sekadar duduk menunggu pasien datang ke poli. Optimalisasi program luar gedung seperti Posyandu Remaja dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi instrumen skrining atau deteksi dini yang paling strategis. Melalui penggunaan kuesioner skrining kekuatan dan kesulitan anak (seperti Strengths and Difficulties Questionnaire/SDQ) yang dilakukan secara rutin di sekolah-sekolah, petugas surveilans dapat memetakan kelompok risiko tinggi sebelum mereka jatuh ke dalam gangguan jiwa yang lebih berat.
Namun, data surveilans sebaik apa pun tidak akan bermakna jika tidak ditindaklanjuti dengan intervensi lintas sektoral yang kolaboratif. Angka dan tren kecemasan remaja yang berhasil dipetakan oleh Puskesmas harus mampu menjadi dasar pertimbangan dalam lokakarya mini (lokmin) lintas sektor di tingkat kecamatan. Hal ini menuntut adanya sinergi yang kuat antara tenaga kesehatan, pihak sekolah, tokoh masyarakat, serta keluarga untuk menciptakan support system yang adaptif, di mana anak muda memiliki ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Pada akhirnya, memotret kesehatan mental “anak jaman now” melalui lensa surveilans Puskesmas adalah upaya kita dalam membangun sistem peringatan dini (early warning system) bagi masa depan bangsa. Data yang akurat, berkesinambungan, dan responsif akan menentukan ketepatan program promosi serta preventif kesehatan jiwa di wilayah kerja kita. Menyelamatkan generasi ini dari krisis kesehatan mental bukanlah tugas tunggal pemegang program jiwa, melainkan tanggung jawab kolektif yang dimulai dari kepekaan kita dalam membaca data dan fenomena di tengah masyarakat.
