MAKASSAR – Penggunaan tanaman herbal untuk menjaga kesehatan vagina semakin banyak diminati, terutama sebagai alternatif pendamping terapi medis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sejumlah bahan herbal memiliki potensi membantu mengatasi infeksi jamur, mengurangi keluhan pada masa menopause, hingga meningkatkan kenyamanan organ intim. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan herbal tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan tidak menggantikan pengobatan medis yang telah terbukti efektif.
Beberapa Herbal Memiliki Efek Antijamur
Infeksi jamur vagina atau vaginal candidiasis merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang paling sering dialami perempuan.
Penelitian Sheidaei, Sadeghi, Jaafarnejad, dan rekan-rekannya berjudul “Herbal Medicine and Vaginal Candidiasis in Iran: A Review” yang diterbitkan dalam Evidence Based Care Journal pada 2017 menemukan bahwa beberapa tanaman herbal, seperti thyme (timi), bawang putih (garlic), jintan hitam (black cumin), dan myrtus, memiliki aktivitas antijamur yang berpotensi membantu menghambat pertumbuhan Candida, penyebab utama infeksi jamur vagina.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lanjutan sebelum herbal tersebut digunakan sebagai terapi utama.
Campuran Madu dan Yogurt Pernah Diteliti
Alternatif alami lainnya yang pernah diteliti adalah campuran madu dan yogurt.
Penelitian Maryam Darvishi dan tim berjudul “The Comparison of Vaginal Cream of Mixing Yogurt, Honey and Clotrimazole on Symptoms of Vaginal Candidiasis” yang dipublikasikan dalam Global Journal of Health Science pada 2015 menunjukkan bahwa kombinasi yogurt dan madu memberikan perbaikan gejala yang sebanding dengan krim antijamur clotrimazole pada beberapa pasien.
Penelitian tersebut menunjukkan adanya penurunan keluhan seperti gatal, rasa terbakar, dan keputihan. Namun, penggunaan campuran tersebut tetap memerlukan pengawasan tenaga kesehatan karena belum menjadi terapi standar.
Semanggi Merah dan Licorice untuk Perempuan Menopause
Pada perempuan yang telah memasuki masa menopause, penurunan hormon estrogen sering menyebabkan vagina menjadi lebih kering, mudah iritasi, dan terasa nyeri saat berhubungan seksual.
Penelitian Asgharpoor, Hadizadeh-Talasaz, dan Rahmani berjudul “Medicinal Plants Used in Treatment of Vaginal Atrophy in Postmenopausal Women: A Systematic Review” yang diterbitkan dalam Journal of Mazandaran University of Medical Sciences pada 2021 menyebutkan bahwa tanaman yang mengandung fitoestrogen, seperti red clover (semanggi merah), licorice (akar manis), dan flaxseed (biji rami), berpotensi membantu mengurangi gejala atrofi vagina.
Fitoestrogen merupakan senyawa alami dari tumbuhan yang memiliki aktivitas menyerupai hormon estrogen sehingga dapat membantu meredakan kekeringan, rasa gatal, dan ketidaknyamanan pada vagina.
Krim Jelatang Dilaporkan Mengurangi Kekeringan
Pilihan herbal lain yang juga diteliti adalah jelatang (nettle).
Penelitian Fatemeh Zohreh Karimi, Nazari, Rakhshandeh, dan Mazloum berjudul “The Effect of Nettle Vaginal Cream on Subjective Symptoms of Vaginal Atrophy in Postmenopausal Women” yang diterbitkan dalam European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology pada 2023 menunjukkan bahwa krim vagina berbahan dasar jelatang 5 persen mampu mengurangi keluhan berupa rasa terbakar, kekeringan, gatal, dan nyeri pada perempuan pascamenopause.
Herbal Bukan Berarti Selalu Aman
Meskipun berbagai penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa produk herbal tetap memiliki potensi menimbulkan efek samping maupun berinteraksi dengan obat-obatan lain.
Dalam artikel “Herbal Remedies for Menopausal Symptoms: Are We Cautious Enough?” yang diterbitkan di European Journal of Contraception and Reproductive Health Care pada 2008, R. Haimov-Kochman, A. Brzezinski, dan D. Hochner-Celnikier menegaskan bahwa penggunaan terapi herbal perlu dilakukan secara hati-hati karena kualitas produk, dosis, dan keamanan setiap bahan belum selalu memiliki standar yang sama.
Hal serupa juga disampaikan Oscar H. Franco dan rekan-rekannya dalam penelitian “Use of Plant-Based Therapies and Menopausal Symptoms: A Systematic Review and Meta-analysis” yang diterbitkan di JAMA pada 2016. Mereka menyimpulkan bahwa meskipun beberapa terapi berbasis tanaman menunjukkan manfaat, bukti ilmiah yang tersedia masih bervariasi sehingga diperlukan penelitian dengan kualitas lebih tinggi.
Jangan Gunakan Herbal Sembarangan
Para ahli menyarankan agar penggunaan herbal untuk kesehatan vagina tidak dilakukan secara sembarangan, terutama dengan memasukkan ramuan langsung ke dalam vagina tanpa petunjuk tenaga kesehatan.
Apabila muncul gejala seperti keputihan berbau, gatal hebat, nyeri, perdarahan, atau rasa terbakar yang berkepanjangan, pemeriksaan ke dokter tetap menjadi langkah utama untuk memastikan penyebabnya dan memperoleh pengobatan yang sesuai.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Herbal dapat menjadi terapi pendamping pada kondisi tertentu, tetapi bukan pengganti diagnosis maupun pengobatan medis yang telah terbukti efektif.
