Makassar– Mengelola keuangan menjadi tantangan yang dihadapi banyak anak muda saat ini. Gaji atau uang saku yang baru diterima sering kali terasa cepat habis, bahkan sebelum akhir bulan tiba. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, nongkrong bersama teman, belanja saat ada promo, hingga langganan berbagai layanan digital sering kali membuat kondisi keuangan sulit dikendalikan.

Tidak sedikit yang beranggapan kondisi tersebut terjadi karena penghasilan yang belum besar. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengatur keuangan lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang dalam mengelola uang dibandingkan besarnya pendapatan yang dimiliki. Dengan perencanaan yang baik, siapa pun dapat mulai membangun kondisi finansial yang lebih sehat sejak usia muda.

Dalam artikel berjudul “Analysis of Financial Literacy Tendencies with Young People” yang diterbitkan dalam Entrepreneurship and Sustainability Issues (2019), peneliti menjelaskan bahwa literasi keuangan berperan penting dalam membentuk kemampuan anak muda mengambil keputusan finansial. Mereka yang memahami cara mengelola uang cenderung lebih bijak dalam mengatur pengeluaran, menabung, serta mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.

Temuan serupa juga disampaikan dalam artikel “Knowledge and Skills Are Not Enough—Exploring the Determinants of Financial Behavior Formation” yang dipublikasikan di International Journal of Consumer Studies (2024). Penelitian tersebut menyebutkan bahwa pengetahuan mengenai keuangan saja belum cukup. Perilaku finansial yang sehat juga dipengaruhi oleh disiplin, kebiasaan sehari-hari, serta adanya tujuan keuangan yang jelas.

Sementara itu, artikel “Social Predictors of Money Management Behaviour among Emerging Adults” (2024) menemukan bahwa lingkungan keluarga dan pengalaman mengelola uang sejak usia muda turut membentuk cara seseorang mengatur keuangan ketika memasuki usia dewasa.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan agar keuangan tetap terjaga.

Buat anggaran sejak awal bulan

Membuat anggaran merupakan langkah dasar yang sering dianggap sepele, padahal memiliki pengaruh besar terhadap kondisi keuangan. Saat menerima gaji atau uang saku, cobalah langsung mencatat seluruh pemasukan, kemudian membaginya ke dalam beberapa pos, seperti kebutuhan pokok, transportasi, tagihan, tabungan, hingga hiburan. Cara ini membantu mengetahui batas pengeluaran sehingga uang tidak habis tanpa arah.

Anggaran juga memudahkan seseorang mengevaluasi kebiasaan belanja setiap bulan. Ketika ada pos pengeluaran yang ternyata terlalu besar, penyesuaian dapat dilakukan pada bulan berikutnya. Penelitian menunjukkan bahwa anak muda yang terbiasa membuat perencanaan keuangan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengendalikan pengeluaran dibandingkan mereka yang menghabiskan uang tanpa perhitungan.

Dahulukan menabung untuk membangun dana darurat daripada berbelanja

Masih banyak orang yang memiliki kebiasaan menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan. Sayangnya, cara ini sering kali tidak berhasil karena sebagian besar pendapatan sudah terpakai untuk berbagai kebutuhan maupun keinginan. Karena itu, biasakan menyisihkan sebagian pendapatan segera setelah gaji diterima. Tidak perlu langsung dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah dilakukan secara konsisten agar kebiasaan menabung dapat terbentuk.

Dana yang terkumpul sebaiknya diprioritaskan terlebih dahulu sebagai dana darurat. Dana ini berfungsi sebagai cadangan ketika terjadi kondisi yang tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan, atau kebutuhan mendesak lainnya. Dengan memiliki dana darurat, seseorang tidak perlu berutang atau menjual aset ketika menghadapi situasi darurat.

Setelah dana darurat dianggap cukup sesuai kebutuhan, barulah sebagian dana dapat mulai dialihkan untuk investasi jangka panjang. Langkah ini dinilai lebih aman karena investasi pada dasarnya bertujuan mengembangkan kekayaan, sedangkan dana darurat berfungsi sebagai perlindungan terhadap risiko keuangan. Dengan kata lain, amankan terlebih dahulu fondasi keuangan melalui dana darurat, kemudian bangun nilai aset melalui investasi yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

Bedakan kebutuhan dan keinginan

Perkembangan belanja digital membuat siapa saja lebih mudah melakukan pembelian hanya dalam hitungan menit. Promo, diskon, cashback, maupun gratis ongkir sering kali mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya belum diperlukan.

Sebelum memutuskan membeli sesuatu, berikan jeda waktu beberapa jam atau bahkan satu hari. Gunakan waktu tersebut untuk mempertimbangkan apakah barang itu memang dibutuhkan atau hanya dibeli karena tergoda promosi. Kebiasaan sederhana ini dapat mengurangi pembelian impulsif yang menjadi salah satu penyebab utama pengeluaran membengkak.

Biasakan mencatat setiap pengeluaran

Tidak sedikit orang merasa uangnya cepat habis, tetapi kesulitan menjelaskan ke mana uang tersebut digunakan. Padahal, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering menjadi penyebab utamanya.

Mencatat setiap pengeluaran, baik melalui aplikasi maupun buku catatan sederhana, dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keuangan. Dari catatan tersebut biasanya akan terlihat kebiasaan yang bisa dikurangi, misalnya terlalu sering membeli minuman, makanan siap saji, atau berbelanja barang yang tidak mendesak.

Miliki tujuan keuangan yang jelas

Mengatur keuangan akan terasa lebih mudah ketika seseorang memiliki tujuan yang ingin dicapai. Target tersebut tidak harus besar. Bisa dimulai dari mengumpulkan dana darurat, membeli laptop baru, melanjutkan pendidikan, atau menyiapkan uang muka rumah.

Penelitian menunjukkan bahwa tujuan finansial yang jelas dapat meningkatkan disiplin dalam mengelola uang. Seseorang akan lebih mudah menunda pembelian yang tidak penting ketika memiliki gambaran mengenai manfaat yang akan diperoleh di masa depan.

Manfaatkan teknologi untuk mengontrol keuangan

Saat ini tersedia banyak aplikasi yang dapat membantu mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga target tabungan secara otomatis. Kehadiran teknologi membuat proses pengelolaan keuangan menjadi lebih mudah dibandingkan harus mencatat semuanya secara manual.

Meski demikian, aplikasi hanyalah alat bantu. Kebiasaan disiplin dalam mengikuti anggaran yang telah dibuat tetap menjadi faktor utama. Tanpa komitmen untuk mengendalikan pengeluaran, secanggih apa pun aplikasi yang digunakan tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Mengatur keuangan bukan berarti harus berhenti menikmati hasil kerja keras. Sesekali membeli barang yang diinginkan atau menikmati waktu bersama teman tetap merupakan bagian dari kehidupan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara memenuhi kebutuhan saat ini dan mempersiapkan masa depan. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan perubahan besar yang hanya bertahan sesaat.