Kalimantan Tengah – 18 Oktober 2026 Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting kembali menjadi perhatian setelah api dilaporkan meluas hingga mendekati tepian sungai. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena kawasan yang terbakar merupakan habitat berbagai satwa liar, termasuk orangutan yang menjadi salah satu satwa ikonik Kalimantan.

Informasi yang beredar pada Minggu (18/10/2026) memperlihatkan kobaran api di tengah vegetasi, disertai asap tebal yang menyelimuti kawasan hutan. Rekaman yang diunggah sejumlah akun media sosial dan media pemberitaan itu memperlihatkan api menyala cukup besar pada malam hari, sementara area di sekitarnya tampak tertutup kabut asap.

Situasi ini tidak hanya menjadi persoalan pemadaman kebakaran, tetapi juga menyangkut perlindungan ekosistem, keselamatan satwa liar, dan upaya mencegah kerusakan lebih luas di kawasan konservasi.

Api Dilaporkan Mendekati Tepian Sungai

Laporan mengenai perkembangan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting menyebutkan bahwa api telah menjalar mendekati tepian sungai. Informasi tersebut meningkatkan kekhawatiran karena area sungai dan vegetasi di sekitarnya merupakan bagian penting dari ekosistem hutan yang menjadi tempat hidup satwa liar.

Dalam unggahan yang dibagikan akun Pikiran Rakyat, api disebut sudah mencapai tepian sungai pada Minggu (18/10/2026). Petugas dilaporkan masih melakukan upaya pemadaman untuk mencegah kobaran api meluas ke area lainnya.

Sementara itu, laporan Katadata menyebutkan tim dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) menyisir tepian Sungai Sekonyer dan menemukan sejumlah titik api. Api juga dilaporkan menjalar hingga kawasan Sungai Buluh, dengan jarak yang diperkirakan sekitar 10 meter dari tepian sungai.

Kedekatan api dengan sungai menjadi perhatian tersendiri karena perambatan kebakaran ke area tersebut berpotensi mengganggu vegetasi di sepanjang aliran sungai dan mempersempit ruang aman bagi satwa yang bergantung pada kawasan itu.

Kobaran Api Terlihat pada Malam Hari

Rekaman yang dibagikan akun iNews memperlihatkan kobaran api menyala terang di antara pepohonan dalam kondisi gelap. Di sejumlah bagian video, asap tampak memenuhi kawasan hutan sehingga jarak pandang terlihat terbatas.

Gambaran tersebut menunjukkan beratnya situasi yang dihadapi petugas dan relawan di lapangan. Meski demikian, luas area yang terbakar dan perkembangan setiap titik api tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan rekaman video. Data penanganan dari instansi terkait tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Kebakaran yang terjadi di kawasan konservasi juga membutuhkan penanganan berbeda dari kebakaran di lahan terbuka biasa. Petugas perlu mempertimbangkan kondisi vegetasi, akses menuju lokasi, ketersediaan air, serta keberadaan satwa dan kawasan yang harus dilindungi.

Pemerintah Tingkatkan Pemadaman dari Udara

Kementerian Kehutanan menyatakan operasi pemadaman di Taman Nasional Tanjung Puting terus diperkuat. Dalam keterangan resmi pada Minggu (18/10/2026), Menteri Kehutanan Raja Antoni menyebutkan bahwa operasi water bombing atau pengeboman air dilakukan sebanyak 26 kali di wilayah Sungai Perlu dan Teluk Rengas.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Sabtu (17/10/2026), ketika operasi pengeboman air dilakukan sebanyak 16 kali

Pemadaman melalui udara menjadi salah satu langkah untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat. Air yang dijatuhkan dari helikopter diharapkan membantu mengurangi intensitas kebakaran dan mendukung upaya pengendalian api di area prioritas.

Namun, operasi udara juga menghadapi kendala. Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa enam helikopter water bombing yang berada di Kalimantan Tengah belum dapat beroperasi saat itu karena jarak pandang terbatas akibat asap. Pemerintah kemudian mengupayakan alternatif operasi melalui Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, yang memiliki kondisi jarak pandang lebih memungkinkan.

Kendala tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada ketersediaan armada, tetapi juga kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan.

Petugas Darat dan Relawan Tetap Dikerahkan

Selain pemadaman dari udara, petugas gabungan masih berupaya mengendalikan kebakaran melalui jalur darat. Kementerian Kehutanan menyebutkan bahwa tim di Resor Pesalat dan Teluk Pulai melibatkan unsur Taman Nasional Tanjung Puting, Manggala Agni, personel bantuan Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, dan relawan.

Pemadaman dilakukan dengan memanfaatkan sumber air dari sungai dan sumur bor. Peralatan yang digunakan antara lain pompa suplai, pompa apung, pompa jinjing, selang, serta perlengkapan pemadaman lainnya.

Keterlibatan berbagai unsur dibutuhkan karena titik kebakaran tersebar di beberapa lokasi dengan karakter medan yang berbeda. Tim darat harus bekerja secara terkoordinasi agar pasokan air, peralatan, dan personel dapat diarahkan ke titik yang paling membutuhkan penanganan.

Di sisi lain, keselamatan petugas dan relawan tetap menjadi pertimbangan penting. Asap tebal, medan yang sulit, serta jarak menuju titik api dapat meningkatkan risiko selama operasi berlangsung.

Api Mengancam Habitat Orangutan

Salah satu kekhawatiran utama dalam peristiwa ini adalah dampaknya terhadap orangutan Kalimantan dan satwa liar lainnya. Taman Nasional Tanjung Puting merupakan kawasan konservasi penting yang menjadi habitat berbagai jenis satwa dan memiliki nilai besar bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

Ketika api menjalar ke kawasan hutan, satwa dapat kehilangan sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang untuk bergerak. Asap tebal juga berpotensi mengganggu kondisi lingkungan yang dibutuhkan satwa untuk bertahan hidup.

Kekhawatiran semakin besar karena pemerintah sebelumnya telah menetapkan beberapa lokasi sebagai prioritas penanganan berdasarkan kedekatannya dengan area penting bagi orangutan. Salah satunya adalah kawasan Besalat, yang berada di dekat area pemberian pakan orangutan. Pemetaan menggunakan drone termal juga digunakan untuk membantu mengidentifikasi titik-titik yang perlu segera ditangani.

Meski demikian, dampak aktual kebakaran terhadap populasi orangutan maupun satwa lain perlu dipastikan melalui pemantauan lapangan. Ancaman terhadap habitat tidak serta-merta berarti seluruh satwa di kawasan tersebut telah terdampak secara langsung, tetapi kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari pengelola konservasi.

Pemerintah Siapkan Sumur Bor dan Jalur Darat

Upaya pengendalian kebakaran tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api yang terlihat. Pemerintah juga menyiapkan dukungan infrastruktur agar petugas dapat menjangkau lokasi kebakaran dan memperoleh pasokan air secara berkelanjutan.

Dalam laporan sebelumnya, Kementerian Kehutanan menyebutkan rencana penambahan sumur bor, pengerahan personel darat, serta kajian kemungkinan pembuatan sekat bakar dengan mempertimbangkan kondisi dan kedalaman gambut. Salah satu bentang api yang dipantau dilaporkan mencapai sekitar dua kilometer.

Pembukaan jalur darat juga disiapkan untuk mengatasi keterbatasan akses menuju sejumlah lokasi. Menurut laporan Katadata, pemerintah merencanakan pembukaan jalur sepanjang sekitar 1,5 kilometer agar petugas tidak sepenuhnya bergantung pada jalur sungai yang dipengaruhi kondisi pasang surut.

Ketersediaan akses dan sumber air menjadi bagian penting dari strategi pemadaman. Tanpa dukungan tersebut, petugas dapat menghadapi kesulitan untuk mengangkut peralatan, menyalurkan air, dan mempertahankan operasi dalam waktu lama.

Kawasan Rawa Menyulitkan Penanganan Kebakaran

Tantangan lain berasal dari karakter medan di kawasan Tanjung Puting. Sebagian lokasi kebakaran berada di wilayah rawa yang sulit dijangkau, sehingga mobilisasi personel dan perlengkapan tidak dapat dilakukan dengan mudah.

Dalam pemberitaan Katadata, Pangdam XXII menyampaikan bahwa kondisi lahan rawa menjadi salah satu faktor yang menyulitkan pemadaman. Pemerintah kemudian mendorong penambahan pompa air dan pembangunan titik sumur bor untuk memperkuat dukungan di lapangan.

Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran membutuhkan perencanaan yang matang. Petugas harus menentukan rute yang aman, memastikan ketersediaan sumber air, serta menyesuaikan strategi dengan kondisi vegetasi dan karakter lahan.

Pemantauan melalui udara dan darat juga perlu berjalan beriringan. Informasi mengenai lokasi api membantu menentukan prioritas pengerahan personel, sementara pemeriksaan langsung diperlukan untuk menilai perkembangan kebakaran dan efektivitas pemadaman.

Kabut Asap Menambah Kekhawatiran

Selain kerusakan hutan, karhutla berpotensi menimbulkan gangguan bagi masyarakat melalui asap yang dihasilkan. Asap dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Kementerian Kehutanan menyebutkan bahwa asap tebal turut membatasi jarak pandang dan menghambat pengoperasian sejumlah helikopter pemadam. Dengan demikian, dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan area yang terbakar, tetapi juga dapat memengaruhi kelancaran penanganan bencana itu sendiri.

Masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan arahan dari instansi setempat. Apabila asap masuk ke permukiman, mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai dapat menjadi langkah perlindungan sementara.

Namun, langkah perlindungan masyarakat tidak menggantikan kebutuhan untuk mengendalikan sumber kebakaran. Pemadaman yang efektif tetap menjadi upaya utama untuk mengurangi produksi asap secara berkelanjutan.

Perlindungan Kawasan Konservasi Menjadi Prioritas

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting kembali memperlihatkan pentingnya perlindungan kawasan konservasi dari ancaman karhutla. Kerusakan di kawasan seperti ini dapat membawa dampak jangka panjang, mulai dari hilangnya vegetasi hingga terganggunya habitat satwa yang bergantung pada ekosistem hutan.

Pemerintah telah menyatakan bahwa penanganan kebakaran di Tanjung Puting menjadi prioritas, dengan menggabungkan pemadaman udara, operasi darat, penambahan sumber air, dan koordinasi lintas instansi. Upaya tersebut diarahkan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah perambatan menuju zona inti kawasan konservasi.

Di samping penanganan darurat, pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemantauan titik rawan, kesiapan peralatan, keterlibatan masyarakat sekitar, dan sistem peringatan dini dapat membantu mempercepat respons ketika kebakaran mulai muncul.

Keberhasilan penanganan juga tidak cukup diukur dari berkurangnya kobaran api yang terlihat. Pemeriksaan lanjutan dibutuhkan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala dan memastikan kawasan yang terdampak memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

Upaya Pemadaman Masih Membutuhkan Dukungan Bersama

Perkembangan kebakaran yang mendekati tepian sungai menjadi pengingat bahwa karhutla di kawasan konservasi dapat berkembang menjadi persoalan ekologis yang serius. Ancaman terhadap habitat orangutan dan satwa liar lainnya membuat penanganan tidak bisa hanya bertumpu pada satu instansi.

Petugas kehutanan, tim pemadam, TNI, Polri, BPBD, relawan, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu terus bekerja secara terkoordinasi. Dukungan logistik, akses menuju lokasi, ketersediaan air, serta informasi lapangan yang akurat menjadi faktor penting dalam memperkuat operasi.

Rekaman kobaran api yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan. Namun, perkembangan penanganan dan luas dampak kebakaran tetap perlu merujuk pada pembaruan resmi dari pihak berwenang.

Hingga api benar-benar terkendali, perlindungan terhadap Taman Nasional Tanjung Puting menjadi pekerjaan mendesak untuk mencegah kerusakan lebih luas dan menjaga keberlangsungan habitat satwa liar di Kalimantan Tengah.