“Mahasiswa Harus Diberi Tugas Sampai Muntah”, Pesan Amran di Kuliah Umum UNM

Menteri Pertanian di UNM: Calon Guru Harus Tangguh, Dosen Jangan Terlalu Memanjakan Mahasiswa

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, mengajak mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), khususnya para calon guru, untuk membangun mental yang kuat dan tidak takut menghadapi tekanan. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kuliah umum bertema “Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional yang Berkelanjutan” yang digelar di Ballroom Teater Lantai 2 Menara Pinisi UNM, Rabu (3/6).

Kegiatan yang dihadiri puluhan mahasiswa dan sivitas akademika tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus motivasi bagi generasi muda. Dalam kesempatan itu, Amran tidak hanya membahas isu swasembada pangan nasional, tetapi juga menekankan pentingnya pembentukan karakter, ketangguhan mental, dan keyakinan sebagai modal utama meraih kesuksesan.

Di hadapan peserta kuliah umum, Amran menegaskan bahwa kesuksesan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari proses panjang yang penuh tantangan, kegagalan, dan perjuangan.

Untuk menggambarkan hal tersebut, ia menampilkan filosofi berlian dalam materi presentasinya. Menurutnya, berlian tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui tekanan dan suhu yang sangat tinggi sebelum menjadi batu mulia yang bernilai tinggi.

“Jadilah seperti berlian, ditempa di suhu 3500 derajat Celsius,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa manusia juga demikian. Kemuliaan seseorang lahir dari kesabaran, tanggung jawab, keteguhan, dan kemampuan menghadapi berbagai ujian kehidupan. Semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin besar pula peluang seseorang untuk berkembang menjadi pribadi yang kuat.

Dalam pemaparannya, Amran juga menyampaikan bahwa kritik, cibiran, bahkan hinaan tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Menurutnya, orang yang menghina atau meremehkan justru dapat menjadi guru terbaik dalam kehidupan.

“Orang yang menghina bisa menjadi guru terbaik. Orang yang mencaci bisa menjadi guru terbaik. Karena mereka memberi tekanan kepada kita untuk berkembang lebih cepat,” katanya.

Menurut Amran, tekanan yang dihadapi seseorang dapat mendorong lahirnya kemampuan baru, kreativitas, serta semangat untuk membuktikan diri. Ia menilai banyak orang sukses justru lahir dari situasi yang penuh tantangan dan keterbatasan.

Dalam suasana yang diselingi humor, Amran juga menyinggung proses pendidikan di perguruan tinggi. Ia berpendapat bahwa mahasiswa perlu mendapatkan tantangan yang lebih besar agar terbiasa menghadapi tekanan dunia nyata setelah lulus.

Dengan nada bercanda yang disambut tawa peserta kuliah umum, Amran mengatakan bahwa dosen tidak perlu terlalu memanjakan mahasiswa. Bahkan, menurutnya, mahasiswa perlu diberikan tugas yang cukup berat agar terbentuk karakter pekerja keras dan daya juang yang tinggi.

“Kalau saya lihat wajahnya masih ceria semua, berarti belum cukup tertekan. Mahasiswa harus diberi tugas sampai muntah,” ujarnya yang langsung disambut gelak tawa dan tepuk tangan peserta.

Meski disampaikan dalam bentuk humor, pesan tersebut mengandung makna bahwa mahasiswa tidak boleh terlena dalam zona nyaman. Tantangan akademik, menurutnya, merupakan bagian penting dalam membentuk ketahanan mental, disiplin, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara mandiri.

Amran menilai bahwa calon guru memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi masa depan bangsa. Karena itu, mereka harus dibiasakan menghadapi berbagai tantangan sejak berada di bangku kuliah.

Selain membahas pentingnya ketangguhan, Amran juga menjelaskan konsep tiga tingkat keyakinan yang menjadi fondasi keberhasilan seseorang, yaitu Ilmul Yaqin, ‘Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin.

Ia menjelaskan bahwa Ilmul Yaqin merupakan keyakinan yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan dan pembelajaran. Tingkatan berikutnya adalah ‘Ainul Yaqin, yakni keyakinan yang muncul setelah seseorang melihat dan menyaksikan langsung suatu kenyataan. Adapun Haqqul Yaqin merupakan tingkat keyakinan tertinggi yang lahir dari pengalaman dan pembuktian secara nyata.

Menurut Amran, banyak orang memiliki pengetahuan, tetapi tidak semuanya memiliki keyakinan yang kuat untuk bertindak. Padahal, keberhasilan sering kali ditentukan oleh keberanian mengambil langkah dan keyakinan terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Kuliah umum tersebut berlangsung interaktif dan mendapat respons antusias dari mahasiswa. Melalui berbagai pengalaman hidup dan kisah perjuangannya, Amran mendorong mahasiswa UNM untuk terus belajar, berani menghadapi tantangan, serta menjadikan tekanan sebagai sarana pembentukan karakter.

Menutup kuliah umumnya, Amran mengajak para calon guru untuk menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, dan memiliki keyakinan yang kuat dalam menghadapi masa depan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan guru-guru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki mental pejuang untuk melahirkan generasi unggul sekaligus mendukung pembangunan bangsa, termasuk dalam mewujudkan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.