Sri Yunita Simanjuntak– Dosen Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran, UNM
Bagi mahasiswa semester akhir, lingkaran kehidupan seolah menyempit menjadi tiga hal saja: revisi yang tidak kunjung usai, dosen pembimbing yang sulit ditemui, dan tumpukan buku referensi yang mulai berdebu di sudut kamar. Di tengah tekanan psikologis dan fisik yang begitu hebat, momen kelulusan baik saat sidang skripsi maupun wisuda menjadi oasis yang paling dinanti. Namun, ada sebuah pergeseran fenomena budaya yang menarik perhatian di kalangan akademisi muda saat ini. Jika generasi terdahulu memandang buku sebagai hadiah paling berharga dan simbol intelektualitas tertinggi untuk merayakan kelulusan, mahasiswa zaman sekarang justru sebaliknya. Mereka jauh lebih mendambakan kiriman papan bunga berukuran besar dengan ucapan-ucapan jenaka terpampang di pelataran kampus. Buku, yang dulunya adalah “raja” dalam tradisi akademik, kini tergeser oleh megahnya struktur stereofom penuh warna. Mengapa simbol perayaan ini bisa berubah begitu drastis?
Akar dari pergeseran ini terletak pada kejenuhan kognitif yang dialami mahasiswa selama bertahun-tahun masa kuliah. Bayangkan, selama minimal empat tahun, otak mereka terus-menerus dijejali oleh teks, teori, metodologi, dan jurnal-jurnal ilmiah yang menguras energi. Ketika mereka akhirnya berhasil melewati gerbang sidang skripsi, sebuah buku baru meskipun merupakan mahakarya di bidangnya sering kali tidak lagi terlihat sebagai hadiah, melainkan sebagai perpanjangan dari beban kerja yang baru saja mereka letakkan. Mahasiswa semester akhir berada pada titik puncak keletihan mental terhadap segala hal yang berbau teks berat. Dalam kondisi psikologis yang lelah tersebut, papan bunga hadir menawarkan sesuatu yang sama sekali berbeda: selebrasi visual yang ringan, instan, dan sepenuhnya menghibur. Papan bunga tidak meminta mereka untuk berpikir, menganalisis, atau membaca baris demi baris kalimat rumit. Ia hanya meminta mereka untuk berdiri di sampingnya, tersenyum, dan menikmati buah dari kerja keras mereka tanpa beban intelektual tambahan.
Selain faktor kejenuhan mental, kita tidak bisa mengabaikan peran besar budaya digital dan media sosial yang mendominasi kehidupan generasi muda saat ini. Papan bunga adalah komoditas visual yang sangat “Instagrammable” dan memiliki nilai pamer (flexing) yang tinggi di ruang publik virtual. Ketika seorang mahasiswa mendapatkan papan bunga dengan tulisan kreatif atau kocak dari teman-temannya, hal itu menjadi konten yang sempurna untuk diunggah di Instagram Stories atau TikTok. Ini adalah bentuk validasi sosial yang bersifat instan dan masif. Sebaliknya, sebuah buku seberapa pun mahalnya atau seberapa mendalam pun isinya sangat sulit untuk dikomunikasikan secara visual dalam estetika media sosial modern agar terlihat “ramai” dan meriah. Papan bunga yang berdiri megah di halaman fakultas menjadi simbol status yang mengumumkan kepada dunia, baik nyata maupun maya, bahwa sang mahasiswa tidak hanya lulus, tetapi juga dikelilingi oleh lingkungan pertemanan yang solid, suportif, dan humoris.
Secara sosiologis, fenomena ini juga mencerminkan pergeseran cara anak muda mengekspresikan bahasa kasih (love language) dan apresiasi dalam ikatan pertemanan. Tradisi menuliskan kalimat-kalimat sindiran yang jenaka, rahasia internal kelompok (inside jokes), atau julukan konyol di atas papan bunga telah menjadi ritual modern yang sakral. Papan bunga bukan lagi sekadar alat ucap selamat dari korporat atau pejabat, melainkan kanvas kreativitas bagi para sahabat untuk merayakan kepribadian unik sang wisudawan. Melalui papan bunga, ada rasa kepemilikan bersama atas keberhasilan tersebut; teman-teman merasa ikut andil dalam mengantarkan sahabat mereka hingga ke garis finis. Hadiah berupa buku dirasa terlalu formal, kaku, dan individualistik untuk merayakan momen komunal yang penuh euforia ini. Papan bunga berhasil mencairkan ketegangan akademis yang kaku di lingkungan kampus menjadi sebuah pesta rakyat kecil-kecilan yang penuh tawa dan kehangatan manusiawi.
Pada akhirnya, fenomena lebih menyukai papan bunga daripada buku ini tidak boleh serta-merta dihakimi sebagai tanda penurunan minat baca atau pendangkalan intelektual generasi muda. Ini adalah respons psikologis yang sangat manusiawi dari para pejuang skripsi yang membutuhkan katarsis emosional setelah masa-masa pengorbanan yang panjang. Buku tetap memiliki tempatnya yang abadi dalam rak-rak pengetahuan dan masa depan karier mereka kelak, namun pada hari kelulusan, biarkanlah mereka merayakannya dengan cara yang paling membuat mereka bahagia. Papan bunga, dengan segala sifatnya yang fana karena akan layu dan dibongkar dalam beberapa hari, justru memberikan memori visual yang abadi dalam ingatan dan dokumentasi digital mereka. Ini adalah balada akhir perkuliahan yang manis: sebuah perayaan di mana kegembiraan yang kasat mata dan kebersamaan yang hangat sengaja dipilih untuk mengalahkan dinginnya tumpukan teks akademis, walau hanya untuk satu hari yang bersejarah.
