MAKASSAR – Penggunaan komputer, laptop, dan telepon pintar kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Bekerja, belajar, hingga menikmati hiburan dilakukan melalui layar digital. Di balik kemudahan tersebut, kesehatan mata sering kali kurang mendapat perhatian.
Tidak sedikit orang menganggap mata lelah, perih, kering, atau penglihatan yang mulai kabur setelah menatap layar sebagai hal yang wajar. Padahal, keluhan tersebut dapat menjadi tanda bahwa mata membutuhkan istirahat atau bahkan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, dokter mata semakin sering menemukan kasus Digital Eye Strain, yaitu kumpulan keluhan akibat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama. Kondisi ini ditandai dengan mata terasa lelah, kering, sulit fokus, pandangan kabur, hingga sakit kepala.
Penelitian berjudul “Digital Eye Strain and Clinical Correlates in Older Adults” oleh Moore, Wolffsohn, dan Sheppard melaporkan bahwa sekitar 71 persen pengguna perangkat digital mengalami gejala Digital Eye Strain. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan layar dalam durasi panjang dapat berdampak pada kenyamanan dan fungsi penglihatan.
Keluhan tersebut umumnya muncul ketika seseorang bekerja berjam-jam tanpa jeda, jarang berkedip, atau menggunakan layar dengan pencahayaan yang kurang sesuai. Dalam banyak kasus, gejala memang membaik setelah mata diistirahatkan. Akan tetapi, jika terus berulang, kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan mata secara rutin tidak hanya bertujuan mengetahui apakah seseorang memerlukan kacamata. Pemeriksaan juga penting untuk mendeteksi berbagai gangguan mata sejak tahap awal, seperti rabun jauh, rabun dekat, silinder, glaukoma, katarak, hingga kerusakan retina akibat diabetes.
Banyak penyakit mata berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang jelas. Seseorang sering baru menyadari adanya masalah ketika kemampuan melihat sudah menurun. Pada kondisi tertentu, gangguan tersebut sulit dipulihkan apabila penanganannya terlambat.
Temuan itu sejalan dengan penelitian “Longitudinal Analysis of the Relationship Between Regular Eye Examinations and Changes in Visual and Functional Status” oleh Sloan, Picone, Brown, dan Lee. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan mata berkala membantu menemukan gangguan penglihatan lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi menjadi lebih berat.
Kelompok yang menggunakan perangkat digital hampir sepanjang hari memiliki risiko lebih besar mengalami kelelahan mata. Pekerja kantoran, mahasiswa, pelajar, hingga mereka yang sering menggunakan telepon pintar untuk berkomunikasi atau mencari informasi perlu lebih memperhatikan kesehatan mata.
Anak-anak juga memerlukan perhatian khusus. Waktu penggunaan gawai yang semakin panjang membuat pemeriksaan mata menjadi penting untuk memastikan proses belajar tidak terganggu oleh masalah penglihatan yang belum terdeteksi.
Bagi penyandang diabetes, pemeriksaan mata rutin memiliki peran yang lebih penting. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah retina tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Pemeriksaan berkala memungkinkan dokter menemukan perubahan tersebut lebih cepat sehingga risiko gangguan penglihatan dapat ditekan.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Selain pemeriksaan rutin, kebiasaan sederhana juga dapat membantu menjaga kesehatan mata. Mengistirahatkan mata setiap beberapa waktu, menjaga jarak pandang dengan layar, memastikan pencahayaan ruangan cukup, serta membatasi penggunaan gawai ketika tidak diperlukan dapat mengurangi beban kerja mata.
Perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern. Karena itu, menjaga kesehatan mata menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup. Pemeriksaan mata secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mempertahankan penglihatan tetap optimal hingga usia lanjut.
