MAKASSAR – Menyikat gigi secara rutin memang penting, tetapi kesehatan gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi setiap hari. Makanan dan minuman tertentu dapat membantu menjaga gigi tetap kuat, sementara yang lain justru meningkatkan risiko gigi berlubang, radang gusi, hingga kerusakan enamel.

Salah satu penyebab utama kerusakan gigi adalah konsumsi gula yang berlebihan. Saat mengonsumsi makanan atau minuman manis, bakteri di dalam mulut akan mengubah gula menjadi asam. Asam inilah yang secara perlahan mengikis lapisan enamel, yaitu pelindung terluar gigi. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko gigi berlubang akan meningkat.

Bukan hanya jumlah gula yang perlu diperhatikan, tetapi juga frekuensi mengonsumsinya. Kebiasaan sering mengemil makanan manis atau menyeruput minuman berpemanis sepanjang hari membuat gigi terus-menerus terpapar asam sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan diri.

Selain makanan manis, minuman bersoda dan minuman dengan rasa asam juga dapat mempercepat pengikisan enamel. Jika dikonsumsi terlalu sering, lapisan pelindung gigi akan semakin tipis sehingga gigi menjadi lebih sensitif dan mudah rusak.

Sebaliknya, pola makan yang kaya buah, sayuran, biji-bijian, dan sumber protein sehat dapat membantu menjaga kesehatan mulut. Buah dan sayuran yang kaya serat merangsang produksi air liur, yang berfungsi membersihkan sisa makanan serta membantu menetralkan asam di dalam mulut.

Asupan kalsium, fosfor, dan vitamin D juga berperan penting dalam menjaga kekuatan gigi dan tulang rahang. Nutrisi tersebut dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan, telur, serta berbagai jenis kacang-kacangan. Kekurangan vitamin dan mineral tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan gusi dan memperlambat proses penyembuhan jaringan mulut.

Penelitian berjudul “Diet, Nutrition and the Prevention of Dental Diseases” oleh Paula Moynihan dan Poul Erik Petersen menjelaskan bahwa tingginya konsumsi gula bebas memiliki hubungan erat dengan meningkatnya kasus gigi berlubang. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pola makan yang lebih banyak mengandung buah, sayuran, dan makanan pokok rendah gula berkontribusi terhadap kesehatan gigi yang lebih baik.

Temuan serupa disampaikan dalam penelitian “The Role of Diet and Nutrition in the Etiology and Prevention of Oral Diseases” oleh Paula J. Moynihan. Penelitian ini menyebutkan bahwa perubahan pola makan menjadi lebih sehat, disertai pembatasan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, merupakan salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit gigi dan mulut.

Dokter gigi juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mulut tidak cukup hanya dengan memperbaiki pola makan. Kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida, membersihkan sela-sela gigi, serta melakukan pemeriksaan gigi setiap enam bulan tetap diperlukan untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan mulut.

Dengan mengombinasikan pola makan yang sehat dan perawatan gigi yang rutin, kesehatan mulut dapat terjaga lebih baik. Kebiasaan sederhana tersebut juga membantu mempertahankan fungsi mengunyah, mencegah infeksi, dan menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.