MAKASSAR – Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula masih banyak dijumpai di tengah masyarakat. Minuman berpemanis, camilan kemasan, hingga makanan cepat saji memang praktis dan mudah diperoleh. Di balik kepraktisannya, konsumsi yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.
Penelitian berjudul “A Narrative Review of the Effects of Sugar-Sweetened Beverages on Human Health: A Key Global Health Issue” oleh Haque dkk. menyebutkan bahwa konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kerusakan gigi. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya membatasi asupan gula tambahan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Hasil tersebut sejalan dengan penelitian “Metabolism and Health Impacts of Dietary Sugars” oleh Alam dkk. yang menjelaskan bahwa asupan gula dalam jumlah tinggi dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan penumpukan lemak, serta menyebabkan peradangan kronis yang berhubungan dengan sindrom metabolik dan penyakit jantung.
Tubuh memang membutuhkan gula sebagai sumber energi. Persoalannya muncul ketika jumlah gula yang dikonsumsi jauh melebihi kebutuhan harian. Kelebihan energi yang tidak digunakan akan disimpan sebagai lemak sehingga berat badan meningkat. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko obesitas pun ikut meningkat.
Obesitas menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya berbagai penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Kelebihan gula juga dapat mengganggu kemampuan tubuh mengendalikan kadar glukosa darah sehingga kerja hormon insulin menjadi kurang optimal.
Dampak lainnya terlihat pada kesehatan gigi dan mulut. Gula merupakan sumber makanan bagi bakteri di dalam mulut yang menghasilkan asam. Asam tersebut secara perlahan mengikis lapisan email gigi sehingga meningkatkan risiko gigi berlubang, radang gusi, hingga penyakit periodontal.
Selain gula, masyarakat juga perlu memperhatikan konsumsi makanan olahan. Produk seperti mi instan, sosis, nugget, keripik, minuman kemasan, dan makanan cepat saji umumnya mengandung gula, garam, dan lemak jenuh dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan makanan segar. Jika terlalu sering dikonsumsi, pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan penyakit kardiovaskular.
Proses pengolahan pangan juga dapat mengurangi kandungan serat, vitamin, dan mineral. Beberapa metode pengolahan menghasilkan senyawa tertentu yang, jika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah besar, diduga berkontribusi terhadap gangguan metabolisme.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Membatasi gula bukan berarti menghilangkannya sepenuhnya dari menu harian. Gula alami yang terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan susu tetap memberikan manfaat karena disertai serat, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Yang perlu dikurangi adalah gula tambahan yang banyak terdapat pada minuman manis, makanan ringan, dan berbagai produk olahan.
Perubahan pola makan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, memilih sumber protein yang baik, mengonsumsi biji-bijian utuh, membatasi minuman berpemanis, serta membiasakan membaca label informasi gizi sebelum membeli produk makanan. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis di kemudian hari.
