MAKASSAR – Kesehatan mental sering kali hanya dikaitkan dengan kondisi emosional dan psikologis. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan yang erat dengan kondisi fisik. Stres yang berlangsung dalam waktu lama tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat melemahkan daya tahan tubuh, meningkatkan tekanan darah, hingga memicu gangguan pada sistem pencernaan.
Penelitian berjudul “Life Event, Stress and Illness” oleh Mohd. R. Salleh menjelaskan bahwa stres kronis memicu peningkatan hormon kortisol dan berbagai respons biologis yang memengaruhi hampir seluruh organ tubuh. Ketika stres terjadi terus-menerus, tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi hingga penyakit kronis.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian “Role of Psychosocial Stress in Complex Diseases” yang dilakukan Scantamburlo dan Scheen. Penelitian ini menjelaskan bahwa stres psikososial berperan dalam munculnya berbagai penyakit, termasuk hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan metabolisme. Respons tubuh terhadap stres yang berlangsung lama menyebabkan keseimbangan sistem saraf dan hormon terganggu sehingga memengaruhi fungsi organ.
Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah menurunnya daya tahan tubuh. Ketika seseorang mengalami tekanan berkepanjangan, tubuh terus memproduksi hormon stres. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menekan kerja sistem kekebalan sehingga tubuh lebih mudah terserang flu, infeksi, atau proses penyembuhan luka menjadi lebih lambat.
Stres juga berpengaruh terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Saat seseorang berada dalam tekanan, detak jantung meningkat dan pembuluh darah menyempit. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, tekanan darah dapat tetap tinggi dan meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga stroke.
Hubungan antara kesehatan mental dan sistem pencernaan juga tidak dapat diabaikan. Otak dan saluran cerna saling berkomunikasi melalui apa yang dikenal sebagai brain-gut axis atau sumbu otak-usus. Ketika seseorang mengalami stres, komunikasi tersebut dapat terganggu sehingga memicu berbagai keluhan, seperti nyeri lambung, mual, perut kembung, diare, sembelit, hingga kekambuhan pada gangguan pencernaan tertentu.
Tidak sedikit orang yang merasakan sakit perut atau kehilangan nafsu makan saat menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau beban akademik. Sebaliknya, ada pula yang justru makan secara berlebihan sebagai bentuk pelampiasan stres. Kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi kesehatan apabila berlangsung dalam waktu lama.
Stres kronis juga sering mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur membuat tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan proses pemulihan. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan berisiko mengalami penurunan produktivitas.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Para ahli menilai bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Mengelola stres melalui olahraga rutin, tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, melakukan aktivitas yang disukai, serta menjaga hubungan sosial yang baik dapat membantu mengurangi dampak negatif stres terhadap tubuh.
Apabila tekanan yang dirasakan berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau psikolog menjadi langkah yang tepat. Penanganan sejak dini tidak hanya membantu menjaga kesehatan mental, tetapi juga mencegah munculnya berbagai gangguan fisik yang berkaitan dengan stres.
