Makassar – Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling sering dialami masyarakat. Meski umumnya menyerang kandung kemih dan uretra, infeksi yang tidak segera ditangani dapat menyebar ke ginjal dan menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran kemih dibandingkan laki-laki karena perbedaan anatomi saluran kemih.
Menurut penelitian Komala, Bhowmik, dan Sampath Kumar (2013), infeksi saluran kemih adalah infeksi yang dapat terjadi pada seluruh bagian sistem urinaria, mulai dari ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra. Namun, sebagian besar kasus terjadi pada saluran kemih bagian bawah, terutama kandung kemih (sistitis) dan uretra (uretritis).
Bakteri E. coli Menjadi Penyebab Utama
Sebagian besar kasus infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E. coli), yaitu bakteri yang sebenarnya hidup normal di saluran pencernaan. Masalah muncul ketika bakteri tersebut berpindah ke saluran kemih dan berkembang biak.
Penelitian Dwivedi dkk. (2012) menunjukkan bahwa E. coli merupakan penyebab dominan pada sebagian besar kasus infeksi saluran kemih. Selain E. coli, beberapa bakteri gram negatif lainnya juga dapat menyebabkan infeksi, meskipun jumlahnya lebih sedikit.
Dalam kasus tertentu, infeksi saluran kemih juga dapat disebabkan oleh jamur atau virus, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Namun, kondisi ini relatif lebih jarang dibandingkan infeksi akibat bakteri.
Mengapa Perempuan Lebih Rentan?
Para ahli menjelaskan bahwa perempuan lebih sering mengalami infeksi saluran kemih karena memiliki uretra yang lebih pendek dibandingkan laki-laki. Jarak antara uretra dan anus juga lebih dekat sehingga bakteri dari saluran pencernaan lebih mudah mencapai saluran kemih.
Selain faktor anatomi, perubahan hormon, aktivitas seksual, kehamilan, hingga menopause juga dapat meningkatkan risiko infeksi pada perempuan.
Sementara itu, pada laki-laki, infeksi saluran kemih lebih jarang terjadi. Namun apabila muncul, kondisi tersebut sering kali berkaitan dengan gangguan pada saluran kemih, seperti pembesaran prostat atau sumbatan aliran urine.
Kenali Gejala Sejak Dini
Infeksi saluran kemih memiliki sejumlah gejala khas yang mudah dikenali.
Penderita umumnya merasakan keinginan untuk buang air kecil lebih sering, tetapi urine yang keluar hanya sedikit. Keluhan lain yang sering muncul adalah rasa nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil, nyeri pada bagian bawah perut, serta urine yang tampak keruh atau berbau menyengat.
Apabila infeksi telah menyebar ke ginjal, gejalanya dapat menjadi lebih berat, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri pada pinggang atau punggung bagian bawah, mual, hingga muntah. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis secepat mungkin karena berisiko menimbulkan komplikasi.
Diagnosis Tidak Hanya Berdasarkan Gejala
Dokter biasanya akan melakukan wawancara mengenai keluhan pasien, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan urine.
Menurut berbagai penelitian, diagnosis infeksi saluran kemih umumnya ditegakkan melalui urinalisis untuk mendeteksi adanya sel darah putih, bakteri, atau darah dalam urine. Pada beberapa kasus, pemeriksaan kultur urine diperlukan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi sekaligus menentukan antibiotik yang paling efektif.
Kultur urine juga penting pada pasien dengan infeksi berulang, ibu hamil, maupun penderita yang tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan awal.
Pengobatan Harus Sesuai Penyebab
Infeksi saluran kemih umumnya diobati menggunakan antibiotik. Namun, pemilihan antibiotik tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena harus disesuaikan dengan jenis bakteri penyebab dan pola resistensi antibiotik di suatu wilayah.
Penggunaan antibiotik tanpa resep atau menghentikan pengobatan sebelum waktunya dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati di kemudian hari.
Selain mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, pasien juga dianjurkan memperbanyak minum air putih agar bakteri lebih mudah dikeluarkan melalui urine.
Langkah Sederhana untuk Mencegah Infeksi
Para peneliti menekankan bahwa sebagian besar infeksi saluran kemih dapat dicegah melalui kebiasaan hidup yang baik.
Menjaga kebersihan area genital, tidak menahan buang air kecil terlalu lama, memenuhi kebutuhan cairan setiap hari, serta membiasakan membersihkan area genital dari arah depan ke belakang setelah buang air besar pada perempuan merupakan beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risiko infeksi.
Di rumah sakit, penggunaan kateter urine juga perlu dibatasi sesuai indikasi medis karena kateter yang digunakan terlalu lama diketahui meningkatkan risiko infeksi saluran kemih.
Jangan Abaikan Gejalanya
Meskipun sering dianggap sebagai penyakit ringan, infeksi saluran kemih tidak boleh diabaikan. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan infeksi menjalar ke ginjal, meningkatkan risiko kerusakan organ, bahkan memicu infeksi berat pada kondisi tertentu.
Karena itu, apabila mengalami nyeri saat buang air kecil, sering berkemih disertai urine keruh, atau muncul demam dan nyeri pinggang, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Diagnosis dan pengobatan yang tepat sejak dini dapat mempercepat penyembuhan sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Referensi
- Komala, M., Bhowmik, D., & Sampath Kumar, K.P. (2013). Urinary Tract Infection: Causes, Symptoms, Diagnosis and Its Management. Journal of Chemical and Pharmaceutical Sciences.
- Dwivedi, S., dkk. (2012). An Analytical Study of Escherichia coli from Urine Samples with Special Reference to Their Antibiotic Sensitivity Pattern. Biomedical and Pharmacology Journal.
- Hamilton, K.W., & O’Donnell, J.A. (2015). Urinary Tract Infection. Dalam Clinical Infectious Disease.
- Cirpan, R. (2023). Urinary Tract Infections. Medical Nursing.
- Mach, F., Marchandin, H., & Bichon, F. (2020). Treatment and Prevention of Urinary Tract Infections. Actualités Pharmaceutiques.
- Yuste Ara, J.R., del Pozo, J.L., & Carmona-Torre, F. (2018). Urinary Tract Infections. Medicine (Spain).
