Kenaikan Suku Bunga Bisa Menguras Keuangan Masyarakat, Ini Dampaknya bagi Rumah Tangga di Indonesia

ASHA News – Kenaikan suku bunga acuan merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter yang digunakan bank sentral untuk mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Meski bertujuan menjaga kondisi makroekonomi, kebijakan ini juga membawa dampak langsung terhadap kondisi keuangan masyarakat, terutama bagi rumah tangga yang memiliki pinjaman.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga tidak hanya memengaruhi besarnya cicilan kredit, tetapi juga daya beli, nilai investasi, hingga kesejahteraan rumah tangga.

Cicilan Pinjaman Berpotensi Meningkat

Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah meningkatnya biaya pinjaman. Rumah tangga yang memiliki Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, maupun pinjaman usaha dengan bunga mengambang (floating rate) berpotensi mengalami kenaikan cicilan setiap bulan.

Hal tersebut dijelaskan oleh ekonom Andrew Goodwin dalam penelitiannya berjudul “Higher Interest Rates Should Not Unduly Faze Consumers” yang diterbitkan dalam Economic Outlook pada 2018. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga meningkatkan biaya pembayaran utang rumah tangga, terutama bagi peminjam dengan suku bunga variabel. Akibatnya, sebagian pendapatan keluarga harus dialihkan untuk membayar cicilan sehingga ruang konsumsi menjadi lebih terbatas.

Daya Beli Rumah Tangga Menurun

Beban cicilan yang semakin besar membuat pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) ikut berkurang. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun melakukan pengeluaran untuk kebutuhan sekunder.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Robert H. Scott III dan Steven Pressman dalam artikel “A Double Squeeze on the Middle Class” yang diterbitkan di Journal of Economic Issues pada 2011. Penelitian itu menjelaskan bahwa meningkatnya beban utang bersamaan dengan naiknya biaya hidup dapat menekan kondisi ekonomi rumah tangga, terutama kelompok masyarakat kelas menengah.

Nilai Investasi dan Kekayaan Bisa Terpengaruh

Perubahan suku bunga juga memengaruhi keputusan masyarakat dalam mengelola aset keuangan.

Sebagian investor memilih memindahkan dana ke instrumen yang lebih aman, seperti deposito atau obligasi, ketika suku bunga meningkat. Di sisi lain, kenaikan suku bunga dapat memengaruhi nilai aset seperti properti maupun instrumen investasi lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Roberto De Bonis dan Marco Marinucci dalam penelitian berjudul “A Short Note on Interest Rates and Household Wealth” yang dipublikasikan dalam Italian Economic Journal pada 2023. Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan negatif antara kenaikan suku bunga dengan nilai kekayaan rumah tangga.

Sementara itu, penelitian Yoriv Bonaparte, George M. Korniotis, Alok Kumar, dan Martijn Vosse berjudul “Inflation, Monetary Policy, and Portfolio Decisions of U.S. Households” yang diterbitkan dalam Management Science pada 2024 menunjukkan bahwa perubahan suku bunga dan inflasi dapat memengaruhi keputusan rumah tangga dalam memilih instrumen investasi.

Penabung Justru Mendapat Keuntungan

Di balik dampak negatif bagi debitur, kenaikan suku bunga juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang memiliki tabungan maupun deposito.

Ketika bank menaikkan bunga simpanan, penabung berpeluang memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat membantu menjaga nilai uang, terutama saat inflasi meningkat.

Bagaimana Dampaknya di Indonesia?

Di Indonesia, perubahan BI-Rate yang ditetapkan Bank Indonesia menjadi acuan bagi perbankan dalam menentukan suku bunga kredit maupun bunga simpanan.

Apabila BI menaikkan suku bunga acuan, masyarakat berpotensi menghadapi beberapa kondisi berikut:

  • Cicilan KPR dengan bunga mengambang menjadi lebih tinggi.
  • Kredit kendaraan bermotor baru berpotensi memiliki bunga yang lebih mahal.
  • Pinjaman modal kerja dan kredit usaha menjadi lebih mahal sehingga dapat memengaruhi ekspansi bisnis.
  • Bunga deposito dan tabungan meningkat sehingga lebih menguntungkan bagi penabung.

Bagi pelaku usaha, kenaikan biaya pinjaman juga dapat menyebabkan perusahaan menunda investasi atau ekspansi karena biaya modal menjadi lebih besar.

Literasi Keuangan Sangat Penting

Para ahli menilai bahwa kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan menjadi faktor penting untuk menghadapi perubahan suku bunga.

Penelitian Leora Klapper, Annamaria Lusardi, dan Georgios A. Panos berjudul “Financial Literacy and Its Consequences: Evidence from Russia During the Financial Crisis” yang diterbitkan dalam Journal of Banking & Finance pada 2013 menunjukkan bahwa masyarakat dengan literasi keuangan yang lebih baik cenderung lebih siap menghadapi tekanan ekonomi, termasuk ketika terjadi perubahan suku bunga.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

Karena itu, masyarakat disarankan membangun dana darurat, mengelola utang secara bijak, serta mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengambil pinjaman baru, terutama pada masa suku bunga tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.