Dari Lapangan Sekolah untuk Indonesia: Pendidikan Jasmani dan Spirit Pancasila

Alif Ariyadi Hardi, S.Pd., M.Pd– Dosen Universitas Negeri Makassar

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Idealnya, peringatan ini tidak berhenti pada upacara, slogan, ataupun unggahan seremonial di media sosial. Pancasila perlu dihadirkan dalam ruang-ruang pendidikan. Salah satu ruang itu adalah lapangan sekolah. Di sana, anak-anak tidak hanya mempelajari keterampilan seperti berlari, melompat, melempar, atau bermain, tetapi juga belajar menjadi manusia Indonesia yang sehat, disiplin, jujur, adil, dan mampu bekerja sama.

Selama ini, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) masih kerap dianggap sebagai mata pelajaran pelengkap. Anggapan itu perlu dikoreksi. Pada dasarnya, PJOK merupakan instrumen penting dalam menanamkan pendidikan karakter. WHO (2019) mencatat lebih dari 80% remaja sekolah di dunia belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimal satu jam per hari. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (2023) menunjukkan 37,4% penduduk berusia 10 tahun ke atas kurang melakukan aktivitas fisik. Artinya, sekolah harus memastikan peserta didik memiliki kebiasaan hidup aktif, sehat, dan berkarakter, bukan hanya mengejar kecerdasan kognitif saja.

Dalam konteks Pancasila, lapangan sekolah adalah laboratorium moral yang paling jujur. Sila pertama dan kedua tidak bermula dari hafalan teks, melainkan dari kesadaran anak bahwa tubuh yang sehat adalah anugerah Tuhan yang wajib dijaga. Dari kesadaran spiritual ini, lahir cara pandang yang inklusif terhadap sesama manusia. Kita tidak boleh menutup mata bahwa di sudut lapangan, sering kali ada anak yang menangis karena diejek lambat berlari, atau anak yang kurang lincah selalu dijadikan pilihan terakhir saat pembagian tim, lalu dibiarkan saja berdiri di pojok lapangan tanpa pernah dioper bola. Tugas PJOK adalah mendobrak sekat tersebut. Lapangan harus menjadi ruang aman di mana anak yang paling mahir dan yang masih canggung secara fisik mendapatkan hak yang sama untuk bergerak tanpa takut dirundung. Saat seorang siswa mengulurkan tangan untuk membantu lawannya yang terjatuh, ia sedang mempraktikkan kemanusiaan yang beradab dalam bentuknya yang paling konkret.

Melalui olahraga beregu seperti sepak bola, kasti, permainan tradisional, atau olahraga beregu lainnya, peserta didik langsung belajar tentang arti persatuan. Di atas lapangan, ego pribadi harus diredam demi kebaikan tim. Kemenangan tidak akan dicapai dengan kemampuan individu semata, melainkan juga dari kerja sama. Anak-anak belajar bahwa perbedaan kemampuan fisik di antara mereka bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan modal untuk saling melengkapi. Dinamika ini erat kaitannya dengan sila keempat yang mengajarkan demokrasi berbasis musyawarah. Demokrasi di lapangan sekolah terjadi saat anak-anak berdebat menentukan strategi permainan, memilih kapten tim, atau ketika mereka harus belajar menahan amarah dan menerima keputusan peluit wasit dengan lapang dada. Di sini, mereka tidak sekadar belajar teori kewarganegaraan, melainkan mengalami langsung bagaimana rasanya menghormati keputusan bersama dan mengendalikan ego pribadi.

Esensi keadilan sosial pada sila kelima termanifestasikan seutuhnya melalui sportivitas. Lapangan sekolah tidak mengenal anak pejabat atau anak petani, aturan permainan mengikat semua orang secara setara, dan setiap pelanggaran memiliki konsekuensi yang sama tanpa tebang pilih. Melalui olahraga, anak-anak belajar bahwa kemenangan diraih dengan rendah hati dan kalah tanpa menyalahkan yang lain.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

Di era digital, peran PJOK semakin penting. Studi UNICEF (2025) tentang praktik daring anak di Indonesia mencatat bahwa sebagian besar anak menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan. Dampaknya kita temui di sekolah: lahirnya generasi yang minim bergerak (sedentary), cemas secara sosial, dan rentan frustrasi. Hal ini memperlihatkan perlunya ruang interaksi langsung yang sehat bagi anak. Melalui lapangan sekolah, peserta didik mendapatkan pengalaman langsung  seperti bekerja sama, menghadapi konflik, menumbuhkan empati, serta membangun rasa kebersamaan.

Oleh karena itu, dengan menempatkan PJOK sebagai pelengkap merupakan kekeliruan yang fatal. Memperkuat PJOK bukan sekadar urusan membagi bola atau meniup peluit, melainkan sebuah investasi untuk menginternalisasikan nilai Pancasila secara nyata. Guru PJOK bukan hanya berperan sebagai pengajar teknik gerak, melainkan juga sebagai pembentuk karakter peserta didik. Sekolah perlu memberi ruang yang layak, fasilitas yang aman, serta proses pembelajaran yang inklusif. Melalui lapangan sekolah, kita dapat menyiapkan generasi yang sehat jasmani dan rohani, berjiwa sportif, menghargai keberagaman, dan memiliki semangat gotong royong. Dari lapangan sekolah pula, spirit Pancasila bergerak untuk Indonesia yang lebih kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.