Mengapa Kasus Diabetes pada Usia Muda Terus Meningkat? Gaya Hidup Jadi Salah Satu Pemicu Utama

MAKASSAR, ASHA News – Diabetes selama ini lebih dikenal sebagai penyakit yang banyak dialami oleh orang lanjut usia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren tersebut mulai berubah. Kasus diabetes kini semakin banyak ditemukan pada remaja dan orang dewasa muda, bahkan sebagian di antaranya baru berusia belasan tahun.

Peningkatan ini menjadi perhatian para ahli karena diabetes yang muncul pada usia muda berpotensi menimbulkan komplikasi lebih cepat dibandingkan jika penyakit tersebut berkembang pada usia yang lebih tua. Semakin lama seseorang hidup dengan diabetes, semakin besar pula risiko mengalami gangguan pada ginjal, mata, saraf, maupun penyakit jantung.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia muda. Pola makan tinggi gula, makanan ultra proses, minuman berpemanis, serta kebiasaan kurang bergerak menjadi kombinasi yang meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin.

Penelitian berjudul “Type 2 Diabetes in Adolescents and Young Adults” yang diterbitkan dalam The Lancet Diabetes & Endocrinology pada 2018 menjelaskan bahwa meningkatnya angka obesitas pada anak dan remaja berperan besar terhadap bertambahnya kasus diabetes tipe 2. Berat badan berlebih menyebabkan tubuh lebih sulit menggunakan insulin secara efektif sehingga kadar gula darah menjadi sulit dikendalikan.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh gaya hidup sedentari. Aktivitas fisik masyarakat, terutama remaja, cenderung menurun akibat meningkatnya waktu yang dihabiskan di depan layar komputer, televisi, maupun telepon pintar. Waktu duduk yang terlalu lama tanpa diimbangi olahraga membuat tubuh membakar lebih sedikit kalori dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme.

Temuan serupa dijelaskan dalam penelitian “Youth-onset Type 2 Diabetes Mellitus: An Urgent Challenge” yang diterbitkan dalam Nature Reviews Nephrology pada 2023. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa diabetes tipe 2 pada usia muda berkembang lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa. Penderita memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, dan sistem kardiovaskular dalam waktu yang relatif lebih singkat.

Selain pola hidup, faktor keturunan juga memengaruhi risiko seseorang mengalami diabetes. Anak yang memiliki orang tua atau anggota keluarga dengan riwayat diabetes mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami penyakit serupa. Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penentu. Banyak penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup sehat tetap mampu menurunkan risiko, bahkan pada individu yang memiliki riwayat keluarga diabetes.

Lingkungan tempat tinggal juga ikut berperan. Kemudahan memperoleh makanan cepat saji, minuman tinggi gula, serta terbatasnya ruang terbuka untuk berolahraga membuat masyarakat semakin sulit menerapkan pola hidup sehat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya angka obesitas dan diabetes.

Stres juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Saat seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh menghasilkan hormon seperti kortisol yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Tidak sedikit orang kemudian melampiaskan stres dengan mengonsumsi makanan tinggi gula atau tinggi kalori. Kebiasaan ini dapat mempercepat peningkatan berat badan dan memperburuk resistensi insulin.

Di sisi lain, para peneliti juga mengingatkan bahwa diabetes pada usia muda tidak selalu merupakan diabetes tipe 2. Kasus diabetes tipe 1 juga mengalami peningkatan di sejumlah negara. Berbeda dengan tipe 2 yang banyak dipengaruhi gaya hidup, diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel penghasil insulin di pankreas.

Penelitian “The Changing Epidemiology of Type 1 Diabetes: Why Is It Going Through the Roof?” yang diterbitkan dalam Diabetes/Metabolism Research and Reviews menjelaskan bahwa peningkatan kasus diabetes tipe 1 diduga dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Hingga kini, penyebab pastinya masih terus diteliti.

Masalah lainnya adalah banyak kasus diabetes pada usia muda yang terlambat terdiagnosis. Gejala awal seperti mudah haus, sering buang air kecil, berat badan menurun, cepat lelah, atau penglihatan mulai kabur sering dianggap sebagai keluhan biasa. Akibatnya, penderita baru memeriksakan diri ketika kadar gula darah sudah sangat tinggi atau bahkan telah mengalami komplikasi.

Para ahli menilai pencegahan menjadi langkah yang paling efektif untuk menekan peningkatan kasus diabetes pada usia muda. Pola makan bergizi seimbang, membatasi konsumsi minuman manis, rutin berolahraga sedikitnya 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, tidur yang cukup, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala bagi mereka yang memiliki faktor risiko merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak dini.

☕ Dukung ASHA Publishing

Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.

Diabetes bukan lagi penyakit yang hanya mengancam kelompok usia lanjut. Perubahan pola hidup masyarakat membuat penyakit ini semakin banyak ditemukan pada usia produktif. Karena itu, membangun kebiasaan hidup sehat sejak anak-anak dan remaja menjadi salah satu investasi penting untuk mencegah diabetes di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 ASHA News by ASHA Publishing. All Rights Reserved.