Makassar – Kurang tidur tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memiliki hubungan yang kuat dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan durasi tidur yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, stres, hingga penurunan kemampuan mengendalikan emosi. Sebaliknya, masalah kesehatan mental juga sering menyebabkan seseorang mengalami gangguan tidur, sehingga keduanya membentuk hubungan yang saling memengaruhi.
Para peneliti menyebut hubungan tersebut sebagai hubungan dua arah (bidirectional relationship). Artinya, kurang tidur dapat memicu munculnya gangguan psikologis, sementara kondisi psikologis yang terganggu juga membuat seseorang semakin sulit memperoleh tidur yang berkualitas.
Kajian Boland, Gallagher, dan Clarke (2022) yang diterbitkan dalam Irish Journal of Psychological Medicine menjelaskan bahwa gangguan tidur merupakan salah satu faktor yang dapat memperburuk gejala psikosis, depresi, dan berbagai gangguan kejiwaan lainnya. Karena itu, perbaikan kualitas tidur kini mulai dipandang sebagai bagian penting dalam penanganan kesehatan mental.
Otak Kehilangan Kesempatan Memulihkan Diri
Selama tidur, otak tidak benar-benar berhenti bekerja. Justru pada fase inilah otak memproses pengalaman yang terjadi sepanjang hari, memperkuat memori, mengatur emosi, serta memulihkan berbagai jaringan saraf.
Ketika seseorang kurang tidur, proses tersebut menjadi terganggu. Penelitian St. Louis (2011) dalam Sleep & Safety menjelaskan bahwa kurang tidur berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif, seperti berkurangnya perhatian, kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, hingga kemampuan mengambil keputusan. Gangguan fungsi otak tersebut turut meningkatkan risiko munculnya masalah psikologis apabila berlangsung dalam waktu lama.
Lebih Mudah Mengalami Cemas dan Depresi
Salah satu dampak psikologis yang paling sering dikaitkan dengan kurang tidur adalah meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi.
Tinjauan literatur yang dilakukan Fayad dkk. (2021) mengenai remaja dan dewasa muda menemukan bahwa individu dengan kualitas tidur yang buruk cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur secara teratur. Kurang tidur membuat otak lebih sensitif terhadap tekanan sehingga seseorang lebih mudah merasa khawatir, gugup, maupun sulit mengendalikan pikiran negatif.
Sementara itu, penelitian Rahmani, Rahmani, dan Rezaei (2020) dalam Neurochemical Research menjelaskan bahwa kurang tidur kronis berkaitan dengan perubahan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yaitu protein yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sel saraf. Penurunan kadar BDNF diduga meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi dan gangguan suasana hati.
Emosi Menjadi Lebih Sulit Dikendalikan
Kurang tidur juga memengaruhi bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian emosi, terutama korteks prefrontal. Ketika area tersebut tidak bekerja secara optimal, seseorang menjadi lebih mudah marah, tersinggung, impulsif, maupun kesulitan mengendalikan respons emosional.
Penjelasan tersebut sejalan dengan kajian Killgore, Weiner, dan Schwab (2013) dalam Encyclopedia of Sleep, yang menyebutkan bahwa kurang tidur menyebabkan perubahan dalam regulasi emosi sehingga seseorang lebih rentan mengalami perubahan suasana hati secara drastis.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut dapat memengaruhi hubungan dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja. Konflik interpersonal pun lebih mudah terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan akibat kurang tidur secara terus-menerus.
Menurunkan Produktivitas dan Motivasi
Dampak kurang tidur terhadap kesehatan mental juga terlihat dari menurunnya motivasi dan produktivitas.
Penelitian Campbell dkk. (2018) yang diterbitkan dalam Mindfulness menemukan bahwa kurang tidur sebagian (partial sleep deprivation) menurunkan kemampuan seseorang untuk tetap fokus, sadar terhadap kondisi dirinya, serta memenuhi kebutuhan psikologis dasar yang berhubungan dengan kesejahteraan mental.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit berkonsentrasi saat belajar maupun bekerja, mudah kehilangan semangat, serta merasa aktivitas sehari-hari menjadi lebih berat dibandingkan biasanya.
Kelompok Usia Muda Lebih Rentan
Remaja dan dewasa muda termasuk kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis akibat kurang tidur.
Perubahan hormonal, tuntutan akademik, penggunaan gawai hingga larut malam, serta aktivitas media sosial membuat kelompok usia ini lebih sering mengalami kekurangan tidur. Padahal, masa remaja merupakan periode penting bagi perkembangan otak dan pengendalian emosi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola tidur yang buruk pada usia remaja berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, penurunan prestasi belajar, hingga munculnya perilaku berisiko.
Pekerja Shift dan Profesi Berisiko Tinggi
Selain remaja, pekerja dengan sistem kerja bergilir atau shift juga menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat kurang tidur.
Penelitian Wolkow dkk. (2019) dalam Journal of Sleep Research menemukan bahwa gangguan tidur pada petugas pemadam kebakaran berkaitan dengan meningkatnya kelelahan emosional (burnout) serta memburuknya kondisi kesehatan mental. Temuan serupa juga dilaporkan pada tenaga kesehatan yang bekerja pada malam hari, karena pola tidur yang tidak teratur memengaruhi keseimbangan biologis tubuh.
Menjaga Tidur sebagai Bagian dari Kesehatan Mental
Para ahli menilai bahwa menjaga kualitas tidur perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Tidur yang cukup membantu otak mengatur emosi, meningkatkan kemampuan berpikir, memperkuat daya tahan terhadap stres, serta menjaga keseimbangan berbagai hormon yang berpengaruh terhadap suasana hati.
Menerapkan jadwal tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur, membatasi konsumsi kafein pada malam hari, serta mengelola stres melalui aktivitas relaksasi merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidur bukan hanya kebutuhan untuk menghilangkan rasa lelah, tetapi juga merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental. Menjaga pola tidur yang baik dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk mengurangi risiko berbagai gangguan psikologis sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
☕ Dukung ASHA Publishing
Jika artikel ini bermanfaat, Anda dapat mendukung operasional redaksi dan publikasi kami.
Referensi
- St. Louis, E.K. (2011). Health Consequences of Sleep Deprivation: Neurocognitive and Psychiatric Disorders. Sleep & Safety.
- Boland, C., Gallagher, P., & Clarke, M. (2022). Sleep Disturbance: A Potential Target to Improve Symptoms and Quality of Life in Those Living with Psychosis. Irish Journal of Psychological Medicine.
- Fayad, P., dkk. (2021). Sleepy and Anxious: Sleep and State/Trait Anxiety and Anxiety Disorders in Adolescents and Young Adults. Undergraduate Research in Natural and Clinical Sciences and Technology Journal.
- Rahmani, M., Rahmani, F., & Rezaei, N. (2020). The Brain-Derived Neurotrophic Factor: Missing Link Between Sleep Deprivation, Insomnia, and Depression. Neurochemical Research.
- Campbell, R., dkk. (2018). Impact of Partial Sleep Deprivation on Psychological Functioning. Mindfulness.
- Killgore, W.D.S., Weiner, M.R., & Schwab, Z.J. (2013). Personality and Psychopathic Changes. Encyclopedia of Sleep.
- Wolkow, A.P., dkk. (2019). Associations Between Sleep Disturbances, Mental Health Outcomes and Burnout in Firefighters. Journal of Sleep Research.
